Abdullah At-Turjuman, Hijrah Menuju Bumi Islam

Hijrah Menuju Islam
Hijrah Menuju Islam
Hijrah Menuju Islam
Hijrah Menuju Islam

An-Najah.net – Abdullah sempat kecewa Mengapa pendeta Agung tetap memilih beragama Nasrani meski tahu kebenaran Islam.

Sang pendeta berkilah bahwa ia menemukan fakta kebenaran Islam setelah dua dan fisiknya lemah.

Selain itu, Iya mencemaskan keselamatan dirinya jika umatnya tahu jika pemimpin agama mereka masuk Islam.

Ia bahkan berandai-andai, seumpama usianya masih muda Abdullah akan langsung masuk Islam.

Sang pendeta kembali menebalkan alasan. Bahwa dirinya masih meragukan kemauan kaum muslimin meringankan beban hidupnya setelah menjadi muallaf.

Ia berfikir bahwa memeluk Islam memang sebuah pilihan standar bagi orang yang ingin selamat di dunia dan akhirat. Jadi bukan sesuatu yang perlu ia dibanggakan karena tidak membawa jasa bagi kaum muslimin. Seperti itulah yang melintas di pikiran sang pendeta.

Sang pendeta menganggap dirinya akan ditelantarkan jika masuk Islam. Ia merasa tidak siap menanggung derita hidup di usia 90 tahun.

Terlebih lagi kehidupannya sebagai pendeta bergelimang kenyamanan. Segala pikiran negatif itu pun terus membelenggu hatinya untuk menjawab panggilan Hidayah.

“Aku, puji Tuhan, tetap memeluk agama Islam dan ajaran yang ia bahwa. Tuhan mengetahui hal itu dariku,” Ucapnya sembari menatap sudut-sudut kamar yang penuh dengan hadiah dan barang barang mewah.

Tak seperti pendeta yang ragu-ragu, Abdullah lebih percaya diri mengutarakan keinginannya masuk Islam. Baginya tidak ada alasan untuk mempertahankan Iman Nasrani.

Bahkan jika perlu, Ia akan meninggalkan tanah Eropa agar bisa hidup tenang dalam agama Islam. Abdullah utarakan keinginannya kepada pendeta untuk meminta pertimbangan.

“Jika kamu memang berakal dan mencari keselamatan, lakukan hal itu segera, niscaya kamu akan meraih dunia dan akhirat. Namun, anakku, ini rahasia kita karena tidak ada seorang pun berada di sini bersama kita saat ini. Jagalah rahasia ini sekuat tenaga.” Kata sang pendeta.

Sang pendeta shader resiko apa yang akan ditanggung Abdullah jika berupaya mewujudkan tekadnya. Segala fasilitas dan kenyamanan hidup akan dicabut. Ia bisa saja di penjara, bahkan dihukum mati.

Dan hukuman tersebut tidak bisa diringankan meskipun yang meminta orang paling terhormat di Eropa.
Kedua tokoh itu saling berjanji menjaga rahasia. Pendeta tidak akan membacakan rencana Abdullah.

Abdullah pun berjanji kepadanya untuk menutupi rahasia dialog tersebut. Setelah itu Ia melakukan segala sesuatu untuk menyiapkan perjalanan, dan tak lupa berpamitan kepada sang pendeta Agung.

Saat berpamitan, Nikola Martel mendoakan kebaikan untuk Abdullah dan membekalinya dengan uang sebanyak 50 keping emas.

Hijrah Menuju Islam

Abdullah lalu pulang ke mallorca. Setelah 6 bulan menetap di kampung halaman, Ia mantap kan tekad untuk hijrah ke negeri kaum muslimin.

Ia Awali perjalanannya dengan berangkat ke pulau sisila yang sekarang masuk wilayah Italia. Abdullah menghabiskan waktu 5 bulan menunggu kapal yang bisa membawanya menuju tunis.

Abdullah berangkat dari sisi Allah saat Mega merah di langit mulai lengkap dan kami tiba di pelabuhan Tunisia ketika matahari mulai bergeser ke barat.

Para pendeta nasrani di Tunis mengetahui perjalanan yang ia lakukan. Merekapun menyambutnya sebagai tamu agung. Ia tinggal dengan selama 4 bulan di rumah saudagar kaya, segala kebutuhannya dicukupi.

