Orang-Orang Yang Merugi

Publikasi: Sabtu, 11 Syawwal 1432 H / 10 September 2011 03:28

Sesuatu itu dianggap berharga jika ia memiliki nilai yang besar pada manusia. Dan jika nilai tersebut hilang pada manusia, maka ia akan merasa sedih dan rugi. Semakin seseorang menganggap apa yang ia miliki tersebut berharga, maka semakin sedih dan rugi saat yang ia anggap berharga itu hilang darinya.

Memang sesuatu yang merugikan kita dalah sesuatu yang tidak mengenakkan. Bahkan bisa menjadikan kita sedih dan gundah gulana. Tidak sedikit diantara manusia yang imannya tipis harus berputus asa karena kerugian yang telah menimpanya.

Hari ini banyak orang yang merasa rugi saat harta yang ia miliki lepas darinya. Atau merasa gundah gulana dan sedih saat orang yang ia cintai hilang dari sisi mereka. Atau juga ada yang merasa benar-benar merugi saat jabatan yang ia usahakan dan diimpikan hilang darinya.

Al qur’an telah memberikan obat dari berbagai kerugian yang dialami seseorang. Lewat al qur’an, Allah Ta’ala menjelaskan pada kita berbagai kerugian yang dialami manusia serta cara menjauhinya.

Sedangkan kerugian yang paling besar adalah saat kerugian tersebut menimpa agamanya. Saat seseorang terjerembab pada perbuatan dosa dan maksiat. Dan saat ibadah kepada Allah terasa hambar dan merasakan kelezatan sama sekali. Kerugian ini adalah kerugian yang paling buruk, karena baik dan buruk din seseorang sangat mempengaruhi kehidupan seseorang dunia dan akhirat.

Jama’ah jum’ah yang dimulyakan Allah Ta’ala

Diantara sebab kerugian seseorang pada kehidupan akhiratnya antara lain :

Pertama : Ta’at kepada syaitan. Ini adalah pangkal kerugian dan kebangrutan pada kehidupan seseorang. Allah Ta’ala berfirman ;

وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ الله فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا

Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, Maka Sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. [ QS. An Nisa’ : 119 ].

Imam As Sa’di berkata : Kerugian mana yang lebih besar dibandingkan orang yang rugi dinnya dan dunianya karena dibinasakan oleh kemaksiatannya dan kesalahan-kesalahannya ?. kemudian ia mendapatkan kesengsaraan yang abadi dan hilanglah darinya kesenangan yang abadi. [ Tafsir as sa’di pada ayat tersebut ].

Setan selalu mengajak untuk mendustakan hari akhir, mengajak untuk mendustakan al qur’an dan kebenaran. Setan juga mengajak manusia untuk bersenang-senang terhadap kehidupan dunia dan lalai terhadap akhirat. Tidak hanya itu, setan mengkader para walinya untuk menjadi penyeru-penyeru kebatilan dan para penolong musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya.

Jika kita tanyakan kepada kaum muslimin apakah setan menjadi musuh kita atau teman kita ?. Pasti mereka menjawab setan adalah musuh kami. Tetapi kanapa mereka masih senang terhadap setan dan mengikuti langkah-langkahnya ?. mungkin karena kebodohan mereka atau nafsu mereka yang lebih kuat untuk mengikuti setan.

Sebab yang kedua : Mengikuti teman yang buruk. Seseorang itu tidaklah jauh dari teman dekatnya. Jika ia memilih temandekat yang baik, maka kebaikan akan menular pada dirinya. Sebaliknya, jika ia memilih teman dekat yang buruk, ia pasti akan tertular keburukannya. Allah Ta’ala berfirman :

وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاءَ فَزَيَّنُوا لَهُمْ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَحَقَّ عَلَيْهِمُ القَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الجِنِّ وَالإِنْسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ

Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jinn dan manusia, Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. [ QS. Fusshilat : 25 ].

Yang dimaksud dengan yang ada di hadapan ialah nafsu dan kelezatan di dunia yang sedang dicapai, sedang yang dimaksud dengan di belakang mereka ialah angan-angan dan cita-cita yang tidak dapat dicapai.

Sedangkan ta’at kepada orang-orang yang rugi adalah kerugian yang besar. Maka lihatlah, betapa banyak kaum muslimin hari ini yang mentaati orang-orang kafir dan munafikin. Padahal mereka yakin bahwa orang-orang kafir dan munafikin adalah orang-orang yang rugi. Allah Ta’ala telah memperingatkan kita semua dalam ayat-Nya ;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. [ QS. Ali ‘Imran : 149 ].

Maka tidak ada jalan lain jika kita ingin menjuhi kerugian untuk menjauhi teman-teman yang buruk dan bahkan memusuhi mereka jika mereka memusuhi Allah dan rasul-Nya sallallahu alaihi wasallam.

