10 Ciri Aliran Sesat Menurut MUI, Semuanya Ada Pada Ajaran Syiah

Publikasi: Senin, 30 Rabiul Awwal 1434 H / 11 Februari 2013 21:21

Ustadz Anung Al-Hamat (Dok: An-Najah)

Ustadz Anung Al-Hamat (Dok: An-Najah)

JAKARTA (an-najah) – Hari Ahad, (10/11) RISBAK (Remaja Islam Baitul Karim) bekerjasama dengan FIPS (Front Indonesia Peduli Suriah) mengadakan acara Tabligh Akbar di Masjid Baitul Karim, Kebon Kacang, Jakarta Pusat. Tabligh Akbar yang mengambil tema “Konflik Suriah: Pertarungan Ideologi antara Sunnah dan Syiah” itu dihadiri oleh puluhan orang yang tampak antusias mengikuti acara tersebut.

Pada kesempatan tersebut, Ustadz Anung Al-Hamat Ketua Forum Studi Sekte-Sekte Islam menegaskan bahwa apa yang terjadi di Suriah sebaiknya jangan sampai terjadi di Indonesia. Ia menegaskan, “Syiah Nusairiyah yang minoritas di Suriah bisa menghabisi ribuan kaum muslimin disana, hal ini jangan sampai terjadi di indonesia” tegas beliau.

Pernyataan itu beliau sampaikan mengingat paham syiah sudah berkembang pesat di Indonesia. Namun sayangnya pihak-pihak terkait dan yang memiliki otoritas untuk menangani hal ini masih ragu-ragu dalam memberikan legitimasi dan fatwa kesesatan syiah sebagaimana yang telah disepakati oleh para ulama dari zaman tabiin.

Beliau yang saat ini sedang menempuh gelar doktoral menandaskan bahwa, LPPI Makassar pernah menjelaskan 10 ciri aliran sesat yang pernah dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan mayoritasnya melekat pada ajaran yang diyakini oleh kelompok syiah. Namun, Ustadz Anung mengatakan bahwa 10 ciri-ciri aliran sesat dalam Islam itu semuanya ada pada kelompok syiah. “10 poin ciri aliran sesat menurut MUI itu seluruhnya kena dengan syiah,” ujar beliau.

Diantara 10 poin yang diutarakan oleh MUI tentang ciri-ciri aliran sesat yatu,
Pertama, mengingkari salah satu rukun Iman dan rukun Islam. Dalam buku “40 Masalah Syiah”, sebuah buku yang ditulis oleh Renita AZ, istri Jalaludin Rahmat, menyatakan dengan jelas bahwa rukun iman org syiah itu berbeda dengan ahlu sunnah, rukun Iman orang syiah adalah tauhid, al-adl, al-ma’ad, imamah, dan nubuwwah. Begitu juga dengan rukun Islamnya. Dalam bukunya, Renita juga mengatakan rukun Islam orang syiah itu jumlahnya ada 13. Jika dirujuk langsung ke buku ulama syiah seperti dalam kitab Biharul Anwar jilid 11 pada halaman ke 542 karangan ulama syiah yaitu Al-Majlisi. Disitu disebutkan ada sebuah hadits yang bersumber dari Abu Said Al-Khudzri :”Manusia diperintahkan untuk melakukan 5 hal, tetapi justru manusia melakukan 4 hal, Mereka bertanya: Apa itu ya Abu Said? Shalat, zakat, haji dan puasa. Mereka bertanya lagi, “Satu hal yang ditinggalkan itu apa?” Yaitu hendaknya mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin. Maka, jika manusia meninggalkan hal ini, mereka telah kafir.” Konsep ini yang disebut oleh kelompok syiah dengan al-wilayah yaitu mencintai Ali bin Abi Thalib, membenci orang-orang yg dibenci Ali, mencintai orang-orang yang dicintai oleh para imam, dan mencintai apa yang dicintai dan membenci apa yang dibenci oleh kalangan syiah.

