Abdurrahim Baasyir: Jika Tidak Bisa Diperbaiki, Bubarkan Saja Densus 88

AN-NAJAH,  surakarta – Kematian Siyono (39) pertengahan Maret 2016 lalu menyisakan banyak pertanyaan. Semula, pihak kepolisian menyebut  korban meninggal karena kelelahan usai berkelahi dengan Densus 88 dalam proses pengembangan kasus. Namun pihak kepolisian lalu meralat dengan mengatakan bahwa Siyono meninggal akibat “kelalaian” petugas Densus 88.

Pihak keluarga sendiri tidak mempercayai alibi yang diberikan kepolisian begitu saja. Lantaran ketika ‘diambil’ pihak kepolisian tidak memberikan surat penangkapan. Selain itu, kondisi korban masih dalam keadaan bugar dan sehat walafiat. Namun, ketika dikembalikan ke pihak keluarga sudah dalam kondisi sudah menjadi mayat. Ketika kondisi jenazah diperiksa ditemukan banyak bekas luka. Seperti cidera parah di bagian belakang kepala, dan luka-luka di sekujur kaki.

Fakta-fakta tersebut membuat banyak pihak menduga ada unsur pelanggaran hukum dan prosedur dalam kasus kematian Siyono. Terlebih lagi bukan kali ini saja detasemen khusus berlambang burung hantu itu menghilangkan nyawa para terduga dalam proses penyelidikan. Menurut catatan Certified International Investment Analyst (CIIA), ada 120 terduga teroris yang tewas dalam penangkapan (Republika.co.id, Rabu [16/3]).

Untuk melihat kasus ini secara proporsional, An-Najah mengadakan wawancara dengan Ustadz Abdurrahim Baasyir. Khususnya bagaimana sikap yang harus diambil seorang muslim dalam rangka membendung kezaliman terhadap umat Islam.

 

Apa komentar ustadz terkait kasus siyono?

Kita sangat menyesalkan peristiwa seperti itu masih terjadi. Densus 88 melakukan kezaliman, dengan cara-cara yang sebenarnya tidak bisa dibenarkan dari sisi aspek manapun. Kita selalu mempertanyakan kepada pihak kepolisian, Densus 88 dan lainnya. Pada awalnya, pasti berusaha untuk menutup-nutupi, mengatakan ini, mengatakan itu dan sebagainya. Ketika masyarakat tahu (fakta sebenarnya), mereka baru berusaha meralat, memperbaiki dan sebagainya. Kemudian kalau sudah semakin terpojok baru membuka apa yang sebenarnya.

Ini kan cara-cara yang sudah tidak benar dari awal. Maka perlakuan aparat yang katanya penegak hukum jelas harus dihentikan. Kalau perlu harus dikecam dan dikutuk, karena ini bukan cara yang benar. Baik dari siapapun dan dari sisi manapun; dari sisi hukum negara, hukum agama, moral dan sebagainya. Karena ada orang diambil begitu saja tanpa diberi tahu dan surat juga tidak ada.

Ini adalah bentuk penghinaan. Densus 88 selama ini tidak menghormati kebebasan orang menurut hak asasi manusia. Selama ini (para terduga) diculik begitu saja di jalan. Keluarganya tidak diperhatikan. Tidak ada respect kepada keluarga dengan diberitahu dan diberi surat supaya tidak bingung.

 

Apakah tindakan aparat tersebut bisa disebut aksi kriminal?

Tindakan aparat seperti ini justru menimbulkan masalah baru; pertama, penegak hukum malah melanggar hukum. Kedua, bentuk teror-teror baru yang dilakukan aparat negara yang berlindung di balik hukum negara.

Jadi ini sebenarnya bentuk kriminal penculikan. Tapi mereka mereka melegistimasi kelakuan mereka dengan hukum negara. Ironis sekali  jika kondisinya demikian. Sayangnya negara ini selalu saja diam dari dulu, meskipun protes sudah banyak dilakukan. Ahli-ahli hukum, para pakar, para ulama dan tokoh masyarakat sudah sering melakukan protes atas kelakuan Densus 88 yang  sedemikian rupa. Tapi ternyata tidak ada pengaruhnya.  Jadi sepertinya Densus 88 memiliki kekuatan di luar kekuatan negara ini  sehingga mereka merasa menang sendiri dan dimenangkan.

Cara-cara seperti itu harus dihentikan. Kami ingin itu diperbaiki.  Kalau tidak bisa diperbaiki, dibubarkan saja.   Sudahlah sudah banyak kriminal di negara ini, ditambah lagi kriminal yang memakai hukum negara dan diberi seragam.  Sangat tidak layak jika ada (aparat) negara seperti itu. Jadi harus segera dihentikan.

