Derita Bagi Orang-orang yang Sombong

Publikasi: Jum'at, 17 Rabiul Awwal 1433 H / 10 Februari 2012 07:55

Sombong adalah penyakit yang sangat berbahaya bagi seseorang. Sedikit diantara manusia yang selamat darinya. Lebih parah lagi bahwa, orang-orang yang memiliki sifat sombong ini tidak sadar dengan penyakit mereka. Banyak orang yang mengira bahwa sombong hanya akan terjadi pada orang yang pakaiannya indah, kendaraannya mewah, rumah yang megah serta makanannya yang serba mahal. Atau ada yang beranggapan bahwa sombong itu hanya terjadi pada orang-orang kaya saja, sedangkan orang yang miskin tidak akan terjangkiti sifat sombong ini. Padahal bisa jadi orang yang sangat miskin, hidup dengan penuh kerendahan dan kemelaratan, akan tetapi ia menjadi pentolan orang-orang yang sombong.

Sombong inilah yang telah mengeluarkan iblis dari jannah. Karena enggannya iblis untuk sujud kepada nabi adam dan merasa lebih baik karena diciptakan dari api sedangkan nabi adam diciptakan dari tanah. Padahal Allah Ta’ala tidak pernah mengatakan bahwa api itu lebih baik daripada tanah. Oleh karena itulah iblis terkutuk hingga hari kiamat sedangkan ia termasuk hamba Allah yang kafir. Dari sinilah penting bagi kita untuk mendalami permasalahan ini, agar kita tidak termasuk diantara orang-orang yang sombong.

Kaum muslimin sidang Jum’at yang berbahagia…

Apa itu sombong ?

Sombong adalah sebuah keadaan dimana seseorang merasa ta’ajub dengan dirinya sendiri. Sehingga ia melihat dirinya lebih mulia dibanding yang lain. Yang lebih parah dari itu adalah sombongnya ia kepada penciptanya dengan menolak kebenaran dan tunduk terhadapnya dengan pentauhidan dan ketaatan. [ Muhammad Ibnu Abdil Wahab, al Kabair bab al kibr ].

Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah sallallahu alihi wasallam ;

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ». قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ « إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu)

Syaikh Abdurrahman as Sa’di berkata : Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Lawan dari itu adalah tawadhu’ yang Islam telah memerintahkannya serta memberi pahala bagi pelakunya dan Allah telah sebutkan pahalanya. Yaitu menerima kebenaran dari siapapun yang mengatakannya, dan janganlah meremehkan seseorang, akan tetapi hendaklah ia melihat kelebihan seaudaranya serta mencintainya sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri. [ Tafsir beliau pada ayat tersebut ].

Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa kesombongan tidak terjadi hanya pada orang-orang yang kaya saja. Akan tetapi bisa terjadi pada orang yang miskin jika ia bersikap sombong kepada Allah Ta’ala dengan menolak kebenaran yang datang padanya, atau sombong kepada mansuia dengan merendahkan dan menganggap remeh saudaranya.

Ma’asyirol muslimin sidang shalat jum’ah yang rahmati Allah Ta’ala

Macam-macam kesombongan

Sifat sombong ini ada yang bisa mengeluarkan dari keislaman dan merusak keislaman seseorang. Dan juga ada kesombongan yang tidak termasuk dari kekufuran tetapi masuk dalam deretan dosa-dosa besar yang diancam dengan neraka.

Pertama : Sifat sombong yang bisa menjadikan pelakunya kafir dan keluar dari islam. Yaitu jika terjadi kesombongan yang menjadikan ia menolak kebenaran. Atau juga meremehkan serta menghina orang-orang yang menegakkan kebenaran dan berbagai syari’at islam.

Disaat para wanita muslimah berusaha menutup auratnya dengan jilbab ia ejek dengan wanita kampungan, norak serta tidak mengikuti perkembangan zaman. Tidak hanya itu, ia berusaha untuk membenci dan mengajak manusia untuk membenci pakaian muslimah tersebut, maka ia telah terjerumus pada kekafiran. Karena berpakaian muslimah adalah kewajiban sebagai seorang wanita muslimah, sedangkan menolak karena sombong adalah kekufuran.

Allah Ta’ala berfriman tentang hal ini ;

4 بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ

(Bukan demikian) Sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu Termasuk orang-orang yang kafir”. [ Az Zumar : 59 ].

Kedua : kesombongan yang tidak menjadikan pelakunya kafir. Yaitu kesombongan yang membawa pelakunya untuk menolak kebenaran pada urusan-urusan kehidupan duniawinya. Dan penolakan ini tidak terkait langsung dengan penghalalan dan pengharaman serta hal-hal lainnya yang terkait dengan hukum. Hal ini seperti seseorang yang meremahkan orang lain karena ia melihat dirinya memiliki kelebihan dibandingkan orang yang ia remehkan.