Maka, bagi kelompok syiah siapapun yang tidak mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin sesudah Rasulullah Saw. divonis kafir. Ustadz Anung menambahkan, “Jadi wajar kalo di Suriah, meskipun ada perbedaan antara syiah nusairiyah dengan syiah imamiyah/itsna asariyah tetapi pada prinsipnya sama, yaitu menjadikan orang-orang yang diluar syiah itu kafir,” ujar pakar bidang aqidah dan aliran sesat ini.

Kedua, meyakini atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil Al-Quran dan Sunnah. Kelompok syiah meyakini bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mengumpulkan Al-Quran kecuali para imam. Dalam kitab Ushulul Kaafi disebutkan, “Laa yajma’ul quraan illa imaam”. Tidak ada yang mampu mengumpulkan kecuali imam-imam syiah. Mereka juga mengatakan para imam itu mengetahui sesuatu yang ghaib. Aqidah mereka mengatakan kalau imam itu mengetahui sesuatu yang ghaib, jika dia tidak tahu dia bukan imam. Aqidah ini tidak bersumber kepada Al-Quran dan Sunnah, sehingga mereka temasuk dalam ciri kelompok sesat. Termasuk keyakinan kelompok syiah nusyairiyah yang mengatakan bahwa seluruh sahabat itu kafir dan Umar Bin Khattab ra. dikatakan sebagai “Ablasul Abaalis”, yaitu gembongnya iblis. Orang-orang Nusyairiyah itu berkeyakinan tidak ada haji, tidak ada shalat, tidak ada puasa, mereka menghalalkan khamr, menghalalkan zina, mereka mengharamkan ziyarah ke maqam Nabi Saw. hanya karena di kompleks makam Nabi Saw. ada makam Abubakar dan Umar radiyallahu ‘anhumaa.

Ketiga, meyakini turunnya wahyu setelah Al-Quran, mereka kelompok syiah mengatakan bahwa Al-Quran itu “Laa yazaalu yanzilu fii lailatul qadar”, Al-Quran (masih) senantiasa turun pada malam lailatul qadar. Sedangkan Ahlu sunnah wal jama’ah mengatakan Al-Quran itu sudah sempurna sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah Swt. Dalam QS Al-Maidah ayat 5. “Alquran sudah sempurna, Islam sudah sempurna,” jelas Ustadz Anung. Beliau melanjutkan dalam kitab ‘Bihaarul Anwar’ disebutkan bahwa Quran syiah itu adalah ‘mushaf fatimah’ yang jumlahnya 17.000 ayat dalam kitab itu dinyatakan, “jumlahnya 3 kali lipat dari mushaf kalian. Bahasanya tidak serupa dengan mushaf kalian.”

Yang keempat, mengingkari otentisitas dan kebenaran Al-Quran. Kalangan syiah meyakini Al-Quran sudah tidak otentik, mereka menghujat pengumpulan yang dilakukan oleh khalifah Utsman bin Affan ra. dan mengkritk bahwa Al-Quran yang ada pada saat ini sudah tidak asli. Ustadz Anung melanjutkan hal itu diakui oleh kelompok syiah seperti yang terdapat dalam buku yang ditulis oleh Omar Hashem yang berjudul ‘Syiah Dihujat, Syiah Dicari’.

Yang kelima, menafsirkan Al-Quran tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir, dalam jilid ke 13 kitab “Bihaarul Anwar” yang dikarang oleh Al-Majlisi, ketika menafsirkan ayat,

إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat jahil.” (QS. Al-Ahzab: 72)

Lafadz اْلإِنسَانُ yang berarti manusia, disitu ditafsirkan oleh orang syiah yaitu, Abu Bakar.
Lafadz “Ihdina shiratal mustaqim” ditafsirkan shiratal mustaqiim (jalan yang lurus) itu adalah Ali bin Abi Thalib, sehingga yang tidak mengikuti Ali bin abi thalib adalah golongan yang sesat dan bengkok.
Lafadz “Wa yaquulul kafiru yaa laiytani kuntu turooba” diganti oleh orang syiah menjadi “kuntu turoobiya”, hal ini mengacu kepada syiah adalah golongan Abu Turob. Abu turob ini adalah salah satu panggilan Nabi Saw. kepada Ali bin Abi Thalib karena pada suatu ketika Ali ra. pernah tidur di tanah kemudian Nabi saw membangunkannya dengan sebutan “Qum ya Aba Turob.” (Bangunlah wahai Abu Turob).

