Manuver Politik, Antara Islam dan Politik Barat (Bag. I)

Publikasi: Sabtu, 12 Rabiul Akhir 1434 H / 23 Februari 2013 19:00

Politik Islam(An-najah) – Dalam konteks Daulah Islamiyah, manuver politik (al-munâwarât as-siyâsiyah) adalah tindakan yang dilakukan oleh Negara (Daulah) demi meraih tujuan tertentu yang berbeda dengan tujuan yang ditampakkan secara kasat mata oleh tindakan yang dimaksud. Dengan kata lain, manuver politik dilakukan demi merahasiakan tujuan yang sebenarnya. Contohnya adalah ketika Daulah Islamiyah menggerakkan sebagian pasukan militernya ke arah tertentu padahal yang dibidik sebetulnya adalah arah yang lain.

Tulisan ini sekadar ingin mengupas lebih jauh manuver politik yang dimaksud, yang secara singkat dimuat dalam buku, Muqaddimah ad-Dustûr, pasal 173, halaman 432-434, yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir tahun 1963. Ihwal manuver politik ini juga disinggung secara implisit dan serba sedikit dalam beberapa kitab lain seperti Mafâhîm Siyâsiyah li Hizb at-Tahrîr, karya Taqiyuddin an-Nabhani, yang juga dikeluarkan Hizbut Tahrir, tahun 1969; juga pada buku As-Siyâsah wa Siyâsah Duwaliyah, karya Dr. Samih ‘Athif Azzein, yang diterbitkan asy-syirkah al-‘Alamiyyah li al-Kitâb tahun 1987.

Meskipun dalam kitab Muqaddimah ad-Dustûr sendiri pembahasan manuver politik lebih dalam konteks Daulah Islamiyah, tulisan ini akan memperluas bahasannya pada manuver politik negara-negara Barat kapitalis, khususnya Amerika, yang disinggung secara implisit dan serba sedikit dalam beberapa kitab yang disebutkan di atas. Manuver politik Barat kapitalis, khususnya AS, tentu saja perlu diketahui segera. Sebab, manuver politik mereka, di samping merupakan sesuatu yang real dihadapi saat ini, juga sangat berbahaya bagi kaum Muslim dan negeri-negeri Islam.

 
Manuver Politik Daulah Islamiyah
Dalam konteks Daulah Islamiyah, manuver politik yang dilakukan Negara (Daulah) adalah terbatas dalam tindakan, tidak dalam hal-hal yang bersifat prinsipil atau berupa pemikiran. Dalam kitab Muqaddimah ad-Dustûr disebutkan bahwa manuver politik (al-munâwarât as-siyâsiyah) adalah sangat urgen dalam politik luar negeri Daulah Islamiyah. Kekuatannya terletak pada kemampuan Negara (Daulah) memperlihatkan tindakan tertentu tetapi dengan merahasiakan tujuannya.

Pada masa lalu, sebagai kepala negara, Rasulullah saw. juga pernah melakukan sejumlah manuver politik. Di antaranya adalah pembentukan  pasukan sarâyâ yang dilakukan beliau pada masa-masa akhir tahun pertama hijrah dan masa-masa awal tahun kedua hijrah. Saat itu, yang menonjol dalam pembentukan pasukan tersebut adalah keinginan Rasulullah saw. untuk memerangi orang-orang Qurays. Padahal, pada hakikatnya, hal itu dilakukan oleh Rasul sekadar untuk melakukan teror terhadap mereka, serta agar sejumlah kabilah Arab lain (non-Qurays) bersikap netral dalam perseteruan  yang berlangsung antara Rasul/kaum Muslim dan orang-orang Qurays.

Buktinya, saat itu Rasul hanya mengerahkan jumlah pasukan yang sangat sedikit, sekitar 60-300 pasukan; jumlah yang tidak memadai untuk memerangi orang-orang Qurays. Di samping berhasil meneror orang-orang Qurays, manuver tersebut juga menghasilkan perjanjian dengan sejumlah kabilah Arab, seperti dengan aliansi Bani Dhamrah dan Bani Mudalij.