 

Mengapa prosedur yang dilakukan Densus 88 cenderung represif?

Justru itulah yang menjadi pertanyaan. Jika mereka penegak hukum pasti mengikuti aturan mainnya. Aturan main yang ditata dalam tata cara penangkapan, interograsi dan sebagainya. Semua ada ilmu ada caranya. Supaya apa? Supaya tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran;  baik pelanggaran HAM dan sebagainya kepada korban. Dan yang lebih penting, tidak menimbulkan kecurigaan masyarakat terhadap para korban ini.

Jika pertanyaanya mengapa mereka seperti itu? Wallahu a’lam. Kita tidak bisa menebak apa yang sebenarnya mereka lakukan. Tapi siapapun yang berusaha menegakkan kebenaran tidak mungkin mengusahakannya dengan cara yang tidak benar. Kalau dia sedang berusaha menegakkan hukum masak dia sendiri melanggar hukum?

Jika mereka melanggar aturan dengan cara yang tidak benar berarti sedang menegakkan sesuatu yang tidak benar. Karena itu kita memprotes dan tidak setuju dengan cara-cara seperti itu.

Ada sesuatu di balik semua ini, yang sebenarnya sulit kita katakan apa itu. Hal itu bagaikan hantu. Ada ‘hantu’ di balik semua ini yang mengendalikan mereka semua. Ada yang melakukan perlakuan-perlakuan sedemikian rupa untuk mencapai tujuan-tujuan yang tidak jelas arahnya ke mana. Jadi upaya untuk menegakkan hukum juga tidak jelas, karena sekali lagi orang yang mau menegakkan hukum pastinya  akan menempuh dengan cara-cara yang benar bukan dengan cara-cara seperti itu.

 

Apakah itu bisa menjadi indikasi bahwa gerak-gerik Densus 88 sebenarnya pesanan pihak asing?

Anggapan seperti itu sah-sah saja diterima. Kenapa? Karena fakta lapangan menunjukkan demikian. Kita tahu yang melakukan teror di negeri ini bukan hanya muslim. Bahkan non muslim melakukan lebih dari apa yang dilakukan muslim. Dan itu terjadi sudah sedemikian lama. Tapi dalam prosesnya kita tidak melihat satu orang pun dari kalangan non muslim yang dikategorikan sebagai teroris dan diperlakukan demikian.

Bisa dilihat SOP penangkapan aparat dalam menangani kasus Leopard Wisnu Kumala yang mengebom Mall Alam Sutera. Mungkin seperti itu standar (resminya) Densus 88. Tapi, jika pelakunya muslim antum akan bisa melihat dia ditangkap lalu diborgol bukan dengan tangan di depan, tapi di belakang dengan borgol besi. Belum lagi diberi baju kuning, kepalanya ditutup dan dipakaikan kaca mata.

Kenapa begitu? Supaya kelihatan mengerikan dan terlihat penghinaannya. Dari situ sudah terlihat bahwasa Densus 88 memiliki tujuan-tujuan lain atau agenda tersembunyi yang kita rasakan bahwa itu tidak benar.

Kalau  kita melihat nuansanya seperti itu, jika non muslim diperlakukan dengan baik kalau yang muslim malah diperlakukan demikian, bisa jadi Densus 88 ini masih dipengaruhi oleh kalangan-kalangan yang anti Islam. Yaitu Kalangan Islamophobi yang menggunakan energi yang ada pada Densus 88 untuk kepentingan memerangi Islam dan umat Islam.

 

Jika mengacu kepada kinerja Densus 88, apakah tuntutan kepolisian untuk merevisi uu anti teror masih relevan?

Revisi itu bakal tambah merusak lagi. Lha, dikasih kewenangan sedikit saja sudah merusak, malah ingin diberi kewenangan yang lebih luas lagi. Ini namanya hendak membuat negara ini menjadi kandang para kriminal atau bagaimana? Jadi sangat tidak manusiawi dan sangat tidak relevan ketika memiliki wewenang seperti sekarang sudah melakukan kerusakan dan mereka sendiri tidak menjalani hukumnya. Lha, ini mau dikasih sesuatu yang lebih dari itu.

