43 Katibah dan Liwa Oposisi Suriah bergabung menjadi Jaisyul Islam

SURIAH – Berita gembira kembali datang dari Suriah. Liwaul Islam, kelompok oposisi bersenjata terbesar di wilayah Damaskus umumkan peleburan 43 katibah dan liwa menjadi satu. Kesatuan tersebut diberi nama jaisyul Islam atau tentara Islam.

Sebagaimana dikutip website berita almokhtasar (29/09/2013), para komandan katibah sepakat memilih Muhammad Zahran Alwash sebagai panglima. Selajutnya, ulama kelahiran Duma tersebut akan menjadi pemimpin tertinggi bagi pejuang suriah yang tergabung dalam Jaisyul Islam.

 Selama ini pejuang suriah terpecah menjadi banyak kelompok. Meskipun demikian, masing-masing kelompok tetap terhubung dan menjalin komunikasi dengan sesama kelompok pejuang.

Beberapa waktu sebelumnya, media Timur Tengah memberitakan ulama-ulama muslim Suriah telah merancang rencana strategis bagi perjuangan Suriah yang diberi nama “Masyru’ Bunyan Marsus” Atau proyek barisan yang kokoh. Salah satu bagiannya adalah upaya penyatuan militan anti rezim Basyar Asad menjadi satu kelompok.

Muhammad Zahran Alwash sendiri bukan tokoh baru dalam perjuangan di Suriah. Beliau adalah putra Syaikh Abdullah Alwash ulama sunni suriah yang terkenal sebagai pejuang manhaj ahlu sunnah. Sebelum revolusi Suriah meletus, Alumni fakultas syariah Universitas Damaskus tersebut aktif mendakwahkan manhaj Ahlu Sunnah Waljamaah. Aktivitas beliau bukan tanpa risiko. Lembaga dakwah yang beliau kelola tak lepas dari pengamatan intelijen rezim.

Saat revolusi Suriah, beliau dimasukkan ke penjara karena memimpin demo anti pemerintah. Namun, akhirnya beliau dibebaskan tiga bulan setelahnya, tepatnya pada 22 Juni 2011 setelah rakyat suriah menggelar demo besar-besaran menuntut demonstran dikeluarkan dari penjara.

Setelah keluar dari penjara, beliau mengubah garis perjuangannya dari demo menjadi perlawanan bersenjata. Untuk itu beliau membentuk militan bersenjata Liwaul Islam guna melawan rezim Basyar Asad. [an-najah/faris]