Di antara manuver politik lain yang dilakukan Rasulullah adalah perginya beliau ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji meskipun saat itu masih dalam kondisi perang antara beliau dan orang-orang Qurays, sementara Makkah sendiri masih berada di bawah kekuasaan mereka. Maksud dari perjalan Rasulullah ini sebetulnya adalah untuk melakukan gencatan senjata dengan pihak Qurays dalam rangka memukul orang-orang Khaibar. Sebab, Rasul tahu bahwa telah terjadi semacam negosiasi antara Qurays dan Khaibar untuk memerangi Madinah. Bukti bahwa hal itu sekadar merupakan manuver politik Rasul adalah kesediaan beliau untuk kembali (tidak sampai menunaikan ibadah haji), setelah tercapai gencatan senjata dengan pihak Qurays. Dua minggu kemudian, setelah  Rasul kembali ke Madinah, beliau segera melancarkan serangan kepada orang-orang Khaibar sekaligus menaklukan mereka.

Manuver Politik Barat
Manuver politik Daulah Islamiyah, sebagaimana yang dipraktikkan oleh Rasulullah saw. di atas, ternyata berbeda dengan manuver politik negara-negara Barat kapitalis, khususnya Amerika. Jika Daulah Islam melakukan manuver politik hanya dalam level aksi/tindakan, maka negara-negara Barat kapitalis dengan AS sebagai gembongnya melakukan manuver politik  dalam semua level. Sebab, bagi mereka, manuver politik sudah merupakan metode baku (tharîqah) untuk melakukan tipudaya, memanipulasi kebenaran, sekaligus mengisap dan menjajah bangsa-bangsa serta mengeksploitasi kekayaan mereka. Prinsip mereka yang terkenal, yakni, “menghalalkan segala cara demi meraih tujuan,” menjadi dasar bagi setiap manuver politik yang mereka lakukan.

Negara-negara Barat kapitalis, dengan AS sebagai gembongnya, pada dasarnya biasa melakukan manuver politik dalam seluruh aspek: pemikiran, tindakan, maupun sarana; baik dalam hal-hal yang prinsipil maupun yang bukan; baik dalam hal-hal yang bersifat politik maupun bukan. Semua itu didasarkan pada alasan adanya perkembangan dan perubahan situasi dan kondisi politik ataupun yang lainnya, selain tentu saja didasarkan pada “tujuan menghalalkan segala cara”. Tujuannya adalah dalam rangka melakukan penyesatan serta manipulasi pemikiran dan politik; juga dalam rangka melakukan eksploitasi atas bangsa-bangsa yang ada demi memenuhi berbagai kepentingan mereka.

Dalam level pemikiran, AS melakukan manuver politik secara real dan praktis di seputar gagasan tentang demokrasi, kebebasan, egalitarianisme (persamaan), sekularisme, dan seluruh pemikirannya yang kapitalistik; juga dalam sejumlah pemikiran tentang HAM, terorisme, oposisi, pluralisme, dialog antaragama dan antar peradaban, kemerdekaan, tata dunia baru, PBB, serta seluruh pemikiran strategisnya—yakni menyangkut berbagai tindakan dan sarana yang berkaitan erat dengan berbagai pemikiran kapitalistiknya.

Secara konseptual/teoretis, pemikiran-pemikiran kapitalisme di atas memang memiliki maksud, makna, dan tujuan tertentu (yang dikesankan mulia). Akan tetapi, dalam tataran praktis, ideologi kapitalisme menghalalkan adanya penyimpangan terhadap pemikiran-pemikirannya. Gagasan demokrasi, misalnya, secara teoretis menempatkan rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi dalam negara. Akan tetapi, secara praktis, di AS dan Inggris sendiri (yang notabene negara demokrasi garda depan), yang berdaulat sesungguhnya adalah kaum kapitalis. Penyimpangan pemikiran semacam ini memang diperlukan demi mengeksploitasi bangsa-bangsa mereka  semata-mata demi kepentingan kaum kapitalis.

