Tentara Rezim Al-Asad Meminta pada Tentara Pembebasan Suriah Melakukan Genjatan Senjata Guna Untuk Menarik Diri Dari Aleppo

SURIAH [an-najah.net] – Tentara Rezim Bashar Al-Asad meminta tentara pembebasan Suriah untuk melakukan genjatan senjata, ini dilakukan supaya mereka bisa menarik diri dari daerah Sulaiman Al-Halabi di kota Aleppo

Dalam permintaannya, tentara Basar Al-Asad menggunakan penggeras suara yang ditujukan kepada tentara pembebasan yang berada di wilayah itu, hal tersebut dilakukan sambil menunggu penarikan tentaranya dari jalan-jalan kota Aleppo. Adaupun tentara pembebasan Suriah, sampai saat ini, tidak mengumumkan kesetujuannya atas permintaan tersebut.

Abu Zuhari, salah satu anggota tentara pembebasan di daerah tersebut mengatakan, “Rencana ini (penarikan tentara Asad) tidak di sertai dengan perjanjian dan jaminan, Mereka hanyalah ingin membuyarkan konsentrasi kita, bukan untuk menarik diri, yang kemudian mereka akan maju ketempat yang lebih dekat dengan basis tentara pembebasan”

Hal ini terjadi setalah pertempuran panjang yang berlangsung berjam-jam antara tentara pembebasan Suriah dan tentara Bashar Al-Asad, dari tentara Bashar menderita banyak korban dan mayat-mayat anggotanya berserakan di jalan-jalan di wilayah yang menguhungkan antara Sulaiman al Halaby dan al-shakhur.

Disamping pencapain tentara pembebasan, para pejuang suku Kurdi juga berhasil membebaskan dua kota, yaitu Derbassiyah dan Tel Tamr, dari penguasaan rezim Bashar Al-Asad, mereka juga berhasil menguasai daerah perbatasan dengan Turki di Darbasiyyah.

Dalam tempat lain, Kekuatan Perkumpulan Oposisi Suriah mencapai satu kesepakat awal di Duha, pada minggu pagi (11/11), dengan mengusung nama “Koalisi Nasional Suriah untuk Kekuatan Oposisi dan Revolusi””

Riad Seif mengatakan, Prakarsa ini terjadi karena adanya dukungan dari Washington untuk membentuk badan persatuan oposisi yang diberi nama “Badan Inisiatif Nasional Suriah” Dewan Nasional yang merupakan pemeran kesatuan terpenting, mengatakan “Kami berada di ambang penandatanganan, tapi kami lebih suka mempelajari undang-undang baru yang akan menyatukan seluruh oposisi berdasarkan permintaan beberapa pihak”

Seif juga mengatakan bahwa “penandatanganan perjanjian akan dilakukan pada hari Minggu (11/11), dalam upacara yang akan dihadiri oleh Emir Qatar Sheikh Hamad Bin Khalifa Al-Thani, dan tamu lainnya.” [hunef]