Analisa Jihad: Perang Suriah Semakin Berpotensi Menjadi Konflik Global

Publikasi: Rabu, 23 Rabiul Akhir 1434 H / 6 Maret 2013 09:00

Seorang pejuang FSA sedang memandang ke arah perbatasan Turki (foto: AFP)

Seorng pejuang FSA sedang memandang ke arah perbatasan Turki (foto: AFP)

(An-najah) – Setelah surat kabar Turki dan Israel membocorkan informasi tentang kesepakatan yang mungkin terjadi antara AS dan Rusia pada masalah Suriah, apa yang muncul dari ini adalah garis yang lebih jelas dari adegan berdarah di Suriah semakin terungkap secara jelas di depan mata seluruh dunia.

Garis-garis besar pengaturan ini terlihat seperti ini: Suriah akan dibagi menjadi dua zona. Satu bagian adalah untuk rezim Alawi, namun pada kenyataannya, diperuntukkan bagi Iran dan Rusia, sedangkan bagian lainnya diserahkan kepada manajemen yang disebut dengan “koalisi nasional”, yang dibentuk oleh Barat di Qatar.

Kekuasaan dari komponen “Koalisi nasional” selayaknya akan dialokasikan kepada Tentara Pembebas Suriah (FSA), yang sekarang sedang aktif “dicuci otak”, karena tidak semua unit katibah (brigade) FSA sudi untuk menyatakan diri berada satu barisan dengan komplotan geng boneka pro-Barat. Sebab, mayoritas dari mereka justru tegas menyatakan ingin berada dibawah naungan syariat Islam.

Musuh bersama dari  “koalisi nasional” boneka pro-Barat, Rusia, AS dan Iran adalah kelompok yang menyatakan dirinya sebagai “jihadis” yaitu, Mujahidin Jabhat al-Nusra, Al Qaeda, dll.

Keselarasan ini justru malah mempromosikan kepentingan Iran. Kondisi kawasan Timur Tengah yang terdiri dari negara-negara yang lemah dan runtuh akan membuat pemerintah masing-masing tidak bisa mempertahankan monopoli penggunaan kekuatan. Hal ini akan memudahkan Iran untuk kembali membangkitkan kejayaan peradaban Dinasti Safawiyah-Persia yang mengusung ideologi syiah.

Bahkan, hal ini telah dicapai dengan dibentuknya milisi Hizbullah, Tentara Mahdi dan sebagian dari sayap brigade Hamas merupakan alat kebijakan Iran di wilayah tersebut.

Negara mana saja yang terlibat?

Karakteristik dalam hal ini adalah keterlibatan terbuka Irak (meskipun masih tergantung pada Amerika Serikat) dalam perang Suriah, yang baru-baru ini mulai mengaktifkan unit sel posisi pemberontak di dalam wilayah Suriah.

Pemerintah rezim syiah rafidhah Baghdad mulai melibatkan diri ke dalam perang setelah pernyataan kecaman yang dikeluarkan oleh Perdana Menteri” Nuri al-Maliki yang mengatakan bahwa runtuhnya rezim Assad akan menyebabkan “percikan perang di negara-negara tetangga di wilayah itu, dan akan melanggengkan para jihadis untuk meraih kekuasaan dan menegakkan syariat Islam… “

Menurut kubu pejuang Suriah, pasukan Irak telah berjaga di sepanjang perbatasan Irak-Suriah. Pasukan rezim Baghdad bahkan telah melakukan serangan mortir dan artileri terhadap posisi pejuang Tentara Pembebas Suriah (FSA) di lokasi sekitar al-Ya’roubia melintasi perbatasan di provinsi Hasaka selama beberapa hari belakangan.

Kelompok pejuang Suriah telah memposting sebuah tayangan video yang menunjukkan transfer peralatan militer Irak dan senjata melintasi perbatasan untuk menambah kekuatan tentara Bashar Assad.

Perlu diingat, bahwa pemerintah rezim di Yaman -yang juga tunduk di bawah kendali AS- telah berpartisipasi selama beberapa bulan terlibat dalam perang untuk berjuang di sisi Assad.

Pada hari Ahad (03/03), dilaporkan bahwa Jordan telah mengumumkan hadiah untuk setiap informasi tentang brigade Jabhah Nusrah dan para pemimpinnya. Jordan sebelumnya juga telah mengekstradisi seorang pilot yang desertir dari Tentara Suriah bersama dengan pesawat untuk dipulangkan ke rezim Bashar Assad.

Sementara itu, di sisi Assad  telah lama ada sekelompok pasukan yang secara terbuka berjuang melawan rakyat Suriah. Diantaranya ialah Korps Garda Revolusi Iran (termasuk pasukan penerbang), GRU Rusia (pasukan khusus intelijen Rusia), milisi Hizbullah Lebanon dari geng Syiah, yang baru-baru ini telah menduduki 8 desa di wilayah Homs.