Memang jenis kesombongan ini tidak menyebabkan pelakunya pada kekufuran, tetapi ia adalah akhlaq yang sangat hina dan sangat berbahaya bagi pelakunya. Dan ia sangat tipis sekali perbedaannya dengan kesombongan yang dapat mengeluarkan seseorang dari keislaman. Hal ini sebagaimana hadist Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ;

عَنْ سَلَمَةَ بنُ الْأَكْوَع رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ

Dari Salamah bin Akwa’ –radhiyallahu anhu-, beliau berkata: bahwa seorang laki-laki sedang makan di hadapan Rasulullah dengan tangan kiri, maka Rasulullah bersabda: makanlah dengan tangan kananmu!!, maka laki-laki itu menjawab: saya tidak bisa. Maka beliau bersabda: kamu tidak akan bisa, sesungguhnya dia menolak perintahku karena kesombongannya. Salamah bin Akwa’ berkata: maka dia tidak bisa mengangkat tangannya untuk melanjutkan makannya. [ HR. Muslim ].

Contoh lain yang senada dengan hal tersebut adalah ketika anda meminta saudara anda yang berdekatan ketika shalat untuk merapatkan dan meluruskan shaf. Kemudian ia tidak mau dan enggan karena meremehkan anda. Atau juga banyak diantara kaum muslimin yang tidak senang terhadap sebagian sunnah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam karena kebodohan mereka. Tidak senang untuk memelihara jenggot, mengangkat celanya di atas mata kaki, ataupun sunnah-sunnah yang lainnya. Jika kita tanyakan kepada mereka, pasti jawabannya tidak ada lain ” kenapa kita disibukkan pada perkara yang kecil, sementara masih ada perkara besar yang harus diselesaikan. Kok sepertinya syari’at islam itu hanya mengatur masalah tampilan saja“.

Untuk saudara-saudara kita yang demikian ini, perlu kita arahkan bahwa kita tidaklah mengajari dan menjadi ustadz untuk mereka. Tetapi hanya ingin untuk bersama-sama mengajak pada kebaikan dengan melaksanakan syari’at islam yang hari ini kita mampui. Kalau kita memiliki keinginan untuk menerapkan islam, kenapa tidak kita mulai dari yang kita mampui. Karena yang dimintai pertanggung jawaban adalah sesuatu yang kita mampu untuk melakukannya sementara kita tinggalkan, sedangkan yang belum kita mampui untuk melaksanakan, insyaAllah akan diampuni.

Jenis kesombongan yang kedua ini tidak menjadikan seseorang keluar dari islam, tetapi tetap dianggap perbuatan dosa besar yang pelakunya diancam dengan neraka.

Ma’asyirol muslimin sidang shalat jum’ah yang rahmati Allah Ta’ala

Akibat kesombongan

Sedangkan akibat kesombongan akan dirasakan pelakunya di dunia dan di akhirat. Di dunia, kesombongannya akan menghalanginya untuk menerima petunjuk. Jadilah ia hidup dalam kegelapan dan kesesatan serta kebodohan sehingga kehidupannyapun diliputi kesempitan di atas kesempitan.

Allah Ta’ala berfirman ;

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. [ QS. Al A'raf : 146 ].

Sufyan bin ‘Uyainah berkata : Aku [Allah] cabut dari mereka pemahaman terhadap qur’an dan Aku palingkan mereka dari ayat-ayat-Ku. [ Tafsir Ibnu Katsir pada ayat tersebut ].

Dari ayat dan tafsir tersebut jelaslah bahwa orang-orang yang sombong, akan Allah Ta’ala jauhkan mereka untuk memahami ayat-ayat kauniyah ataupun qur’aniyah. Sehingga mereka tidak melihat yang benar itu benar dan yang batil itu adalah batil. Tetapi sebaliknya, melihat yang batil menjadi sebuah kebenaran, sedangkan kebenaran menjadi sebuah kebatilan.

Sedangkan akibat yang akan dirasakan oleh orang yang sombong di akhirat adalah neraka. Dan neraka adalah tempat kembali yang paling buruk. Allah Ta’ala berfirman :

فَادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَلَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka Amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. [ QS. An Nahl : 29 ].

Kita berlindung pada Allah dari sifat sombong. Kita juga berlindung untuk tidak dimasukkan kedalam hamba-hamba-Nya yang sombong, karena memang tidak ada keuntungan bagi orang-orang yang sombong kecuali kehinaan di dunia dan di akhirat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

[ Amru ].