Ini sama dengan kita memberikan kewenangan kepada para perampok para penculik itu dengan sesuatu yang lebih dari kondisi dia sebelumnya. Karenanya, ini harus dipikirkan oleh para wakil rakyat.  Para pengambil keputusan dan stakeholder di negara ini harus mempertimbangkan kembali. Bahwasanya perlu diadakan pengawasan yang lebih ketat untuk Densus 88. Kalau perlu dibuat lembaga-lembaga yang diberi hak mengawasi dan mengkritisi. Supaya dia tidak keluar dari jalurnya.

Dan (pengawasan) itu harus harus melibatkan khususnya orang-orang muslim. Bukan semua diisi orang non muslim atau muslim tapi yang sebenarnya sangat anti Islam. Seharusnya negara ini bisa menilai, apakah pengawas itu nanti seorang muslim yang jujur dengan Islamnya, atau muslim tapi anti Islam. Jangan sampai orang yang seperti itu yang mengawasi. Hasilnya nanti sama saja. Tokoh-tokoh umat Islam harus dilibatkan, dari muhammadiyah, dari NU dari ormas-ormas yang lain. Yang mereka ini lebih kritis dan bisa merasakan dampaknya langsung di masyarakat. Sehingga Densus 88 bisa diarahkan dan dikembalikan ke jalurnya yang semula yakni upaya untuk menghentikan terorisme.

Sekian tahun negara ini dilanda terorisme, tetapi sekian tahun permasalahan tidak semakin berkurang. Tetapi semakin bertambah. Coba lihat rentang dari tahun 2000 hingga 2016, dalam 16 tahun ini apakah kasus terorisme berkurang atau  bertambah? Apakah semakin semakin mudah diurai atau semakin rumit? Kalau semakin rumit berarti menunjukkan lembaga anti teror ini tidak berfungsi. Kinerjanya gagal.

 

Apa ada unsur permainan dalam kasus-kasus terorisme?

Sudah menjadi rahasia umum. Rahasia, tapi umum sudah tahu. Bahwa kasus terorisme selalu by design. Itu sudah menjadi rahasia umum. Yang tidak percaya masalah ini menandakan bodohnya. Orang yang paham konspirasi dan masalah ini bisa melihat isu terorisme sebenarnya by design. Bahkan di tingkat dunia internasional. Karenanya, kita tidak percaya ada sebutan tertentu untuk kalangan muslim khususnya para mujahid yang disebut sebagai teroris. Karena itstilah itu sengaja dibuat untuk memojokkan pihak muslim. Jadi isu terorisme ini sebanarnya adalah by design.

Nah untuk konteks Indonesia sendiri, desainnya memang unik. Wallahu a’lam, bisa jadi karena karakter masyarakat indonesianya yang pemahamannya sangat rendah, sehingga mudah sekali dilakukan pengendalian-pengendalian dari jarak jauh. Kemudian proses konspirasi secara halus dan seterusnya.

Makanya dalam kondisi ini saya menghimbau kepada pemuda muslim untuk hati-hati. Kita memang diperintahkan untuk memperjuangkan Islam dan tegaknya dinul Islam. Tapi marilah kita berpikir matang dan dewasa, tentang apa yang seharusnya dilakukan di situasi, kondisi, dan lokasi seperti negeri kita ini.

 

Maksudnya?

Harusnya ada jawaban untuk pertanyaan apakah dengan cara melakukan serangan bom Islam akan tegak? Setiap pemuda muslim itu harus sadar siapa yang menyuruhnya melakukan aksi itu. Untuk mengendalikan orang untuk melakukan aksi seperti itu, sosok yang muncul tidak mungkin sosok yang berseragam. Tapi dia akan muncul dalam sosok yang dihormati si pemuda; berjenggot, bacaan Al-Quran fasih, menguasai hadits dan sebagainya. Kemudian ia berdalil ini dan itu yang semuanya adalah istimbath (kesimpulan hukum) serampangan. Tapi bagi anak-anak muda yang modalnya semangat dan kurang berfikir panjang akan dianggap benar. Karena kata-kata dan provokasi tersebut sangat menarik.

Seharusnya setiap pemuda berpikir kenapa saya disuruh seperti ini? Kemudian apakah cara ini akan menyelesaiakan masalah untuk negeri kita? Jika saya melakukan ini, apa keuntungannya bagi Islam dan kaum muslimin?

 

Apa langkah kongkrit yang bisa dilakukan umat Islam?

Pertama, umat Islam harus menyampaikan uneg-unegnya. Jadi ketidakpuasan di dalam hati jangan disimpan saja. Menggerutu di rumah saja dan do nothing. Jadi ayolah, keluar sampaikan ekspresi perasaan anda dalam aksi-aksi yang positif. Bisa dengan cara turun ke jalan atau demonstrasi.

