Ada Apa Dengan Nyanyian

Musik

An-Najah.net –

Lagu itu awalnya dari setan dan akhirnya dapat murka Allah Ta’ala

(Umar bin Abdul Aziz)

Hampir dalam seluruh gerak kehidupan kaum muslimin, entah anak-anak, remaja maupun orang tua, nyanyian sudah menjadi bagian yang dominant.

Hari-hari mereka bergulir dengan diiringi nyanyian-nyanyian. Sampai-sampai banyak diantara mereka berkata “Tiada hari tanpa nyanyian”.

Bahkan pada saat ini, nyanyian menjadi masalah yang mengkhawatirkan dan harus ditanggapi dengan serius.

Cobalah kita perhatikan keseharian penduduk Indonesia baik dari kalangan balita sampai lansia apalagi anak muda zaman sekarang. Mereka banyak meniru para idola mereka entah gaya berdandan, obrolan sampai pergaualan keseharian mereka.

Nyanyian merupakan salah satu hiburan yang memiliki keindahan tersendiri. Tapi dibalik itu terdapat suatu larangan keras dari agama Islam.

Zaman sekarang sudah banyak nyanyian yang menyeleweng dari ajaran Islam. Seperti dihubungkan dengan kisah-kisah cinta atau porno. Maka dari itu sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu nyanyian yang halal dan haram.

Ketentuan Lagu Islami

Para ulama salaf sepakat menyatakan segala bentuk musik makruh. Sedangkan pendapat ulama khalaf yang bernama Dr.Yusuf Qaradhawi membolehkan musik dengan tiga syarat yang sesuai dengan jiwa Islam, yaitu:

Pertama, tema atau isi musik nyanyian harus sesuai dengan ajaran dan adab Islam. Selama tidak bertentangan dengan syari’at Islam maka diperbolehkan.

Kedua, Mempertimbangkan Penampilan penyanyi/pemusik.

Kadang-kadang syair suatu nyanyian tidak “kotor,” tetapi penampilan biduan/biduanita yang menyanyikannya ada yang sentimentil, bersemangat, ada yang bermaksud membangkitkan nafsu dan menggelorakan hati yang sakit, memindahkan nyanyian dari tempat yang halal ke tempat yang haram, seperti yang didengar banyak orang dengan teriakan-teriakan yang tidak sopan.

Ketiga, Penyanyi maupun Isi dan temanya tidak berlebih-lebihan. Kalau agama mengharamkan sikap berlebih-lebihan dan israf dalam segala sesuatu termasuk dalam ibadah, maka bagaimana menurut pikiran Anda mengenai sikap berlebih-lebihan dalam permainan (sesuatu yang tidak berfaedah) dan menyita waktu,

meskipun pada asalnya perkara itu mubah? Ini menunjukkan bahwa semua itu dapat melalaikan hati manusia dari melakukan kewajiban-kewajiban yang besar dan memikirkan tujuan yang luhur, dan dapat mengabaikan hak dan menyita kesempatan manusia yang sangat terbatas. (Fatwa Yusuf Qaradhawi: Hukum Musik/Nyanyian)

Alangkah tepat dan mendalamnya apa yang dikatakan oleh Ibnul Muqaffa’: “Saya tidak melihat israf (sikap berlebih-lebihan) melainkan disampingnya pasti ada hak yang terabaikan.”

Nyanyian Menjerumuskanmu

Apabila nyanyian atau sejenisnya dapat menimbulkan rangsangan dan membangkitkan syahwat, menimbulkan fitnah, menjadikannya tenggelam dalam khayalan, maka hendaklah ia menjauhinya.

Hendaklah ia menutup rapat-rapat pintu yang dapat menjadi jalan berhembusnya angin fitnah ke dalam hatinya, agamanya, dan akhlaknya.

Tidak diragukan lagi bahwa syarat-syarat atau ketentuan-ketentuan di atas pada masa sekarang sedikit sekali dipenuhi dalam nyanyian, baik mengenai jumlahnya, aturannya, temanya, maupun penampilannya dan kaitannya dengan kehidupan orang-orang yang sudah begitu jauh dengan agama, akhlak, dan nilai-nilai yang ideal.

Karena itu tidaklah layak seorang muslim memuji-muji mereka dan ikut mempopulerkan mereka, atau ikut memperluas perusakan yang mereka lakukan.

Karena itu lebih utama bagi seorang muslim untuk mengekang dirinya, menghindari hal-hal yang syubhat, menjauhkan diri dari sesuatu yang akan dapat menjerumuskannya ke dalam lembah yang haram.

Takutlah Kaum Hawa

Khusus bagi penyanyi wanita maka bahayanya jelas jauh lebih besar. Karena itu Allah mewajibkan wanita agar memelihara dan menjaga diri serta bersikap sopan dalam berpakaian, berjalan, dan berbicara.

Yang sekiranya dapat menjauhkan kaum lelaki dari fitnahnya dan menjauhkan mereka sendiri dari fitnah kaum lelaki, dan melindunginya dari mulut-mulut kotor, mata keranjang, dan keinginan-keinginan buruk dari hati yang bejat.

Karena penyanyi perempuan, hakikatnya dia sedang tidur, tapi malaikat masih mencatat dosa untuknya. Dia sedang shalat, tapi malaikat masih mencatat dosa untuknya.

Dia makan, minum, belajar, bersih-bersih rumah, tapi tetap saja malaikat mencatat dosa untuknya, sampai-sampi dia diam tidak beraktivitas tetap saja malaikat tetap mencatat dosa baginya.

Pertanyaannya apa salah dia? Ternyata, banyak mata yang melihat foto, vidio dirinya di media sosial. Setiap kali pria melihat fotonya, setiap kali pria melihat vidionya, maka Malaikat mencatat dosa untuknya. Naudzubillah min dzalik

Walaupun wanita muslimah yang bernyanyi berarti menampilkan dirinya untuk memfitnah atau difitnah, juga berarti menempatkan dirinya dalam perkara-perkara yang haram.

Karena banyak kemungkinan baginya untuk ber-khalwat (berduaan) dengan lelaki yang bukan mahramnya, misalnya dengan alasan untuk mengaransir lagu, latihan rekaman, melakukan kontrak, dan sebagainya.

Selain itu, pergaulan antara pria dan wanita yang ber-tabarruj serta berpakaian dan bersikap semaunya, tanpa menghiraukan aturan agama, benar-benar haram menurut syariat Islam. Wallahu ‘lam

Penulis : Ibnu Jihad

Editor : Helmi Alfian