Adian Husaini: Kesalahan Miss World Berada Pada Konsepnya

Publikasi: Selasa, 19 Jumadil Akhir 1434 H / 30 April 2013 10:35

Dr.Adian Husaini

Dr.Adian Husaini

Depok (An-Najah.net) – Pembina Institute for The Study of Islamic Thought and Civilisation (INSIST) Dr.Adian Husaini menyatakan bahwa penolakan terhadap ajang kontes kecantikan Miss World bukan terletak pada tampilan luar peserta kontes tersebut. Tetapi, lebih substansial kepada ide Miss World itu sendiri yang tidak beradab.

“Bukan masalah disuruh ganti baju, dari bikini pakai mukena, yang salah dari Miss World itu  konsepnya,” Kata Dr.Adian kepada an-najah.net, di kediamannya Depok, senin malam, (29/4/2013) ketika menanggapi rencana Miss World yang akan digelar  tanpa bikini dan lebih sopan di Indonesia.

Lanjutnya, kesalahan konsep Miss World terdapat pada cara pandangnya yang menistakan perempuan. Dimana perempuan hanya dilihat dari faktor fisiknya semata.

“Kesalahan Miss World itu melecehkan perempuan, menilai perempuan hanya dari kecantikan saja,” tegas Adian.

Senada dengan itu, Adian dalam tulisannya sebelumnya menjelaskan bahwa mulanya, kontes kecantikan ini semata-mata menekankan soal fisik (beauty). Mungkin untuk mengurangi kontroversi, di kemudian hari ada dua unsur lain ditambahkan menjadi kriteria penilaian, yaitu “brain” (kecerdasan) dan “behavior” (perilaku).

“Tapi, bagaimana pun, yang utama tetap faktor fisik. Sebab, ini adalah kontes kecantikan. Otak dan perilaku bukan yang utama. Banyak perempuan cerdas dan berprestasi tinggi di bidang sosial, tetapi tidak mungkin menjadi peserta kontes kecantikan ini. Itu semata-mata karena tidak memenuhi kriteria secara fisik.” Paparnya yang menjelaskan pula bahwa sejumlah kontes kecantikan, kriteria fisik ini sangat ketat dan bahkan sangat berlebihan. 

Kata Adian, Peradaban Barat modern sarat dengan pemujaan materi. Ada empat hal yang dipuja dalam peradaban ini, yaitu: kekayaan, jabatan, kecantikan, dan popularitas. Agama disingkirkan sebagai sumber nilai, digantikan dengan budaya dan spekulasi akal. 

Jika agama sudah disingkirkan dari kehidupan, lalu budaya dan akal semata dijadikan sebagai tolok ukur kebenaran, maka ketika itulah sebenarnya manusia sudah mengangkat dirinya menjadi Tuhan.

“Peradaban Barat memang bukan menolak agama dan menolak keberadaan Tuhan, tetapi, tidak memberi peran yang penting kepada Tuhan dan agama dalam sistem berpikir mereka.” tuturnya.

Pada ajang Miss World logika “Menyingkirkan Tuhan” dari nilai-nilai kehidupan ini mudah  dijumpai pula, baik pada pihak penyelenggara dan pendukung kontes kecantikan sejenis.

“Alasan yang senantiasa dikemukakan adalah untuk keuntungan popularitas dan peningkatan pariwisata.  Tidak ada kriteria yang pasti, mana tubuh yang boleh dibuka atau ditutup. Itu tergantung budaya, tergantung situasi. Tidak ada ukuran yang pasti mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kontes kecantikan Miss World 2013 dijadwalkan akan berlangsung pada 28 September di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor. Ajang kontes kecantikan tersebut, memicu kecaman dan penolakan keras dari MUI dan berbagai ormas Islam. Sebab ajang pamer aurat seperti yang sudah diselenggarakan di berbagai negara. Acara itu dianggap tidak sopan dan melanggar norma-norma agama. (qathrunnada/an-najah)