Abu Rusydan; Perlu Berpikir Global dan Aksi Global Dalam Menghadapi Syiah

Ust. Abu Rusydan
Ust. Abu Rusydan

Surakarta (An-najah.net) – Gerakan Syi’ah merupakan gerakan global yang dikerjakan dengan semangat amal gobal. Oleh karena itu, sepatutunya para aktivis Islam juga mulai mengarahkan gerakkan mereka dari tatanan sektarian menuju gerakan dan semangat amal global pula. Hal ini disampaikan oleh Ustat Abu Rusydan dalam Kajian Ilmiah Dan Bedah Majalah An-Najah yang dilaksanakan di Masjid Jami’ MUI Surakarta, Ahad (5/4).

Tokoh karismatik kelahiran Kudus, Jawa Tengah ini mengingatkan peserta kajian bahwa semestinya kesadaran kaum muslimin dalam mengikuti kajian keislaman tidak berhenti pada kesadaran rasa dan semangat, tapi harus dilanjutkan sampai pada kesadaran ilmu dan taktis perencanaan, terutama dalam menghadapi laju pergerakan Syi’ah. Karena sejatinya kajian mengenai membongkar kesesatan dan bahaya Syi’ah sudah dilaksanakkan jauh sebelum NKRI ini lahir, namun seiring berjalannya waktu, jumlah mereka bukannya berkurang malah kian bertambah.

Menaggapi isu yang berkembang di tengah masyarakat bahwa Syi’ah Indonesia ingin melaukan revolusi untuk menguasai pemerintahan, Beliau berkata, sebenarnya tidak masalah jika Syi’ah merencanakan meraih kekuasaan, karena pada dasarnya maing-masing pengusung ideologi menginginkan hal yang sama, termasuk Islam, namun yang menjadi masalah adalah ketika Syi’ah memakai jubah Islam untuk meraih cita-cita mereka.

Dengan mengutip pernyataan DR. Salman Al-‘Audah, Ustad Abu Rusydan mengatakan bahwa kaum muslim hari ini harus mengadakan tiga hal:

Pertama, Takwinul Ummah atau Takwinul Jama’ah (-menguatkan umat atau jama’ah).

Permasalahan utama kaum muslimin hari ini adalah mereka tidak memiliki ummah yang jelas, dimana mereka, dimana wilayahnya dan siapa pemimpinnya. Sehingga ketika kaum muslimin diserang, mereka tidak memiliki komunitas, wilayah dan pemimpin yang dapat melindunginya. Berbeda halnya dengan ummah-ummah yang lain, seperti ummah Komunis, Sosialis, Nasionalis, Demokrasi dan lain sebagainya yang memiliki masyarakat, wilayah dan pemimpin yang jelas yang dapat mengayominya.

Kedua, Bina’u Daulah Islamiyyah (mendirikan negara Islam).

  1. Abdullah Azam pernah ditanya mengenai jenis negara yang ingin dibangun, maka beliau menjawab, “Kami menginginkan negara yang bisa melindungi kaum muslimin di seluruh dunia sebagaimana negara syi’ah Iran melindungi seluruh pengikut syi’ah di seluruh dunia.

Ketiga, al-Qiyam bil Jihad (berjihad dijalan Allah).

Kaum muslimin harus menanamkan pada diri mereka rela berkorban cinta syahid. Sehingga musuh merasa gentar dan takut untuk bermain-main.(Ahsan/annajah)