Rusia dan Iran secara aktif memasok rezim Assad tidak hanya dengan SDM tempur tetapi juga dengan perangkat militer. Dan seringkali senjata-senjata ini, meskipun disebut-sebut ada “embargo internasional”, melenggang bebas melalui pelabuhan Arab Saudi, Yaman, Mesir dan beberapa negara Eropa.

Dalam beberapa hari terakhir, telah terjadi peningkatan tajam serangan rudal terhadap posisi FSA dan Mujahidin. Jika pada tahun lalu, hanya 2-3 rudal Scud itu ditembakkan, saat ini Scud menyerang  siang dan malam hingga 3-5 rudal per hari.

Rezim Assad juga menggunakan senjata kimia, meskipun berdampak lokal, namun fakta-fakta jelas ini diabaikan begitu saja oleh aliansi Barat munafik yang pernah membual dengan ancaman akan melakukan “pembalasan yang keras”  apabila ada  penggunaan senjata kimia.

Perang Suriah, Jihad Global antara Muslim dan Kafir

Perang Suriah ini akhirnya nampak jelas di depan mata kita berperan sebagai ‘furqon’, pemisah antara yang haq dan yang bathil. Konflik ini menegaskan bahwa di dunia ini akhirnya akan kembali pada dua sisi yang berlawanan, merobek topeng kemunafikan dan mengungkapkan tujuan mereka yang sesungguhnya. Di satu sisi adalah perselingkuhan aliansi internasional, yang mencakup negara-negara kafir dan boneka mereka dari apa yang disebut penguasa Muslim dan lainnya. Dan disisi lainnya ada Muslim Mujahidin dan orang-orang berteguh hati yang telah menyatakan niat mereka untuk mengembalikan Syariat Allah.

Meskipun kekuatan sumber daya material yang jauh berbeda, segelintir mujahidin berhasil menyatukan diri dengan tulus untuk bersama-sama melawan kaum kafir global. Hasil yang diraih mereka pun cukup signifikan. Mujahidin berhasil merangsek maju, menguasai lebih banyak daerah, lagi dan lagi. Meskipun tanpa senjata, peralatan, sepatu, dan kurangnya logistik.

Kemenangan sedang berlangsung, hari demi hari berhasil diraih muslim Suriah, meskipun tuduhan selalu diarahkan kepada Mujahidin di tengah konspirasi seluruh dunia. Jihad di Syam adalah hadiah dari Allah kepada kaum muslimin seluruhnya.

Hadits dari Abdullah Bin Hawalah menyebutkan,

حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ وَيَزِيدُ بْنُ عَبْدِ رَبِّهِ قَالَا حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ قَالَ حَدَّثَنِي بَحِيرُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ أَبِي قُتَيْلَةَ عَنِ ابْنِ حَوَالَةَ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَصِيرُ الْأَمْرُ إِلَى أَنْ تَكُونَ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ جُنْدٌ بِالشَّامِ وَجُنْدٌ بِالْيَمَنِ وَجُنْدٌ بِالْعِرَاقِ فَقَالَ ابْنُ حَوَالَةَ خِرْ لِي يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَاكَ قَالَ عَلَيْكَ بِالشَّامِ فَإِنَّهُ خِيرَةُ اللَّهِ مِنْ أَرْضِهِ يَجْتَبِي إِلَيْهِ خِيرَتَهُ مِنْ عِبَادِهِ فَإِنْ أَبَيْتُمْ فَعَلَيْكُمْ بِيَمَنِكُمْ وَاسْقُوا مِنْ غُدُرِكُمْ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ تَوَكَّلَ لِي بِالشَّامِ وَأَهْلِهِ

Telah menceritakan kepada kami Haiwah bin Syuraih dan Yazid bin Abdurabbihi berkata; telah menceritakan kepada kami Baqiyyah berkata; telah bercerita kepadaku Bahir bin Sa’ad dari Khalid bin Ma’dan dari Abu Qutailah dari Ibnu Hawalah sesungguhnya dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Saat itu akan terjadi tentara-tentara yang berkelompok-kelompok. Tentara yang berada di Syam, Tentara yang berada di Yaman, dan Tentara yang berada di Iraq.” Ibnu Hawalah berkata; “Pilihkan untukku, Wahai Rasulullah, jika saya menjumpai hal itu!.” Beliau bersabda: “Bergabunglah di Syam, karena di sana ada hamba-hamba Allah yang terpilih. Jika kalian tidak bisa, maka pergilah ke Yaman. Berilah air dari kolam kalian, sesungguhnya Allah Azzawajalla telah menyerahkan Syam dan penduduknya kepadaku.”

(Imam Ahmad 4/110, Abu Dawud 2483. Dishahihkan oleh Imam Abu Hatim, Imam ad-Diya al-Maqdisi, Sheikh al-Albani dan Syeikh Syuaib Al-Arnaut).

*****

 

Oleh: Islam Sayatkhan dari Aleppo, Suriah

Red: Fajar Shadiq

comments powered by Disqus