Akankah Muslim Mesir Angkat Senjata Setelah Putus Asa dengan Demokrasi?

Publikasi: Sabtu, 17 Syawwal 1434 H / 24 Agustus 2013 12:48

Mujahidin Sinai

Mujahidin Sinai

An-Najah– Sekitar 200 orang terbunuh dalam pertempuran sipil di Al Jazair, setelah militer tidak mengakui kemenangan ummat Islam, yang selama 10 tahun berjuang melalui jalur demokrasi, dalam pemilu yang digelar di negara itu. Tentunya, perjuangan pahit yang dialami ummat Islam Al Jazair ini belum hilang dari ingatan sebagian kaum muslimin. Dan, apa yang terjadi di Al Jazair, akhirnya terjadi juga saat ini di Mesir, ketika militer mengkudeta presiden Muhammad Mursi yang merupakan kader gerakan Islam Ikhwanul Muslimin pada Rabu, (03/07/2013).

Bedanya, umat Islam di Al Jazair tidak boleh sama sekali menjadi pemimpin, sedangkan Mursi berhasil memimpin Mesir selama satu tahun. Mungkin, semua orang beranggapan bahwa kegagalan Mursi akibat dari kesalahannya sendiri, karena pendukungnya menolak mengangkat senjata untuk membelanya.

Namun, lengsernya Mursi menyebabkan pengelompokan gerakan-gerakan Islam yang masuk ranah politik Mesir, setelah revolusi yang melengserkan rezim Husni Mubarak pada tahun 2011 lalu, yang telah mempimpin selama beberapa dekade.

Ikhwanul Muslimin dan kedua rekannya, Salafi dan Jihadi, kehilangan pendukung utama mereka dari kalangan anak muda yang menyakini bahwa eksperimen demokrasi telah gagal dan jalan damai tidak akan menghasilkan apa-apa dalam perjuangan.

Isham Al Hadad, asisten Muhammad Mursi, menulis dalam halaman Facebooknya, “Pesan yang tersirat untuk ummat Islam Dunia telah jelas dan gamblang bahwa demokrasi bukan untuk ummat Islam” tulisnya.

Pihak militer Mesir telah menangkap sejumlah orang terkemuka Ikhwanul Muslimin. Di sisi lain, Muhammad El Baltagy, salah satu pemimpin Ikhwan, memperingatkan bahaya menghadiri aksi duduk yang diselenggarakan pendukung Mursi di Masjid Rabi’ah Adaweya pada Kamis lalu (04/07/2013).

“Masalahnya sekarang adalah posisi kebebasan internasional yang mendorong negara pada situasi kacau dan mendorong gerakan selain Ikhwanul Muslimin kembali pada gagasan mereka, bahwa perubahan harus kekerasan” kata Baltagy.

Tekanan pelengseran Mursi meningkat setelah militer pertama kalinya mengumumkan ikut bergabung dengan jutaan demonstran menuntut kepergian Mursi.

Seorang laki-laki yang ikut serta dalam aksi duduk di Rabi’ah Al Adaweya minggu ini mengeluarkan sebuah pernyataan yang ditujukan kepada Menteri Pertahanan Mesir Jendral Abdul Fatah Al Sisi dalam sebuah rekaman video yang diunggah di Youtube, “Anda telah memunculkan Taliban dan Al Qaidah baru di Mesir. Operasi-operasi syahid akan segera bermunculan. Jika setiap satu dari sepuluh orang yang berada di sini meledakkan diri mereka di kerumunan Hatkon, anda adalah pemicunya” tegas laki-laki tersebut.

Beberapa jam sebelum penggulingan Mursi, Muhammad Naufal, seorang karyawa swasta berumur 44 tahun yang ikut serta dalam aksi duduk mendukung Mursi, mengatakan bahwa dirinya yakin para pendukung Mursi akan melakukan aksi kekerasan jika militer mengkudeta presiden yang terpilih melalui jalur demokrasi yang sah.

“Jika kudeta militer terjadi, Mesir akan menghadapi dua pilihan: Menjadi seperti Suriah atau menjadi seperti Al Jazair pada era 90-an. Ini adalah dua alternatif terakhir yang akan terjadi” ujarnya.

Sebagian besar pendukung Mursi mengungkapkan bahwa keterlibatan militer mendukung demonstran anti-Mursi merupakan kedeta militer terhadap presiden yang sah, sementara militer menilai bahwa keterlibatan mereka adalah untuk mendukung tuntutan rakyat.

