Aceh

Saya mengisi kajian bersama M Khottot (FUI) Desember 2010 lalu. Tema-nya seputar ‘Political Jihad’. Ada semacam curhat yang sempat mengemuka saat itu; menyangkut issu Sufyan Tsauri yang menantang mubahalah Habib Rizq, Munarman, atau elemem Islam Jakarta lain. Sufyan menolak dikatakan agen polisi atau penyusup. Ia memang mantan polisi, tapi sedang bertaubat sungguh-sungguh setelah mendapat buah dakwah tauhid.

Hal yang membuat M Khottot prihatin adalah ketidakpahaman akan konteks perlawananan. Ia menjelaskan bahwa elemen Islam hanyalah menyampaikan kesaksian apa adanya; ihwal pelatihan di Mako Brimob pra Aceh. Saksinya masih ada dan hal demikian (berlatih di kandang musuh) tentu bukanlah standart i’dad. Karenanya, elemen Islam serasa menemukan amunisi untuk menyerang polisi dengan membeberkan keganjilan ini kepada publik.

Ia menyayangkan, bahwa upaya menyudutkan polisi dengan membeberkan fakta yang tak terbantahkan, seolah menjadi anti klimak dengan tantangan mubahalah Sufyan. “Jika ia mujahid, harusnya minimal bersikap diam, bukan malah memposisikan kami sebagai Nasrani yang harus diajak mubahalah.” Ujar M. Khottot. “Kami melawan polisi, tapi kami justru dimusuhi oleh yang mengaku mujahid itu sendiri. Siapa yang diuntungkan? ” Tambahnya.

Misteri Sufyan Tsauri memang banyak mengemuka terkait terbongkarnya kamp militer di hutan Jantho. Testimoni salah satu peserta, menjadi dasar beberapa tokoh Islam berbicara di publik. Intinya, ada relasi kuat antara upaya pengkaitan Aceh dengan ustadz Abu Bakar Baasyir, sementara ada relasi kuat antara Aceh dengan Mako Brimob. Dan Sufyan yang diposisikan ‘pemain kunci’, tentu menjadi sangat tersudut. Saya sendiri pernah menulis refleksi berjudul “Al-Akh Letkol”. Beruntung, saat itu saya masih menggunakan bahasa aman, “Jika informasi itu benar, maka kita harus prihatin karena untuk kesekian kalinya gerakan Islam tersusupi.” Dan ‘Letkol’ juga jenis jenjang karir di TNI dan bukan di Kepolisian J.

Saat beberapa orang mengkomplain tulisan saya, saya menyatakan “Tolong tangkap pesan intinya.” Saya juga menjelaskan bahwa bagi saya Sufyan intel atau bukan itu tidak terlalu penting. Tapi bahwa di gerakan Islam ada penyusupan, dan modus-modusnya seperti saya tulis, itu adalah fakta yang selama ini terjadi. Dan kita berharap, aktifis Islam belajar dari hal-hal semacam ini.

Sufyan memang akhirnya menulis testimoni yang cukup panjang, menyangkut siapa dirinya, latar belakang keluarganya, pergulatan fikrahnya, perkenalan dengan aktifis jihad, sampai obsesinya untuk bisa menjadi bagian dari Al-Qaidah. Ia juga menuturkan bagaimana awal mula kamp militer di Jantho, termasuk pertemuannya dengan Ketua FPI Aceh Yusuf Qordhawi, pelatihan di Mako Brimob dan lain-lain.

Yang menarik dari testimoninya yang panjang adalah saat ia membeberkan siapa Yusuf Qardhawi. Sejak awal Sufyan dan beberapa kawannya menaruh curiga dari sejak penggunaan nama, program pengiriman laskar ke Palestina (karena tidak lazim bagi lembaga formal dan tidak ada program demikian di FPI Pusat), adanya indikasi bahwa ia yang menerbitkan surat kaleng ke Abdullah Sonata CS berisi ancaman akan melaporkan kegiatan militer di Jantho ke Polisi (ada nama-nama yang hanya Yusuf dan Sufyan yang tau). Karena kecurigaan inilah, Yusuf tidak dilibatkan dalam pelatihan di Jantho.

