#2: Serahkan Perniagaan Kepada yang Berhak

Dr Najih Ibrahim

Bagian ke-2 seri “Membangun Karakter Aktivis Muslim”

Untuk anda yang telah berjual-beli dengan Allah, tiada pilihan selain menyerahkan apa yang telah Anda jual kepada yang telah membelinya.

 

إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (at-Taubah : 111)

Pembeli telah menerima barangnya. Dia berhak berbuat sesukanya dan menempatkannya sesukanya. Dia bisa meletakkannya di istana, bisa juga menyembunyikannya di penjara.

Jika ingin, dia bisa menjadikannya kaya, bisa juga dia menjadikannya miskin papa. Bisa pula memanjangkan umurnya, atau malah mewafatkannya di tiang gantungan.

Apakah baik jika seorang peternak marah kepada pembeli dombanya karena sang pembeli menyembelihnya?

Allah telah perlakukan pejuang-pejuang-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.

Hamzah bin ‘Abdulmuthallib. Dadanya dibelah, jantungnya dikeluarkan. Hidung dan telinganya dipotong.

Pernahkan Anda dengar apa yang menimpa Rasulullah SAW saat perang Uhud? Pipi dan wajah mulia beliau tertembus paku hingga memecah gigi beliau. Lepas dari perang uhud, beliau hidup dari satu cobaan kepada cobaan yang lainnya.

Rasulullah hidup berselimut kewaspadaan. Bukankah beliau menyarungkan senjata dan menyimpannya di balik punggung. Beliau pernah merasakan beratnya kelaparan, sampai-sampai beliau mengambil batu dan mengikatnya di perut. Padahal Allah adalah pemilik pintu-pintu langit dan bumi, sangat mudah bagi-Nya membuka pintu rejeki bagi Nabi-Nya.

Saudaraku, cobalah untuk merenungkan kehidupan para Nabi dan Rasul. Mereka adalah manusia-manusia pilihan. Merekalah yang paling mulia di sisi Pencipta dan paling dicintai oleh-Nya. Meski begitu, Ibrahim telah dilempar ke dalam api, Zakariya telah digergaji, Yahya telah disembelih, Ayyub berada dalam ujian bertahun-tahun yang membinasakan harta dan anak-anaknya, Yunus terpenjara dalam perut ikan paus, Yusuf diremehkan dan dijual dengan harga murah, lalu menetap di penjara beberapa tahun. Semua itu, mereka ridla terhadap takdir Allah, ridla terhadap-Nya, Pelindung mereka yang sebenarnya.

Sebagian salaf ada yang berkata, “Dibelah tubuhku lebih aku sukai daripada aku katakan untuk sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah, ‘Seandainya itu tidak terjadi.’”

Ada juga yang mengatakan, “Aku telah melakukan perbuatan dosa, aku tangisi dosa itu sejak 30 tahun yang lalu.” Ia adalah seorang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. Seseorang bertanya, “Apa dosa itu?” ia menjawab, “Sekali aku mengucapkan untuk sesuatu yang telah terjadi, ‘Seandainya itu tidak terjadi.’”

Wahai saudaraku, jadilah Anda menjadi bagian dari mereka-mereka yang aktivitas mereka tidak bertentangan dengan apa yang telah Allah lakukan, mereka yang pilihannya tidak berseberangan dengan pilihan Allah. Mereka tidak pernah mengucapkan, “Seandainya ini begini pasti begini.” atau “Semoga saja ..”, meski hanya sekali.

Apa yang Allah pilihkan bagi hamba-Nya yang beriman adalah pilihan yang terbaik, meski tampaknya sulit, berat, atau memerlukan pengorbanan harta, kedudukan, jabatan, keluarga, anak, atau bahkan lenyapnya dunia seisinya.

Cobalah mengingat kembali kisah perang Badar. Pikirkan baik-baik! Sebenarnya sebagian sahabat pada waktu itu lebih menyukai mendapatkan harta perniagaan. Namun Allah memilihkan bagi mereka pilihan yang jauh lebih baik dan lebih utama daripada pilihan mereka. Allah pilihkan bagi mereka pertempuran!

Mahabenar Allah  yang telah berfirman,

وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللهُ إِحْدَى الطَّآئِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللهُ أَن يُّحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ

Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedangkan kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk memenangkan kebenaran dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir. (al-Anfal : 7)

Sungguh dalam makna kalimat yang ditulis oleh Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad:

“Sesungguhnya jika Allah menahanmu dari mendapatkan sesuatu, itu bukanlah karena Dia bakhil, khawatir kehilangan perbendaharaan-Nya, atau menyembunyikan hakmu. Akan tetapi itu adalah karena Dia ingin kamu kembali kepada-Nya.

Dia ingin memuliakanmu dengan tunduk-pasrah kepada-Nya, menjadikanmu kaya dengan faqir kepada-Nya, memaksamu untuk bersimpuh di hadapan-Nya, menjadikanmu dapat merasakan manisnya ketundukan dan kefakiran kepada-Nya setelah merasakan pahitnya terhalang dari sesuatu.

Supaya kamu memakai perhiasan ‘ubudiyyah, menempatkanmu di kedudukan yang tertinggi setelah kedudukanmu dicopot, supaya kamu dapat menyaksikan hikmah-Nya dalam qudrah-Nya, rahmat-Nya dalam keperkasaan-Nya, kebaikan dan kelembutan-Nya dalam paksaan-Nya, dan bahwa sebenarnya tidak memberinya adalah pemberian, pencopotan dari-Nya adalah penguasaan, hukuman dari-Nya adalah pengajaran, ujian dari-Nya adalah pemberian dan kecintaan, dikuasakannya musuh-musuhmu atasmu adalah yang akan menggiringmu kepadaNya.”

Siapa-siapa yang tidak memahami ini dengan akalnya dan menerimanya dengan hati, takkan mendapat apa-apa.  Sungguh, ia tidak siap menerima pemberian Allah. Saat semua orang datang dengan membawa wadah, ia datang dengan tangan hampa. Ia pun pulang tanpa membawa apa-apa. Jika demikian, janganlah ia mencela selain mencela dirinya sendiri.

 

Dirangkum dari buku Kepada Aktivis Muslim (Dr. Najih Ibrahim)