Adab Mujahid Dalam Berbakti kepada Orang Tua

Berbakti kepada orang tua
Berbakti kepada orang tua

An-najah.net – Berbuat baik kepada kedua orang tua adalah kewajiban seorang anak. Apalagi jika telah berkeluarga. Laki-laki lebih besar tanggung jawabnya daripada perempuan.Orang tua lebih berhak terhadap anak laki-lakinya. Sementara perempuan yang lebih berhak adalah suaminya.

Rasulullah SAW pernah ditanya ibunda Aisyah,“Siapakah manusia yang paling berhak atas seorang istri?” Beliau bersabda, “Suaminya.” Aku bertanya lagi, “Lalu siapakah manusia yang paling berhak atas seorang laki-laki?” Beliau bersabda, “Ibunya.”

Berbakti kepada Orang Tua

Persepsi yang keliru adalah anggapan berbakti kepada kedua orangtua sebatas ketika masih kecil. Sementara setelah menikah, hak-hak orang tua khususnya terhadap anak laki-laki tergantikan dengan istri. Tak jarang, seorang suami harus meminta ijin kepada istrinya untuk mengunjungi kedua orang tuanya, atau memberikan rezki yang didapatnya. Mereka tidak jadi memberikan, jika istri tidak mengijinkannya.

Dalam sebuah hadits, ada seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang siapa yang paling berhak atas dirinya. “Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?” Rasulullah SAW menjawab, “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Ibumu,” jawab beliau. Kembali orang itu bertanya, “Kemudian siapa?” “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanya orang itu lagi. “Kemudian ayahmu,” jawab Rasulullah SAW(HR. Bukhari dan Muslim)

Berikut beberapa kisah yang dapat diambil pelajaran, betapa tanggung jawab dan kewajiban terhadap orang tua tidak tergantikan bagi anak laki-laki meskipun terhadap istrinya.

Kisah tiga pemuda yang terjebak dalam gua

Kisah ini menjadi inspirasi betapa amal yang paling ikhlas adalah saat seorang anak berbakti kepada kedua orang tuanya. Dikisahkan, ada tiga orang dalamperjalanan. Turun hujan lebat, lalu mereka pun berlindung ke dalam sebuah gua di sebuah gunung. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung itu lalu menutupi mulut gua. Lalu sebagian mereka berkata kepada yang lain, “Perhatikan amalan shalih yang pernah kamu kerjakan karena Allah, lalu berdoalah kepada Allah dengan amalan itu. Mudah-mudahan Allah menyingkirkan batu itu dari kalian.”

Lalu berdoalah salah seorang dari mereka, “Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai dua ibu bapak yang sudah tua renta, seorang istri dan anak-anak yang masih kecil, di mana aku menggembalakan ternak untuk mereka. Kalau aku membawa ternak itu pulang ke kandangnya, aku perahkan susu dan aku mulai dengan kedua ibu bapakku, lantas aku beri minum mereka sebelum anak-anakku. Suatu hari, ternak itu membawaku jauh mencari tempat gembalaan. Akhirnya aku tidak pulang kecuali setelah sore, dan aku dapati ibu bapakku telah tertidur. Aku pun memerah susu sebagaimana biasa, lalu aku datang membawa susu tersebut dan berdiri di dekat kepala mereka, dalam keadaan tidak suka membangunkan mereka dari tidur. Aku pun tidak suka memberi minum anak-anakku sebelum mereka (kedua orang tuanya) meminumnya. Anak-anakku sendiri menangis di bawah kakiku meminta minum karena lapar. Seperti itulah keadaanku dan mereka, hingga terbit fajar. Maka kalau Engkau tahu, aku melakukan hal itu karena mengharapkan wajah-Mu, bukalah satu celah untuk kami dari batu ini agar kami melihat langit.”Lalu Allah bukakan satu celah hingga mereka pun melihat langit.

Kisah Juraij, Ahli Ibadah yang melalaikan Ibunya

Kisah lainnya ialah Juraij. Ia lebih mementingkan ibadahnya daripada panggilan ibunya. Dikisahkan Juraij sedang shalat di sebuah tempat peribadatan, lalu datanglah ibunya memanggil. Lalu ibunya berkata, “Hai Juraij, aku ibumu, bicaralah denganku!” Kebetulan perempuan itu mendapati anaknya sedang melaksanakan shalat. Saat itu Juraij berkata kepada diri sendiri di tengah keraguan,“Ya Rabbi! Ibuku ataukah shalatku.” Kemudian Juraij memilih meneruskan salatnya. Maka pulanglah perempuan tersebut. Tidak berapa lama perempuan itu kembali lagi untuk yang kedua kali. Ia memanggil,“Hai Juraij, aku ibumu, bicaralah denganku!” Kembali Juraij bertanya kepada dirinya sendiri,“Ya Rabbi! Ibuku atau salatku.” Lagi-lagi dia lebih memilih meneruskan salatnya.

Karena kecewa, akhirnya perempuan itu berkata,“Ya Rabbi! Sesungguhnya Juraij ini adalah anakku, aku sudah memanggilnya berulang kali, namun ternyata dia enggan menjawabku. Ya Rabbi! Janganlah engkau mematikan dia sebelum Engkau perlihatkan kepadanya perempuan-perempuan pelacur.”

Suatu hari seorang penggembala kambing berteduh di tempat peribadatan Juraij. Tiba-tiba muncul seorang perempuan dari sebuah desa kemudian berzina dengan sang penggembala. Wanita itu akhirnya hamil dan melahirkan seorang anak lelaki. Ketika ditanya oleh orang-orang,“Anak dari siapakah ini?” Perempuan itu menjawab,“Anak penghuni tempat peribadatan ini.”

Masyarakat marah dengan mendatangi Juraij. Mereka merobohkan rumahnya. Namun, saat Juraij bertanya kepada anak tersebut, dengan pertolongan Allah anak tersebut menjawab bahwa bapaknya adalah pengembala kambing.

Kisah-kisah tersebut memberikan arti yang dalam bagi seorang muslim arti berbakti kepada kedua orang tua, khususnya bagi seorang anak laki-laki.(Anwar/dikutip dari annajah rubrik usratuna edisi 114)