Keenam, mengingkari kedudukan hadits sebagai sumber ajaran islam, syiah menolak riwayat yang datang dari Aisyah dan Abu hurairah. Mereka menuduh Ummul mukminin Aisyah ra. sebagai pendusta dan hasad. Bahkan, Ustadz Anung menegaskan dalam buku ‘Antologi Islam’ yang ditulis oleh kalangan syiah, dikatakan bahwa Aisyah turut membunuh khalifah Utsman bin Affan. Dalam buku yang ditulis oleh Hasan bin Farhan Al-maliky yang di Indonesia diterjemahkan dengan judul “Pilih Islam Atau Mazhab?” buku itu menyatakan bahwa Muawiyah ra. bukan tergolong sahabat nabi. Ustadz Anung mengingatkan, “Jangan terjebak dengan kata malikinya padahal dia syiah,” ujar ustadz lulusan Al-Azhar Kairo, Mesir ini.“la adalah tokoh pencaci para sahabat seperti Abubakar, Umar dan Utsman, dan tokoh ini sering dijadikan rujukan oleh para tokoh syiah termasuk Husein Alatas,” tegas beliau.

Ketujuh, melecehkan dan mendustakan Nabi saw. Dalam hal ini kelompok syiah gemar sekali menyerang, menghina dan melecehkan istri Nabi Saw padahal menghina Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakr ra. sama dengan menghina Nabi Saw, Aisyah dikatakan sebagai pendosa, pezina, dsb. Ketika mereka menghina istri nabi, sahabat nabi secara tidak langsung berarti menghina Nabi Saw.

Kedelapan, mengingkari Nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terakhir. Sulaiman Nasir Al-Ulwan mengutip pernyataan salah seorang tokoh syiah rafidhah yaitu, Ni’matullah Aljazairi yang mengatakan, ”Barang siapa yang punya tuhan dan tuhannya mengakui Abu bakar sebagai khalifah sesudah wafatnya Nabi Muhammad Saw. Maka, tuhannya bukan tuhan kita. Dan barangsiapa yang memiliki nabi tetapi nabinya mengakui bahwa Abu bakar adalah khalifah sesudah Nabi Muhammad Saw. wafat, maka nabinya itu bukan nabi kita. “Konsep ketuhanan dan kenabian syiah beda dengan ahlu sunnah,” lanjut ustadz Anung.

Kesembilan, mengurangi dan atau menambah pokok-pokok ibadah yang tidak ditetapkan oleh syariat. Hal ini jelas dilakukan oleh kelompok syiah secara terang-benderang. Syiah nusairiyah di Suriah tidak shalat, zakatnya lain, hajinya beda, mereka halalkan zina, riba, dst. Syiah Imamiyah (rafidhah) meyakini adanya nikah mut’ah. Ustadz Anung menceritakan ketika diadakan debat di Radio Dakta Bekasi dengan kelompok Ikatan jamaah Ahlul bait Indonesia (IJABI) secara terus terang mereka mengakui bahwa nikah mutah itu halal.

DSDan yang terakhir yang kesepuluh, ciri-ciri dari aliran sesat menurut Majelis Ulama Indonesia adalah mengkafirkan sesama muslim hanya karena bukan kelompoknya. Dan ini telah dilakukan oleh orang syiah dengan doktrin nashibi-nya sebagaimana penjelasan diatas.

Dari pemantauan di tempat acara berlangsung, reporter an-najah juga mendengarkan ceramah dari Syaikh Khatib As-Suuri, seorang da’I dari Suriah yang membagi pengalamannya tentang apa yang terjadi di Suriah. Beliau tiada hentinya memohon doa dari kaum muslimin di Indonesia agar kaum muslimin di Suriah diberikan kekuatan dalam menghadapi ujian mereka. [fajar]

comments powered by Disqus