Adakan kegiatan itu untuk menarik perhatian pejabat. Untuk menarik perhatian pihak pembuat keputusan untuk memikirkan ulang kenapa masyarakat memprotes. Mereka akan mencari tahu dan kemudian mereka memberikan solusi terbaik. Jadi jangan tinggal diam.

Kemudian para tokoh umat Islam, para pimpinan ormas ataupun tokoh masyarakat juga jangan diam. Sampaikan kepada masyarakat bahwa sebenarnya kita menolak perlakuan zalim. Penolakan itu karena:

Pertama, kita cinta keadilan.

Kedua, untuk mengamankan negeri kita sendiri. Jika tidak demikian berarti negeri kita ini dikuasai oleh para penculik para pembunuh berdarah dingin. Mereka yang setelah membunuh akan menipu; mengatakan ini dan itu, begini, begitu dan sebagainya.

Kedua, usahakan pula diekspresikan melalui publikasi majalah, website, atau yang lainnya. Supaya terjadi gelombang perpindahan pandangan yang tadinya membenarkan hal-hal seperti ini atau diam saja. Perlu ada sebuah upaya-upaya yang dilakukan secara efektif di semua lini masyarakat pada level masing-masing untuk memahamkan.

Kemudian bagi kalangan-kalangan mahasiswa atau pelajar atau apapun juga harus mau tau masalah-masalah seperti ini. Jangan acuh tak acuh. Jangan sibuk dalam urusan foya-foya, itu namanya sedang terbius. Makanya harus mulai sadar. Cari tahu, baca berita, baca media supaya kita tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lalu ketika sudah melihat ini bathil ini salah, maka jangan tinggal diam. Semua dalam rangka membawa kebaikan untuk diri kita sendiri dan negeri kita ini.

 

Sebagai closing statemen, apa pesan ustadz kepada kaum muslimin yang hari ini memberikan dukungan kepada pihak yang terzalimi?

Pertama, ini adalah bentuk ekspresi kita yang tidak hanya untuk mengekspresikan sikap kita semata,  tetapi ini satu kewajiban kita. Karena Rasulullah SAW telah menyatakan kepada kita:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barang siapa yang melihat kemungkaran hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Artinya ketika kita melihat seorang muslim dibunuh begitu saja tanpa kejelasan dan kemudian kita ditipu mentah-mentah, lalu kita hanya diam. Ini jelas kemungkaran dan kita tidak boleh diam, kaum muslimin harus bergerak.

Kedua, jangan diam saja atau malah berpihak (kepada pelaku kezaliman). Allah SWT melarang berpihak kepada orang zalim. Allah dalam surat Hud ayat 113 menegaskan hal tersebut. Tidak boleh berpihak kepada orang zalim, membela mereka, apalagi kalau tahu mereka salah. Dengan membela mereka itu namanya kita sedang memesan tempat di neraka. Apalagi ini masalah bukan main-main.

Kita tidak boleh berpihak kepada kezaliman yang kecil saja, apalagi kalau dia melakukan kezaliman yang besar. Yaitu menumpahkan darah kaum muslimin dan menghilangkan nyawa kaum muslimin yang Rasulullah SAW bersabda:

لِأَنْ تُهْدَمَ الْكَعْبَةُ حَجَراً حَجَراً أَهْوَنُ عِنْدِ اللهِ مِنْ أَنْ يُرَاقَ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ

“Ka’bah dirobohkan batu demi batu itu lebih ringan di sisi Allah daripada darah seorang muslim dialirkan.”

Ini hal besar, jadi semua muslimin yang bergerak mengeluarkan tenaga waktu, harga dan sebagainya untuk mengekspresikan ini dan melawan kezaliman ini adalah sebuah amal shalih yang insyaAllah ada nilainya. Dan pasti Allah SWT juga akan memberikan kebaikan pula di dunia.

Ketiga, Kita dijadikan umat yang memiliki karakter dasar amar makruf nahi mungkar.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)

Kalau kita menghilangkan karakter itu, berarti kita kehilangan karakter sebagai umat terbaik. Jadi kita akan menjadi umat yang terburuk yang sama dengan orang-orang kafir itu sama dengan ahlu bathil dan sebagainya.

Maka upaya untuk melakukan perlawanan dalam masalah ini perlu didasari dan diniati dalam rangka untuk menegakkan kebenaran dan dalam rangka amal shalih kita. Serta dalam rangka taqarrub kita kepada Allah SWT. (*)