Yudi, kawan Sufyan bahkan beberapa kali memergoki Yusuf bersama intel, kendati Yusuf mengatakan bahwa ia (yang dicurigai intel) adalah anggota laskar. Klimaknya adalah adanya informasi dari Abu Syam (DPO) bahwa berdasarkan keterangan kawannya yang juga tetangga Yusuf, bahwa Yusuf adalah intel Angkatan Darat. Saat Sufyan kemudian ditangkap, berdasarkan keterangan penyidik, ia mengaku telah mengetahui data mereka termasuk anak-anak Aceh yang di Mako lengkap dengan foto-foto mereka. Padahal yang memiliki dokumen itu hanya Yusuf. Maka saat Sufyan mengklarifikasi apakah informasi itu dari Yusuf, penyidik itu membenarkan.

Informasi-informasi ini sangat menarik. Sayang sekali, Sufyan menuliskan karena ‘keterpaksaan’ dan dorongan dari kawan-kawannya sebagai jawaban atas issu yang menyudutkan dirinya. Jika FPI tidak berteriak-teriak soal ini, mungkin info berharga semacam ini tidak pernah terbongkar. Kita baru menyimak terstimoni Sufyan dan belum tau bagaimana tanggapan Yusuf Qordhowi nanti. Benarkah dia intel TNI AD? Waktu yang akan menjawab.

Tapi point penting dari semua ini adalah, bahwa sudah ada kesadaran sedari awal dari pelaku Aceh tentang adanya ‘penetrasi inteljen’, juga adanya pengakuan Sufyan bahwa lokasi pelatihan di Jantho kurang standart dari sisi amniah. Asal-usul senjata juga masih misteri, benarkah dari Brimob? Kenapa bisa beli disana? Dan lain-lain? Ini hal-hal penting untuk sebuah evaluasi.

Banyak pelajaran berharga dari hal ini, tapi saya teringat sebuah diskusi di kantor Jazeera. Saat itu, kami tengah membahas issu menarik soal jorgon ‘nidham la-tandzim’ yang diusung oleh As-Suri dalam Dakwah Muqawamah-nya. ‘Mewaralabakan’ ide perlawanan ke seluruh penjuru dunia, dengan tanpa harus satu tandzim, adalah solusi yang ditawarkan beliau setelah melihat krisis kemananan yang dialami banyak harakah di setiap Negara. Pola struktur piramid, membuat sebuah harakah rawan digulung jika ada yang tertangkap. Karenanya perlu berubah menjadi sel-sel terputus yang tidak saling berhubungan.

Jadi petimbangan utamanya adalah ‘amniyah’ selain juga diharapkan adanya peningkatan kwantitas operasi. Namun bukan berarti ide itu tanpa kelemahan. Dalam diskusi itu sempat mencuat pandangan bahwa ‘nidham la-tandzim’ serupa desentralisasi ‘liberal’. Ia sangat berlawanan dengan teori ‘konsentrasi’ dalam perlawanan.

Ia juga memiliki sisi rawan di pengendalian operasi baik menyangkut tujuan, sasaran, methode, dan eksekusi. Kerawanan terutama dari sisi penetrasi inteljen dan false flag operation (operasi bendera palsu; operasi rahasia yang dibuat untuk menipu publik sehingga publik mengira operasi tersebut dilakukan oleh kelompok lain). Intelejen Prancis, sangat ahli ngerjain gerakan jihad di Aljazair dalam hal ini. Tansiq itu juga penting. Tapi bukan karena atas asas pragmatisme kemudian melupakan standart yang lain.

Menyimak curhatnya M Khottot dan Sufyan Tsauri terasa ada gap. Sufyan minta dipahami sebagai orang yang bersungguh-sungguh berjihad, dan kini harus membayar dengan kurungan penjara. Tudingan sebagai penyusup oleh tokoh-tokoh Islam dirasa sebagai ‘penggembosan Jihad’. Disatu sisi, M Khottot dkk. juga tidak merasa sedang memusuhi kelompok mujahidin melainkan justru sebaliknya; ingin membela. Disini ada problem komunikasi. Maka dengan berseloroh Khottot berujar, ‘kawan-kawan yang mau main letup-letupan, sebaiknya mengkomunikasikan dengan kami.’

Hal lain, As-Suri dalam seri “siyasinya” memberikan pesan yang sangat kuat tentang bagaimana mengelola seluruh potensi kekuatan menjadi alat pukul musuh. Secara ekstrim, beliau bahkan mengusulkan, bagaimana menjadikan musuh menjadi netral, pihak netral menjadi simpati, dan simpatisan menjadi pejuang. Jadi bukan Against All Enemies (memerangi seluruh musuh), terlebih musuh yang dimaksud adalah aktifis Islam sendiri. Bambang Sukirno [Direktur Jazera]