Aceh Bumi Jihad Para Pejuang Islam

An-najah.net – Aceh dikenal dengan “Serambi Mekah”. Penamaan ini bukanlah tanpa sebab, namun memiliki latar belakang sejarah yang panjang. Dimana Aceh merupakan titik pertama kali Islam masuk kenusantara ini.Bermula dari tanah Aceh ini, dilaksanakanpenyebaran agama Islam ke berbagai daerah. Sehingga sampai berdirilah daulah-daulah (kerajaan-kerajaan) Islam baik di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Maluku dan daerah-daerah lainnya.

Perang aceh
Perang aceh

Provinsi di ujung barat Indonesia ini mempunyai sejarah panjang. Terkhusus “Perang Sabil” dalam mengusir dua bangsa penjajah. Pertama bangsa Portugis dan kedua bangsa Belanda. Perkataan “Perang Sabil” menjadi semboyan pada waktu itu, dimana kata perang sabil sendiri berasal dari kepercayaan AqidahIslam.
Dalam Al-Quran, perang disebut Qital, termasuk sebagai salah satu pengertian dari artikata Jihad. Sedangkan kata Sabil adalah singkatan dari Fi Sabilillah yang artinya di jalan Allah. Jadi Jihad Fi Sabilillah (Perang di Jalan Allah) mengandung arti perang yang mengikuti ketentuan (syari’at) Allah, sesuai dengan wahyu-Nya, dan mempunyai contoh dari sunnah Rasul-Nya, Muhammad SAW.
Aceh Darussalam telah banyak mencetak para mujahid dan mujahidah bermental baja. Pembentukan mental ini tidak lepas dari sibgoh (celupan) nilai-nilai agama Islam. Bahkan, Dampak dari perang Sabil ini banyak penduduk Aceh yang menjadi syuhada.
Hampir 40-an tahun, perang Aceh berjalan (1873 – 1912). Perang terlama didalam menghadapi penjajah Belanda di Indonesia. Rakyat aceh memiliki kesadaran kolektif untuk berjihad dalam memobilisasi melawan Belanda. Disamping itu proses kaderisasi mencetak generasi mujahid terus berlanjut. Ibarat “Mati satu tumbuh seribu”, meskipun korban terus berjatuhan. Namun, semangat juang para mujahid dan mujahidah dari Aceh tidak pernah padam.
Perang SabilVs Salib
Pasca dibukanya Terusan Suezpada tahun 1869. Alur perlayaran dari Eropa ke Asia mengalami perubahan. Dimana mereka dulu untuk menuju Indonesia harus mengitari benua Afrika, tetapi dengan dibukanya Terusan Suez.Mereka bisa langsung menuju Indonesia melewati lewat Terusan Suez kemudian ke Aden dan Kolombo terus ke Selat Malaka. Dengan demikian posisi Sumatera, khususnya Aceh menjadi strategis. (Abdul Qadir Jaelani, Perang Sabil versus perang salib, hal; 55).
Melihat arti strategis Aceh bagi pelayanan dunia ini. Belanda sangat berambisius untuk menguasai Aceh.Akhirnya Belanda membuat makar bagaimana cara untuk menguasainya. Apalagi dimasa itu Belanda berhasil menumpas gerakan jihad ditempat lain seperti Banten, Jawa, Padri dan Banjarmasin. Hal inilah yang membuat Belanda merasa superiotas yang angkuh. untuk menguasai Aceh Darusalam.
Namun, gelagat Belanda ini tercium oleh sultan Aceh. Kesultanan Aceh mengirim utusan ke khilafahan Turki Utsmani untuk meminta bantuan dalam menghadapi kekuatan kafir Belanda. Akan tetapi, utusan ini mengalami kegagalan karena Turki sendiri ketika itu dalam kondisi lemah, kemudian mereka sedang menghadapi kekuatan negara-negara Kristen Eropa; Perancis dan Inggris. Sehingga Turki tidak bisa memberi payung keamanan terhadap kesultanan Aceh, karena letaknya sangat jauh.
