Membuka Front Baru untuk Melawan Rezim Assad

Publikasi: Senin, 8 Sya’ban 1434 H / 17 Juni 2013 22:14

assad(An-najah) - Seruan untuk melakukan sanksi telah membuat panggung politik Arab kembali menjadi kuat. Kali ini mereka menargetkan Iran dan -pada tingkat lebih rendah- produk Rusia, serta perusahaan yang terkait dengan Syiah Hizbullah.

Ada keyakinan baru yang semakin meningkat bahwa hukuman ekonomi merupakan sarana tekanan yang harus diterapkan secara efektif. Di Kuwait, kampanye populis yang menyerukan boikot produk Iran telah diluncurkan. Banyak pedagang yang kini mengembalikan semua komoditi dari Iran kepada para pemasok mereka.

Hal itu dilakukan, karena dukungan mereka pada rezim ‘haus darah’ Bashar Assad yang hingga kini telah membunuh rakyatnya sendiri selama lebih dari dua tahun. Iran, Rusia, dan milisi teroris Syiah Hizbullah telah menjadi musuh nyata dari seluruh dunia Muslim. Mereka memilih untuk mendukung rezim berdarah, untuk melakukannya, mereka rela menjadi musuh ratusan juta Muslim dan Arab secara aktif.

Secara politis, jelas itu pilihan yang salah, dan sangat jelas bahwa ada harga yang mahal dan harus dibayar untuk keputusan ini.

Ekonomi Iran telah menderita sebagai akibat dari dukungan luar biasa untuk rezim Bashar Al-Assad, sebuah rezim yang secara politis sakit, bangkrut finansial, dan lelah secara militer . Dukungannya terhadap rezim Assad di Suriah sejatinya adalah napas terakhir, bagaimanapun, menurut Iran merak harus melakukannya untuk menghentikan rezim Nushairiyyah jatuh.

Ekonomi Iran juga sangat menderita karena sanksi atas program nuklir kontroversial dan dukungan yang berkelanjutan untuk milisi teroris Hizbullah, yang telah menelan banyak biaya secara massal.

Garda Revolusi Iran, bagaimanapun, memandang ini sebagai investasi, dan sebuah kampanye yang telah membujuk kaum Arab bahwa itu adalah pihak yang berkepentingan dalam perlawanan dan pemimpinnya adalah pemimpin populer. Tetapi, saat milisi Garda Revolusi memasuki Suriah untuk berjuang bersama rezim despotik, dan dengan cara sektarian yang menjijikkan, menyebabkan terbukanya kedok yang mengungkapkan wajah yang bahkan lebih buruk. Ini telah menyebabkan investasi Iran di Hizbullah menghilang, dan telah merubah Hizbullah dan pemimpinnya menjadi musuh di mata sebagian besar Muslim, politisi dan akademisi muslim, dan kubu yang sedang berperang, karena itu diklasifikasikan sebagai teroris dan organisasi takfiri  dan yang lebih penting, sebuah konspirator.

Sekarang, Iran telah menandatangani konfrontasi ekonomi biaya yang akan dibayar oleh rakyatnya sendiri. Meski ada perkembangan hubungan Iran dengan rezim baru di Mesir, para ulama sudah mulai memperingatkan tentang bahaya apa yang telah Iran lakukan dalam mendukung rezim berdarah, yang telah menewaskan Suriah tanpa ampun selama dua tahun.

Iran dan milisi Hizbullah memiliki standar ganda tentang despotisme dan terorisme. Sementara mereka memandang Saddam Hussein sebagai tiran dan pelaku kriminal, mengapa mereka tidak berani menghakimi Bashar Assad dengan cara yang sama, meskipun semua sifat dan atribut yang sama berlaku untuk dia (Assad, red) juga. Ini adalah sektarianisme tercela yang telah menyebar dalam kejahilan yang tertutup tirai dari agama, Arabisme dan revolusi.

Boikot atas Iran dan Rusia dan Hizbullah secara bertahap memasuki fase yang serius, dengan konflik Suriah menjadi lebih intens, dan dengan intervensi Hizbullah dan peningkatan dalam jumlah yang tewas dan terluka di tangan rezim. Ini adalah bagian dari konfrontasi yang buruk, namun cukup diperlukan.

Menyingkirkan Assad dan rezimnya jelas sulit dan rumit, karena ia memiliki pengikut yang mendapatkan manfaat dari kekuasaannya, karena mereka adalah bagian dari cerita palsu, yang dijajakan selama beberapa dekade, dan itulah yang membuat harga menyingkirkan Assad sangat mahal, semahal kerusakan yang dilakukan oleh rezim. [fajar/asharqaswat]

comments powered by Disqus