Browse By

Category Archives: Arsip

id-r

Merdeka, Sudahkah?

Bulan Agustus ini bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan. Sebuah status yang diraih setelah 350 tahun dijajah Belanda, selama beberapa tahun oleh Inggris, dan 3,5 tahun oleh Jepang. Pesta pora dan sukaria selalu mengiringi perayaan kemerdekaan. Namun merenungkan kembali makna kemerdekaan sangat penting untuk dilakukan. Merdeka dalam

Jubir, HTI, Muhammad Ismail Yusanto

Jubir HTI ; HTI Kurang Nasionalisme Apa?

Jakarta (An-najah.net) – Jubir HTI mempertanyakan apa makna nasionalisme. Padahal HTI selama ini bergerak dan berdakwah untuk menyelamatkan negeri ini dari kehancuran. Sehingga apa yang dikatakan Said Aqil Siradj amat disayangkan kalau HTI antinasionalisme. Permintaan KH Said Aqil Siroj, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj dan Kapolri Tito Karnavian

Said Aqil Siradj adukan HTI, FPI, dan MTA ke Kalpolri

Jakarta (An-najah.net) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj mengadukan tiga ormas Islam nasional kepada Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian. Tiga ormas Islam yang diadukan Said itu adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI) dan Majelis Tafsir Alquran

Sejarawan Dr. Tiar Anwar Bachtiar

Tiar Anwar; Kemerdekaan Hakiki, Merdeka dari penghambaan kepada makhluk

Bekasi (An-najah.net) – Sejarawan Dr. Tiar Anwar Bachtiar menyebut bahwa kemerdekaan sesungguhnya bagi umat Islam adalah ketika terlepas dari penghambaan kepada makhluk. Termasuk, tak menjadi budak musuh-musuh Islam. “Sebagai umat Islam kita harus mewujudkan makna kemerdekaan yang hakiki menurut pengertian Islam,” kata Tiar kepada Kiblat.net,

peta-indonesia

Traktat London, Garis Ilusi Pemutus Tali Ukhwah Islamiah

Setahun sebelum Pangeran Diponegoro memulai perlawanan pada Belanda dan mengobarkan  Perang Jawa, Belanda dan Inggris menyepakati Traktat London. Traktat Belanda-Inggris tahun 1824 itu secara resmi membelah dua kawasan, Malaya (Malaysia dan Singapura kini) yang dijajah Inggris dari Hindia Belanda yang dijajah Belanda. Kedua kawasan yang

Gambar Ilustrasi

Mengapa Polisi di Poso Sangat Dibenci?

Gambar ilustrasi Ketua Pansus RUU Terorisme Muhammad Syafii mengungkapkan, bagi masayarakat Poso, teror sebenarnya datang dari aparat kepolisian. Sebab, masayarakat di sana menyimpan dendam yang luar biasa kepada polisi akibat banyaknya aparat yang melakukan pelanggaran HAM berat. “Para pendeta, ustad, tokoh masyarakat, tokoh pemuda sepakat

Alfian tanjung

Alfian Tanjung: Hadapi PKI, Umat Islam Jangan Jadi Kuda Tunggangan

Jakarta (An-najah.net) – Menghadapi PKI bersama tentara adalah langkah yang tepat. Bersama tentara ini bukan hubungan permanen mati, kita nggak begitu, kita ingin masuk pada aliansi strategis aja. Alfian tanjung menghimbau agar umat Islam tidak hanya jadi kuda tunggangan. Pengamat Gerakan Komunis di Indonesia, Ustadz

Anggota Komnas HAM Prof Dr Hafidz Abbas dalam diskusi soal Revisi UU Anti Terorisme di Gedung MUI Pusat, Jl Proklmasi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (30/05/2016).

Komnas HAM: Terorisme Proyek Global Hancurkan Islam

Jakarta (An-najah.net) – Terorisme merupakan proyek global . Proyek ini untuk menghancurkan Islam, ini konspirasi jahat. Komisioner Komnas HAM Prof Dr Hafidz Abbas menyebutkan, kasus Bom Thamrin 14 Januari lalu menjadi momentum banyak pihak untuk merevisi UU No 15 Tahun 2003 tentang terorisme. Namun keadaan

Penyair angkatan 1966, Taufiq Ismail

Taufiq Ismail: komunis bantai 120 juta orang di 75 negara

Jakarta (An-najah.net) – Penyair angkatan 1966 Taufiq Ismail menyebutkan bahwa komunis telah membantai 120 juta orang di 75 negara selama periode 1917-1991, sehingga harus dilawan. “Selama 74 tahun Komunis itu rata-rata membunuh 1.621.621 orang setiap tahun atau 4.504 orang per hari atau tiga orang per

Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara)

Tiga Alasan, Bareskrim Polri Tahan Ahmad Musadeq

Jakarta (An-najah.net) – Kasus penodaan agama yang dilakukan Gafatar, sedang ditangani pihak kepolisian. Penyidik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri telah menahan tiga orang yang diduga otak penyebar Ajaran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), yakni Ahmad Musadeq, Mahful Muis Tumanurung dan Andi Cahya. Menurut Kepala Divisi Hubungan