Perang Narasi antara Jihadis vs Barat

Ilustrasi

Oleh: Ust. ElHakimi, Lc

 

Ilustrasi
Ilustrasi

An-Najah.net (Surakarta)–Barat biasa mendefinisikan jihad dengan tindakan barbar, tanpa perikemanusiaan (crimes against humanity). Karenanya jihad – kata mereka – harus dijadikan musuh umat manusia lantaran menjadi tindakan di luar kewajaran manusiawi. Untuk menguatkan stigma itu, mereka menciptakan istilah yang sempurna: terorisme.

Narasi (penceritaan) ini menjadi terasa nyata karena didukung gambar-gambar ‘seksi’ berbagai kekerasan yang dilakukan entitas jihad. Seperti bombing, penembakan, pemukulan dan berbagai gaya eksekusi lain. Manusia mudah hanyut dengan sesuatu yang menyentuh perasaan, dan kombinasi narasi dengan gambar tersebut terbukti ampuh membidik pusat sentimen perasaan manusia. Entitas jihad lantas menjadi bulan-bulanan media, dan di-bully sana-sini.

Jihad itu sendiri memang secara intrinsik mengandung kekerasan, karenanya mudah dijauhkan dari perasaan manusia yang pasti cenderung untuk membencinya. Apalagi jihad dinarasikan secara terpisah dengan motif dan nilai yang membingkainya.

Blunder Jamaah Daulah

Kekuatan Barat ada pada narasi. Mereka hendak meruntuhkan ibadah agung ini dengan narasi. Dalam bahasa Al-Qur’an, yuriduna liyuthfi’u nurallahi bi-afwahihim (mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka). Narasi dibangun pada dua landasan: mencerabut jihad dari misi meninggikan kalimat Allah (fi sabilillah) dan melekatkan jihad dengan gambar-gambar kekerasan yang dibenci perasaan manusia.

Jihad dalam wujudnya yang live bertugas membungkam kekuatan Barat yang selalu digunakan untuk menghabisi umat Islam. Ini satu dimensi yang insyaallah para mujahidin sudah cukup fasih memerankannya. Mereka sudah puluhan tahun terlatih untuk benturan fisik seperti ini, apalagi dilandasi ruh pengorbanan dan kesiapan untuk mati karenanya. Pada dimensi ini Barat cenderung bertekuk lutut, apalagi jika jihad berlangsung panjang, karena yang terjadi kemudian adalah adu sabar dan adu nafas panjang.

Tapi untuk dimensi jihad yang lain, dalam tataran narasi, mujahidin masih terlihat lemah, untuk tidak mengatakan kalah telak dari musuhnya. Namun masih ada hal yang menghibur, kekalahan ini bukan karena kehebatan Barat, tapi karena blunder yang dilakukan oknum entitas jihad sendiri. Artinya, jihad secara konsep seharusnya bisa menang baik dalam tataran perang di medan laga maupun pada tataran opini (narasi), dengan catatan diaplikasikan sesuai ‘syarat dan ketentuan yang berlaku’.

Salah satu yang bisa dikategorikan blunder, misalnya sikap narsis Jamaah Daulah (atau sering disebut ISIS)– yang diakui atau tidak bagian dari entitas jihad modern. Narasi Barat bahwa jihad lahir dari jiwa psikopat, mendapat pembenaran dengan gaya ISIS dengan foto-foto horornya. Jika masyarakat sipil biasa narsis dengan ber-selfie-ria di depan air terjun atau pantai indah, ISIS-er gemar narsis dengan senyum mengembang pada latar belakang kepala yang terpenggal dan macam-macam horor lain.

Mereka lupa bahwa gambar yang dia ekspos akan diterkam Barat sebagai alat untuk membangun narasi anti jihad. Jika korban yang dijadikan latar belakang selfie tersebut dari kalangan musuh (Barat), entitas jihad masih punya celah untuk membela. Situasi jadi runyam saat ISIS-er narsis dengan background gambar horor tapi sang korban dari kalangan umat Islam sendiri yang dianggap murtad.

Barat akan dengan mudah membangun narasi: tuh lihat, kalo bukan karena jihad itu psikopat, mana mungkin komunitas sendiri dibantai. Narasi ini sungguh menjengkelkan, karena umat Islam lain menjadi terbungkam diam seribu bahasa tak bisa melawan narasi yang menusuk telak, mak jleb !

