Soeharto: ‘Iseh Penak Zaman ku tho?’, Siapa Menggoreng?

Publikasi: Senin, 14 Rabiul Akhir 1434 H / 25 Februari 2013 12:32

Jargon kata-kata 'iseh penak zaman ku tho' diyakini untuk bangkitkan kenangan pada era orba.

Jargon kata-kata Soeharto ‘iseh penak zaman ku tho’ diyakini untuk bangkitkan kenangan masyarakat pada era orba yang diliputi stabilitas semu.

JAKARTA (an-najah) – Pernahkah anda melihat gambar di atas? Akhir-akhir ini truk atau stiker bergambar mantan Presiden Soeharto sedang tersenyum memang kembali marak. Senyum Soeharto yang khas itu disertai juga tulisan yang bernada menyindir.

‘Iseh penak zaman ku to?’, yang seolah menyindir semua orang yang menatap pada lukisan atau gambar tersebut.

Gambar tersebut seolah menyindir masyarakat saat ini yang sedang dilanda kegalauan yang tidak menentu akibat ekonomi dan keamanan yang semakin sulit diperoleh. Gambar tersebut seolah berkata, rezim Soeharto masih lebih baik dibanding saat ini.

Benarkah lebih enak zaman Soeharto?

Menurut pengamat politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya sindiran dengan gambar Soeharto yang tersenyum tersebut sebenarnya sudah ada sejak tahun 2004 lalu. Yunarto pun meyakini bahwa hal itu karena ada yang elit yang ‘menggoreng’.

“Ini pasti ada yang menggoreng atau memainkan. Hal ini karena kesadaran politik warga belum pada tingkatan untuk berani mengeluarkan biaya, jadi sudah pasti ada yang menggoreng atau memainkan isu ini,” ujar Yunarto kepada merdeka.com, Jumat (22/2).

Menurut Yunarto, fenomena yang menjual kerinduan pada zaman Soeharto saat ini memang laku keras. Hal ini dikarenakan kondisi stabilitas saat ini tidak lebih baik dibanding ketika Soeharto berkuasa.

“Secara politik memang masyarakat tidak cukup puas dengan masa reformasi, terutama pada periode 2009-2014. Hal ini terjadi karena kondisi saat ini secara konstelasi politik sangat ekstrem, sehingga terkesan seperti ada wilayah tak bertuan. Dan harus kita akui, rezim Soeharto punya kelebihan, ekonomi makro dan stabilitas politik,” terangnya.

Meski di zaman Orde Baru tidak ada demokrasi dan pemerintah sangat otoriter, masyarakat tidak pernah melihat hal itu. Rakyat lebih melihat pada stabilitas ekonomi dan juga rasa aman dan nyaman yang dibuat oleh rezim saat itu.

Menurut Yunarto, kemungkinan memang ada yang ingin kekuatan lama kembali berkuasa. Namun dirinya tidak bisa menganalisa siapa pemilik kekuatan tersebut. Selain itu yang dirindukan masyarakat hanya variabel yang dianggap baik, bukan berarti kembali menghidupkan rezim yang tumbang oleh reformasi itu.

“Masyarakat sebenarnya belum tentu menginginkan Orde Baru kembali berkuasa atau Soeharto hidup lagi, mereka hanya minta variabel yang baik saat Orde Baru kembali ada, misalnya keamanan, ekonomi stabil, kenyamanan dan lainnya,” tutupnya.

Lalu benarkah zaman ku (Soeharto) lebih enak?

[benji/merdeka]