Meski demikian, Abdullah tidak pernah lupa tujuannya hijrah ke Tunis. Ia mendapat informasi bahwa Sultan memiliki asisten seorang dokter yang mampu berbahasa Nasrani.

Dokter tersebut bernama Yusuf. Abdullah menemui Yusuf untuk menyampaikan keinginannya masuk Islam. Yusuf senang mendengar penuturan Abdullah, apalagi Ia adalah tokoh Alim Nasrani yang sangat terpandang.

Yusuf membawa Abdullah menemui Sultan Abu Abbas Hamid. Pertanyaan pertama Sultan ialah Berapa umur Abdullah. Abdullah menjawab bahwa usianya sekarang 35 tahun.

Ia lalu ceritakan buku-buku dan referensi apa saja yang mendorongnya meninggalkan tanah Spanyol. Setelah menyimak penuturan jujur tersebut, Sultan lalu berucap, “kamu datang dengan baik-baik. Silahkan masuk Islam dengan berkah Allah.”

Abdullah sadar bahwa keputusan yang berpindah agama akan menyulut kontroversi di kalangan umat Nasrani. Karena itu, ia memindah dipertemukan dengan para saudagar nasrani di hadapan Sultan.

Supaya mereka tidak membuat fitnah dan mencemarkan nama baik nya.
“Setelah itu, insyaaAllah saya akan masuk Islam,” Kata Abdullah.

Kami menginginkan sesuatu seperti yang pernah Abdullah Bin Salam minta kepada Nabi Muhammad saat masuk Islam.” Ujar Sultan sembari mengiyakan permintaan Abdullah.

Beberapa waktu kemudian para saudagar Nasrani menemui Sultan. Sultan selalu menanyakan pendapat mereka tentang jati diri Abdullah.

Mereka menjawab, “Wahai Sultan! Dia adalah orang alim dalam agama kami. Para guru kami mengakui bahwa mereka tidak ada orang yang lebih tinggi derajatnya di bidang ilmu dan agama Nasrani selainnya.”

Selanjutnya Sultan bertanya, “Bagaimana menurut kalian jika ia masuk Islam?”

Mereka menjawab, “Kami berlindung kepada Tuhan, ia tidak akan melakukan itu.”

Jawaban jujur itulah yang ditunggu sang Sultan. Abdullah masuk ke majelis pertemuan dan mengikrarkan kalimat syahadat.

Dua baris kalimat yang hanya diucapkan Abdullah itu menghentak para saudagar Nasrani. Mereka seakan tidak percaya bahwa orang yang paling bahan kitab Injil zaman itu telah berpindah agama menjadi seorang muslim.

Para saudagar tersebut Lalu menyiarkan fitnah bahwa Abdullah “murtad” dari agama Nasrani karena wanita.

Sebab, dalam agama Nasrani pendeta tidak boleh menikah. Meski demikian, Abdullah tidak terganggu dengan fitnah palsu tersebut.

Sultan menemui Abdullah dengan baik dan memuliakannya sebagai orang alim. Sultan mencukupi kebutuhannya, membangunkan rumah hingga menikahkan dengan Putri Haji Muhammad shaffar.

Dari pernikahan ini Abdullah memiliki Putra yang bernama Muhammad. Ia memilih nama itu sebagai doa dan harapan agar putranya mampu meneladani sosok sang nabi.

Abdullah kemudian mempelajari bahasa Arab sebagai kunci untuk membuka perbendaharaan ilmu-ilmu Islam. Kemudian ia menulis buku yang menegaskan kenabian Rasulullah Muhammad.

Ia paparkan pula sejumlah bukti dan Dalil untuk membuktikan adanya distorsi dalam kitab Injil yang sekarang berada ditangan umat Nasrani. Buku tersebut berjudul Tuhfah Al-Arib fi Ar-Radd ‘ala Ahl Ash-Shalib. Buku ini menjadi rujukan utama dalam ilmu Perbandingan Agama sepanjang masa.

Dengan memeluk Islam Abdullah berhasil mematahkan keraguan sang pendeta akan nasib muallaf yang masuk Islam. Perjalanan hidup yang ia alami menyakinkannya akan kebenaran janji Allah.

Bahwa Siapa yang meninggalkan sesuatu demi mengharap ridho Allah, Dia akan memberi ganti yang lebih baik.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 126 Rubrik Harokah

Penulis : Ibnu

Editor : Helmi Alfian