#1. Agar Tegar Menghadapi Ujian

Dr Najih Ibrahim

Seorang aktivis muslim yang mulai berkomitmen menjalankan islam dengan serius kadang muncul kebimbangan dalam hati, “Saya baru saja memulai jalan ini. Saya takut tidak bisa tegar menghadapi berbagai ujian.”

Untuknya saya ingatkan dengan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ‘Barangsiapa yang berusaha untuk bersabar niscaya Allah akan menjadikannya sabar.’  Juga, ‘Barangsiapa berusaha untuk selalu mengerjakan kebaikan niscaya Dia akan memberikannya, dan barangsiapa menjaga diri dari keburukan niscaya Dia akan menjaganya.’

Nah, siapa saja yang berusaha bersabat, niscaya Allah akan memberikan kemampuan sabar kepadanya. Sebaiknya, siapapun yang kalah oleh faktor-faktor wahn, gelisah, dan kehinaan, niscaya Dia akan tertimpa sesuatu yang faktor-faktornya telah diusahakannya.

وَمَا ظَلَمَهُمُ اللهُ وَلَكِنْ كَانُوْا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

Dan Allah tidaklah menzhalimi  mereka akan tetapi merekalah yang selalu menzhallimi diri mereka sendiri. (an-Nahl : 33)

Saudaraku! Untuk itu, berusahalah untuk bersabar. Sabarkanlah diri Anda untuk masa tertentu, niscaya Anda akan mendapati diri Anda dalam keadaan sabar setelahnya.

Saat kelelahan Anda semakin menghebat, ujian semakin bertambah, musibah semakin dahsyat dan nafsu menghasut supaya Anda cenderung kepada dunia -meski sesaat-, berusahalah terus untuk  hati dan ruhiyah anda. Serahkan semua urusan kepada Allah dan biarlah Dia menjawab keluhan-keluhan yang menghimpitmu.

Jika Anda mulai menginginkan dunia katakan kepada diri Anda sendiri, “Wahai diri, sungguh kamu telah menghabiskan separuh lebih dari perjalananmu menuju Allah. Sisanya tinggal sedikit lagi. Bersabarlah!!!”

Katakan pula kepada diri sendiri, “Janganlah kamu sia-siakan amal shalih yang telah kau kerjakan. Jangan sia-siakan tahajjudmu di waktu malam dan juga kelelahanmu selama bertahun-tahun di jalan Allah. Ujian kesabaran ini tidak akan lama. Tetaplah tegar.”

Ada ibrah menarik dari kisah Bisyr al-Hafiy bersama salah seorang muridnya yang turut serta dalam salah satu safarnya. Saat itu si murid dilanda dahaga dalam perjalanannya.

Ia minta kepada Bisyr, “Mari kita minum air sumur itu!”

Bisyr menjawab, “Bersabarlah, sampai kita bertemu dengan sumur yang lain.”

Lalu ketika keduanya telah sampai ke sumur berikutnya, Bisyr berkata lagi, “Sampai sumur berikutnya.” Begitulah, Bisyr terus mengatakan untuk bersabar sampai sumur berikutnya…. dan akhirnya ia katakan, “Demikianlah dunia itu akhirnya akan terhenti.”

Hendaknya seorang aktivis mengucapkan perkataan Ibnul Jauziy yang mengadu kepada Rabbnya, “Betapa beruntungnya diriku atas apa yang direnggut dariku, ketika buahnya adalah aku bersimpuh di hadapan-Mu. Betapa lapangnya penawananku kala buahnya adalah aku berkhalwah dengan-Mu. Betapa kayanya diriku ketika aku faqir kepada-Mu. Betapa lembutnya diriku kala Engkau jadikan ciptaan-Mu berlaku zhalim kepadaku. Ah.. sia-sialah masa yang hilang bukan dalam rangka berkhidmah kepada-Mu, begitu pun waktu yang berlalu bukan dalam ketaatan kepada-Mu. Kala aku bangun menjelang fajar, tidurku sepanjang malam tidak lagi menyiksa diriku. Kala siang beranjak lepas, hilangnya seluruh hari itu tidak lagi melukaiku. Aku tidak tahu bahwa diriku yang mati rasa ini dikarenakan sakit yang dahsyat. Kini, hembusan angin kesejahteraan telah bertiup, aku telah dapat merasakan derita, dan aku tahu diriku kini sehat. Wahai Dzat yang Mahaagung anugerahnya, sempurnakanlah kesejahteraan bagi diriku.”

Dirangkum dari buku Kepada Aktivis Muslim (Dr. Najih Ibrahim)