Sebab kerugian yang ketiga : Tersibukkan dengan harta dan juga anak sehingga lupa terhadap berbagai kewajiban yang harus ia tunaikan. Allah Ta’ala berfirman tentang hal ini dalam al qur’an ;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ الله وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الخَاسِرُونَ

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi. [ QS. Al Munafiqun : 9 ].

Pada ayat tersebut Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hambanya yang beriman untuk memperbanyak mengingat-Nya. Karena hal tersebut adalah keberuntungan dan kemenangan serta kebaikan yang banyak. Ia juga melarang kita untuk tidak menyibukkan dengan harta dan anak sehingga melalaikan dari dzikrullah. Sedangkan mencintai harta dan anak adalah fitrah setiap orang, akan tetapi jika lebih mengutamakannya dibandingkan kecintaan pada Allah akan mengakibatkan kerugian yang besar. [ Tafsir Ibnu katsir pada ayat tersebut ].

Memang harta dan anak adalah sesuatu yang indah. Tetapi janganlah kecintaan kepada keduanya melalaikan kita dari ibadah. Karena memang Allah menguji setiap hamba dengan harta dan anak tersebut. Bagi orang lulus dalam ujian tersebut Allah berikan balasan jannah, sedangkan yang tidak lulus bagi mereka kerugian yang besar.

Sebab kerugian yang ke empat : Meremehkan shalat wajib lima waktu. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadistnya ;

أن أَوَّلَ ما يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يوم الْقِيَامَةِ من عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dengannya seorang hamba pada hari kiamat pada amalnya adalah shalatnya. Maka jika baik, ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika rusak maka ia telah gagal dan rugi. [ HR. An Nasa’I dan At Turmudzi ].

Diantara bentuk peremehan shalat adalah tidak melaksanakan pada waktunya. Ia tunda-tunda shalat hingga hampir selesai waktu shalat. Atau juga mereka yang tidak tuma’ninah dalam shalat mereka. Tidak meluruskan punggung mereka saat rukuk dan sujud. Shalat dengan cepat seperti ayam yang mencotok. Dan bentuk lain dari meremehkan shalat bagi seorang laki-laki adalah tidak melaksanakan shalat lima waktu dengan berjama’ah di masjid.

Jama’ah jum’ah yang dimulyakan Allah Ta’ala

Kita berlindung pada Allah dari kehinaan dan kerugian, dan kita memohon pada Allah keikhlasan dalam setiap ucapan dan amalan kita serta di kuatkan di atas kebenaran hingga ajal menjemput.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

Khutbah kedua :

الحَمْدُ لِلَّهِ الصَلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ , وَ عَلَى أَلِهِ وَ صَحْبِهِ وَمَنْ وَالَهُ وَ بَعْدُ

Jama’ah jum’ah yang dimulyakan Allah Ta’ala

Bahwa para nabi ‘alaihimus salaam takut untuk menjadi orang-orang yang merugi. Mereka juga menjauhkan keluarga dan ummat dari kerugian-kerugian ini. Mereka memperingatkan ummat untuk menjauhi sebab-sebab kerugian tersebut, serta mengajak pada jalan kemenangan dan keberuntungan.

Mereka mengetahui bahwa kerugian karena dosa yang dilakukan anak adam pada kehidupan mereka akan membawa pada murka Allah Ta’ala. Contohlah pada nabi Adam ‘alaihis salam yang beristighfar karena takut akan mendapat kerugian disebabkan dosa yang beliau lakukan. Yaitu saat beliau memakan pohon khuldi, beliau berdo’a ;

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الخَاسِرِينَ

“Ya Tuhan Kami, Kami telah Menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya pastilah Kami Termasuk orang-orang yang merugi. [ QS. Al ‘Araf : 23 ].

Jika diri kita, keluarga dan juga masyarakat kita ingin mendapatkan ridho Allah, maka wajib bagi kita untuk meninggalkan berbagai hal yang menyebabkan kerugian tersebut. Tidak hanya itu, kita juga harus berusaha untuk selalu beristighfar dan bertaubat atas segala dosa yang telah kita perbuat.

Tidak lupa senantiasa memohon pada Allah Ta’ala untuk dikuatkan dalam keimanan dan hidayah. Karena memang Allah ciptakan manusia dalam keadaan dholuman jahula [ sangat dholim dan bodoh, kecuali yang Allah beri petunjuk.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita, orang tua kita, dan keturunan kita diantara orang-orang yang beruntung. Dan semoga Allah Ta’ala menguatkan kita diatas kebenaran ini hingga ruh kita dipanggil. Amin ya robbal ‘alaminnn. [ Amru ].

comments powered by Disqus