Akhirnya peperangan tidak dapat dihindarkan. Namun, perlu diketahui ada sebuah kaidah “Ketika pasukan kafir menyerang kesuatu wilayah kaum muslimin maka hukum jihad menjadi wajib ‘ain”. Keyakinan seperti inilah yang membakar semangat juang rakyat Aceh untuk berjihad.
Pada hakekatnya Perang Aceh merupakan perang sabil melawan perang salib. Dimana pasukan sabil diwakili oleh kaum muslimin Aceh. Sementara itu kekuatan salib yang wakili oleh Belanda. Penjajah Belanda sendiri datang ke Aceh dengan membawa misi gold, glory, dan gospel.
Dampak penjajahan Belanda atas Aceh. Memunculkan para mujahid yang berjihad untuk mengusir kekuatan kafir itu. Disana kita kenal; Teuku Umar, Teungku Chik di Tiro, Cut Nyak Dhien, dan Cut Meutia.
Perang Aceh ini juga membuktikan kegigihan perlawanan terhadap kolonialis Belanda yang ingin menancapkan kekuasaannya di Aceh. Dengan berlangsungnya perang selama hampir 40 tahun, secara keseluruhan Aceh belum takluk kepada Belanda walaupun sultan dan sejumlah hulubalang sudah menyerah. Namun perlawanan di daerah masih terus berlanjut oleh kelompok-kelompok pejuang yang terdiri dari ulama, dibantu sejumlah hulubalang yang belum menyerah dan rakyat.
Resep Pewarisan Jihad
Keberanian, keteguhan dalam medan jihad para pejuang Aceh tidak lahir begitu saja. Namun ada proses pewarisan semangat jihad yang terus berlanjut kepada anak turunnya. Salah satu cara untuk mewariskan ilmu jihad itu melalui hikayat para mujahid. Hikayat ini adalah salah satu inspirator besar perjuangan rakyat Aceh.
Hikayat Perang Sabil merupakan sebuah syair kepahlawanan yang membentuk suatu irama dan nada heroik yang mampu membangkitkan semangat para pejuang Aceh ratusan tahun lamanya, dari zaman kolonial portugis hingga zaman penjajahan Belanda, dan setelahnya.
Hikayat ini selalu diperdengarkan ke setiap telinga anak-anak Aceh, laki-laki, perempuan, tua muda, besar kecil dari zaman ke zaman dalam sejarah Aceh sepanjang abad.
Pengaruh hikayat perang sabil mampu membangkitkan semangat jihad siapa saja yang membaca ataupun mendengarnya untuk terjun ke medan perang. Sehingga HC Zentgraaff dalam bukunya berjudul “ATJEH” (1983) menulis banyak pemuda yang memantapkan langkahnya ke medan perang karena pengaruh hikayat Perang Sabil.
Menurut HC Zentgraaff, hikayat perang sabil telah menjadi momok yang sangat ditakuti oleh Belanda, sehingga siapa saja yang diketahui menyimpan, apalagi membaca hikayat perang sabil itu mereka akan mendapatkan hukuman dari pemerintah Belanda dengan membuangnya ke Papua atau Nusakambangan.
Belajar dari sejarah, maka Aceh-lah negeri yang ditakuti oleh Portugis dan sulit untuk ditaklukkan oleh Belanda sejak tahun 1873. Beribu macam taktik perang yang digunakan oleh para penjajah tetapi tidak dapat menguasai Aceh yang unggul dengan taktik perang gerilyanya. Sejarah mencatat bahwa perang kolonial di Aceh adalah yang paling alot, paling lama, dan paling banyak memakan biaya perang dan korban jiwa penjajah. Namun, mereka tidak bisa menguasai Aceh secara keseluruhan,apalagi menguasai hati dan pikiran rakyat Aceh lebih tidak bisa. (Anwar/annajah dikutib dari majalah annajah edisi 114 rubrik jelajah)