 Karena itu, meskipun secara teoretis AS, misalnya, sering berteriak dan berkoar-koar tentang demokrasi, HAM, kemerdekaan, dsb, tetapi secara praktis, AS sering melakukan sejumlah tindakan yang justru antidemokrasi, melanggar HAM, dan tidak jarang sangat otoriter. Serangan AS atas Afganistan dan Irak adalah contoh paling mutakhir dari tindakan AS yang menyalahi gagasan demokrasi dan HAM yang diembannya. AS juga sering melakukan berbagai tekanan, perampasan, penguasaan secara paksa, menyalakan api permusuhan, menciptakan berbagai krisis, serta membuat berbagai perangkap—yang semua itu dibungkus dengan berbagai pemikirannya yang destruktif (merusak), baik secara konseptual maupun praktis.

Karena itu, kapitalisme dan seluruh bangunan pemikirannya pada dasarnya merupakan pemikiran yang dapat membunuh manusia, karena mereka—dalam hal ini para kapitalis dan bangsa Amerika—melegalkan hegemoni dan dominasi atas bangsa-bangsa di dunia. Dengan itu, para kapitalis menumpahkan darah bangsa-bangsa yang ada di dunia, memanfaatkan kelemahan mereka, serta mengeksloitasi potensi dan kekayaan mereka sehingga bangsa-bangsa tersebut dijadikan oleh mereka semacam budak.

Para elit penguasa AS pada dasarnya tidak lebih merupakan alat para kapitalis yang jahat ini. Karena itu, wajar jika setiap perkara selalu menjadi bahan eksploitasi dan manuver bagi para kapitalis. Karena itu pula, tidak aneh jika mereka pun mengeskploitasi PBB dan lembaga-lembaga yang ada di bawahnya serta melakukan manuver dalam berbagai pemikiran, tindakan, dan sarana yang ada. Mereka juga mengeksploitasi berbagai lembaga regional (seperti ASEAN) maupun transnasional demi merealisasikan berbagai kepentingan kaum kapitalis yang tidak pernah mengenal rasa puas ataupun merasa cukup.

Mereka, misalnya, tak segan-segan menghancurkan dan melenyapkan barang-barang dagangan dalam jumlah sangat besar hanya sekadar untuk menjaga stabilitas harganya di pasar semata-mata demi kepentingan egoistik mereka; meskipun kebanyakan manusia masih ada yang miskin,  serba kekurangan, bahkan kelaparan dan tentu saja membutuhkan barang-barang tersebut. Mereka juga banyak menjerumuskan berbagai bangsa di dunia ke dalam kancah perang, pertikaian, dan berbagai bencana semata-mata demi memenuhi nafsu imperialistik dan hegemoniknya atas bangsa-bangsa tersebut. Karena itu, sangat tidak aneh jika kita melihat berbagai pemikiran dan tindakan ‘setan’ yang mereka lakukan. Sebab, mereka memang tidak berbeda dengan iblis dalam hal melakukan manipulasi, pengkaburan, makar, tindakan busuk, dan berbagai penyesatan lainnya.

Untuk melepaskan diri dari bahaya tindakan kaum kapitalis ini dan mengalahkan mereka hanya mungkin dilakukan dengan cara bersikap istiqamah. Karena itu, upaya menentang berbagai tindakan busuk dan sarana kaum kapitalis ini—dalam medan politik—tidak cukup dengan cara mengalahkan mereka, membangkitkan perlawanan, dan memerdekaan diri pada diri setiap bangsa dari setiap hegemoni,  imperialisme, dan perang yang mereka kobarkan; tidak juga cukup dengan menghancurkan kekuatan mereka. Sebab, pada faktanya,  kaum kapitalis hanyalah salah satu buah dari pemikiran kapitalisme yang rusak dan busuk.

Karena itu, upaya melawannya harus dimulai dari akar hingga rantingnya, yakni memberangus ideologi kapitalisme itu sendiri serta para pengembannya yang berusaha menyebarluaskan ideologi tersebut melalui jalan imperialisme dan hegemoni atas bangsa-bangsa lain. Artinya, ideologi kapitalisme, baik secara pemikiran maupun secara praktis, harus dikubur dalam-dalam dan harus dilenyapkan segala pengaruhnya sehingga tidak pernah akan kembali lagi. bersambung ke bagian2

comments powered by Disqus