Hamid Fahmy Zarkasy: Perlu Sinergi Membangun Peradaban Islam

Publikasi: Ahad, 15 Rabiul Awwal 1434 H / 27 Januari 2013 13:29

DSCN0989SOLO (an-najah.net) – Upaya untuk membangun kembali peradaban Islam dewasa ini harus berhadapan dengan berbagai tantangan. Karena itu diperlukan sinergi dalam membangun kembali peradaban Islam. Hal ini diungkapkan Dr. Hamid Fahmy Zarkasy dalam orasi ilmiah yang tema “Sinergi Membangun Peradaban Islam”. Sabtu (26/01) dalam musyawarah kerja 10 tahun INSISTS (Institute For Study Of Islam Thought And Civilizations) di Masjid An-Nur, Gedung Al-Irsyad, Tawangmangu, Solo.

Doktor alumni ISTAC ini mengungkapkan terdapat dua tantangan penting yang sedang dihadapi umat Islam dewasan ini, yaitu tantangan eksternal dan internal. Tantangan eksternal yang datang dari perabadan asing khususnya barat. “Peradaban barat modern itu dengan program globalisasi dan westernisasi menyebarkan faham sekulerisme, rasionalisme, empirisme, dualisme desakralisasi, pragmatisme dan sophisme, nasionalisme, kapitalisme, humanisme liberal dan sebagainya,” ungkapnya.

Kedua adalah tantangan internal yang meliputi ketidakberdayaan para cendikiawan dalam memahami paham epistemologi dan ideologi asing secara kritis dan kelemahan tradisi pengkajian ilmu keislaman dalam memenuhi hajat umat dimasa sekarang.

Untuk menghadapi berbagai tantangan dalam membangun peradaban islam putra ke-9 dari pendiri Ponpen Gontor ini menjelaskan perlunya membangun tradisi keilmuan Islam dan sinergi dari berbagai pihak seperti intelektual, penguasa, pengusaha, penerbitan, wartawan dan masyarakat luas.

Lebih jauh ia sebutkan kejayaan Islam di Bagdad berfokus pada gerakan pembangunan peradaban yaitu ilmu pengetahuan. Hal ini di sebabkan ketika membangun pusat studi Bayt al-hikmah dan pusat studi yang lainnya, elit masyarakat bagdad, seperti khilafah dan putera mahkotanya, pegawai negara dan pemimpin militer, pengusaha, ulama’ dan saintis bekerjasama bahu membahu. “Kalau saja pemimpin melindungi perkembangan ilmu pengetahuan, pengusaha mendukung pendanaan penelitian, ulama dan saintis melakukan penelitian secara konisten, media masa mendistribusikan ilmu secara benar dan masyarakat pengkonsumsi ilmu, maka peradaban akan cepat berkembang di Indonesia,” jelasnya.

Dr. Hamid juga mengingatkan sistem pendidikan di dunia Islam saat ini masih bersifat dikotomis, maka diperlukan kerjasama antara ilmuwan produk pendidikan sekuler dengan ilmuwan produk pendidikan islam. “Banyak cendekiawan pakar bidang ilmu keislaman buta akan ilmu-ilmu umum (sekuler) dan sebaliknya cendekiawan pakar bidang ilmu umum tidak tahu sama sekali ilmu agama, meskipun mereka muslim maka diperlukan Ukhuwah Ilmiyyah,” katanya.

Lebih lanjut, Alumni ISTAC Malaysia ini menegaskan jika sinergi ini tidak dilakukan maka yang terjadi hanyalah seperti lingkaran setan. “Kalau pendidikan tetap sekuler nantinya akan melahirkan pemimpin yang sekuler dan pemimpin yang sekuler itu akan melahirkan kebijakan yang sekuler pula dan demikian seterusnya,” ungkapnya. [Anwar/an-najah]