Sementara itu, di Mesir juga terdapat beberapa pergerakan Islam militan yang eksis selama beberapa dasawarsa menentang pemerintahan sekuler Mesir.

Ketiga presiden Mesir terdahulu yang memerintah setelah revolusi tahun 1952 menuduh para Islamis militan tersebut berupaya membunuh mereka. Dan upaya pembunuhan tersebut berhasil dengan tewasnya Presiden Anwar Sadat.

Pada era 90-an, para Islamis mesir telah berhasil mengendalikan kampanye perlawanan terhadap pasukan keamanan Mesir. Sehingga, aksi-aksi kekerasan mulai mereda.

Beberapa tahun kemudian, Jama’ah Islamiyah Mesir, yang dikenal sangat militan, mulai meninggalkan aksi-aksi kekerasan dan membentuk partai politik setelah lengsernya rezim Husni Mubarak.

Akan tetapi, sebagian anggota Jama’ah Islamiyah mengumumkan kembali mengangkat senjata untuk kesekian kalinya, membela pemerintahan Mursi, dan ini adalah ancaman yang dilontarkan salah satu komandan Jama’ah Islamiyah yang saat ini menjadi perdebatan internal jama’ah islamiyah.

Muhammad Amin (40 tahun), seorang anggota gerakan Jama’ah Islamiyah, mengatakan beberapa jam sebelum pengumuman pelengseran Mursi, “Jika tentara berani membunuh demokrasi di Mesir, kami akan memerangi mereka dengan senjata” tegasnya seraya menunjukkan bahwa ribuan pendukung Mursi telah berkumpul di Kairo.

Subhi Yusuf (45 tahun), teman Amin yang saat itu duduk disampingnya, menambahkan, “Tidak, tidak wahai saudaraku. Kita tidak akan mengangkat senjata. Yang akan kita angkat adala kesabaran dan iman kepada Allah” katanya memotong perkataan Amin.

Khalil Al Anani, pakar politik Islam di universitas Durham di Inggris, mengatakan bahwa aksi kekerasan di Mesir akan terbatas, terutama di semenanjung Sinai, yang tidak tersentuh hukum negara dan rezim sejak lengsernya Husni Mubarak.

Sejumlah gerilyawan di semenanjung Sinai pada Jum’at pagi (5/7/2013) menembakkan sejumlah roket ke pos pemeriksaan tentara dan polisi. Mereka juga meledakkan kamp militer milik pasukan keamanan Mesir dan sebuah bandara. Sumber keamanan mengatakan, setidaknya satu tentara tewas dan sejumlah lainnya luka-luka.

Anani mengatakan bahwa pelengseran Mursi akan memperkuat keyakinan kelompok-kelompok Islam militan, seperti Al Qaidah, bahwa demokrasi bukanlah jalan untuk memperjuangkan Islam.

“Saat ini mereka mengatakan, ‘lihatlah, inilah demokrasi yang kalian diperangi karenanya” tambah Anani.

Validitas argumen ini tergantung pada tindakan tentara selama masa transisi dan koherensi Islamis yang bersandar pada peta jalan yang ditetapkan mereka.

Partai Salafi, An Nur, yang merupakan partai Islam kedua terbesar, setelah partai milik Ikhwanul Muslimin, mendukung langkah yang ditempuh militer Mesir.

Dalam sebuah pernyataannya yang dikeluarkan pada Kamis (04/07/2013), partai Nur mengatakan bahwa barang siapa yang memutuskan mengorbankan dirinya untuk mendukung Mursi, hendaknya berfikir bahwa kemungkinan mereka akan kehilangan keduanya.

Akan tetapi, keterlibatan semua Gerakan Islam dalam rencana militer akan mengasingkan anggota gerakannya dalam perjuangan Islam di Mesir

Yasir As Siri, mantan direktur Observatorium Media Islam yang berbasis di London mengatakan, ‘kudeta’ militer kepada Mursi mendorong Mesir ke tahap situasi serius.

“Masyarakat saat ini tidak menyakini aksi damai dan tidak menyakini bahwa perubahan tidak bisa ditempuh melalui jalur damai. Ini adalah masalah” katanya.

Ia menambahkan bahwa Mesir memiliki kesempatan untuk mengintretrasikan pemuda Islam dalam kerangka politik resmi dan membuat mereka bekerja di depan umum. Akan tetapi, saat ini kesempatan itu sangat kecil.

“Jika situasi ini tidak segera cepat ditangani, akan menagkibatkan Mesir kembali ke belakang” pungkasnya. [hunef/alwatanserb.com/kiblatnet]

comments powered by Disqus