Kekalahan narasi bukan karena kehebatan Barat, tapi karena blunder yang dilakukan oleh entitas jihad sendiri. Satu-satunya yang bisa dilakukan tinggal mengelus dada sambil berharap keikhlasan dan ketawadhu’an mujahidin lain bisa menyelamatkan situasi sulit ini.

Perlu Narasi Ovensif

Penyebutan ISIS sebagai fenomena jihad narsis lebih disebabkan ISIS telah menjadi muara yang menyatukan semua gejala jihad narsis yang berkembang jauh sebelumnya. Pada zaman Nabi, godaan untuk narsis itu sudah muncul meski belum ada kamera yang bisa merekam gambarnya. Yaitu saat para sahabat ingin mengirim pesan bahwa umat Islam juga bisa berbuat brutal dan kejam dengan cara memutilasi musuh, maka dilarang oleh Rasulullah SAW. Padahal alasan untuk mutilasi tersedia, yaitu dimutilasinya Hamzah dalam perang Uhud yang membuat Nabi sangat terpukul dan sedih.

Namun demikian Nabi saw berhenti pada misi agung jihad; meninggikan kalimat Allah dan mengalahkan ideologi selain syariat Allah, tidak melewati garis misi ini. Misi tersebut yang mengawal perjalanan jihad para sahabat tetap dalam bingkai perang; sekedar untuk mengalahkan kekuatan musuh bukan untuk melampiaskan dendam apalagi untuk narsis sebagai psikopat kejam.

Karenanya bingkai aqidah yang lurus, misi yang jelas, dan akhlaq yang mulia kini terbukti menjadi syarat yang kian relevan dengan jihad modern. Godaan riya’ dalam setiap ibadah itu nyata. Dalam shalat, ingin dikesankan sisi khusyu’nya di mata manusia. Dalam sedekah, ingin dikenal sisi kedermawanannya. Dalam membaca Al-Qur’an ingin dihargai sisi indahnya bacaan. Sementara dalam jihad, untuk disebut pemberani. Dan untuk zaman modern, untuk narsis dengan gambar-gambar horor yang memberi kepuasan batin dan melampiaskan dendam.

Dalam kasus terbaru, ISIS wilayah Afghan karena menjadi trouble maker di tengah komunitas Taliban, maka Taliban mengusir mereka, salah satunya dari wilayah Nangarhar. Akibatnya, ISIS-er melampiaskan dendam kepada siapa saja yang berbau Taliban. Beberapa masyarakat Afghan yang berhasil mereka tangkap dan dituduh mendukung Taliban, dibariskan dalam posisi berlutut di atas dinamit, lalu diledakkan. Video ini sengaja dirilis sebagai pesan narsis khas psikopat terhadap Taliban dan masyarakat dunia untuk menunjukkan bahwa mereka masih ada.

Kebalikan dari gaya ISIS, Al-Qaeda justru sedang berupaya menarasikan jihad sebagai ibadah-perlawanan yang bersifat humanis. Kemenangan tahap demi tahap yang mereka peroleh dari musuh di medan laga, hendak mereka tuntaskan dengan narasi jihad yang humanis pada dimensi opini. Mereka sadar, kemenangan jihad tak hanya di medan tempur, tapi juga menang dalam bidang diplomasi politik dan narasi opini.

Untungnya, Islam telah menyediakan alat yang cukup untuk itu. Dalam hal tujuan, Islam membingkai jihad dengan kalimat fi sabilillah dan demi meninggikan kalimat Allah, bukan untuk mengeruk dunia atau riya’. Dalam masalah cara, Islam membingkai jihad dengan akhlaq mulia sehingga melarang membakar musuh, membabat tanaman pangan dan mutilasi.

Apalagi jika narasi devensif tersebut dirangkai dengan narasi ovensif terhadap Barat dan entitas kafir dunia; bahwa Barat itu bobrok, zalim dan munafiq. Kekuasaan yang mereka pegang hanya untuk melegalkan perkawinan sejenis (homo), melindungi narkoba, melanggengkan para tiran boneka, meluaskan kezaliman ekonomi (riba), pornografi dan berbagai kebejatan lain. Narasi ini niscaya menusuk balik pada urat kesadaran umat manusia agar berpaling dari Barat, menuju kemenangan opini yang gemilang. wallahua’lam bis-shawab.

Dinukil dari: Majalah An-Najah, Edisi 118
Editor: Akrom – Ali