Adab Mujahid Kepada Kedua Orang Tua

Berbakti kepada Kedua Orang Tua
Berbakti kepada Kedua Orang Tua

Iqomatuddin merupakan sebuah kewajiban. Sebagai seorang mujahid dimana dan kapan pun ia berada berkewajiban untuk menegakkan keislamannya. Ada satu adab yang harus diperhatikan sebagai seorang mujahid. Adab itu adalah bagaimana beradab kepada kedua orang tua. Banyak kisah yang menjelaskan akan keutamaan berbakti kepada orang tua, dan bahaya durhaka kepadanya.

Melalui sebuah kisah-kisah itu tentu mengandung hikmah yang bisa kita ambil sebagai refleksi bagi kehidupan sehari-hari seorang mujahid. Ada kisah Abdullah bin Zubair, seorang anak yang sholeh. Ia rela meninggal dunia demi membela kebenaran. Ternyata dibalik kehebatan beliau itu ada seorang ibu yang sholihah. Ia bernama Asma Binti Abu Bakar.

Anak yang sholeh ini senantiasa memperhatikan apa yang dikatakan ibunya. Untuk memotivasi anaknya, sang ibu berkata; “Isy Kariman aw Mut Syahidan” berarti Hidup Mulia atau Mati Syahid. Ucapan seorang shohabiyah ini benar-benar telah menghujam didalam hati anaknya. Sehingga membuat seorang mujahid ini rela berjuang sampai akhirnya menjadi syuhada dalam medan Jihad. Bahkan, semboyan ini senantiasa harum didengung-dengungkan bagi orang yang berazam untuk beriqomatuddin sampai detik ini.

Tentu sebagai seorang mujahid sudah tentu harus senantiasa berbakti kepada kedua orang tua. Namun, bentuk ketaatan kepada orang tua ini. Bukanlah taat yang buta tetapi ketaatan yang terikat dengan Allah Swt. Selama mereka memerintahkan anaknya untuk berbuat taat maka harus mentaatinya. Tetapi, jika malah memerintahkan berbuat maksiat, bahkan syirik maka tidak ada ketaatan padanya. Tapi perlu diingat harus menolak mereka dengan perkataan yang baik.

Seorang mujahid percaya betul akan adanya hak kedua orang tua terhadap dirinya serta kewajiban berbakti, mentaati dan berbuat baik terhadap keduanya. Tidak hanya karena mereka berdua menjadi sebab keberadaannya, atau karena mereka telah memberikan perlakuan baik terhadapnya dan memenuhi kebutuhannya, tapi juga karena Allah Swt telah menetapkan kewajiban atas anak untuk berbakti dan berbuat baik kepada keduanya.

Bahkan kedudukan berbakti kepada orang tua ini setelah perintah untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi syirik. Allah Swt berfirman :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-sekali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik”.(23) “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah.’Wahai Tuhanku!’ Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.”(24) (QS. Al Isra’ : 23 – 24)

Adap Kepada Kedua Orang Tua

Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi dalam kitab Minhajul Muslim menjelaskan adab-adab seorang muslim kepada kedua orang tuanya;

Pertama, Mematuhi setiap yang diperintahkan atau dilarang oleh keduanya dalam hal-hal yang bukan berupa kemaksiatan terhadap Allah Swt dan tidak menyelisihi syari’at-Nya, karena tidak boleh mentaati makhluk dalam bermaksiat terhadap Allah. Sebagaimana firman Allah Swt :

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Qs. Luqman : 15)

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقِ فِي مَعْصِيَّةِ الْخَالِقِ

“Tidak boleh mentaati makhluk dengan bermaksiat terhadap khaliq” (HR. Ath Thabrani)

Kedua, Memuliakan dan mengagungkan keduanya.

Bersikap santun terhadap keduanya menghormatinya keduanya dengan perkataan dan perbuatan, tidak menghardik keduanya dan tidak mengangkat suara terhadap mereka, tidak berjalan didapan mereka, tidak lebih mengutamakan istri dan anak daripada keduanya, tidak memanggilnya mereka dengan nama mereka tapi dengan panggilan “ayah” dan “Ibu” serta tidak bepergian kecuali dengan izin dan kerelaan mereka.

Ketiga, berbuat baik terhadap keduanya dengan segala sesuatu yang mampu dilakukannya seperti, memberi makanan, pakaian, mengobati, dan mencegah marabahaya serta mempertaruhkan jiwa untuk melindungi mereka.

Keempat, menyambung hubungan silaturahmi yang tidak ada hubungannya rahim kecuali melalui berdua, mendoakan dan memohonkan ampun bagi keduanya serta melaksanakan janji keduanya dan menghormati teman-teman mereka.

Bahkan kalau orang tua telah meninggal masih punya kewajiban sebagai anak yang sholih. Rasulullah menjelaskan ada ada empat kewajiban jika orang tuanya sudah meninggal. Ada seorang sahabat anshor bertanya kepada Rasulullah Saw :

يَا رَسُوْلَ الله: هَلْ بَقِيَّ عَلَيَّ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَّرُهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا؟ قَالَ: “نَعَمْ، الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا، وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدُهُمَا ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لاَ تُوْصَل إِلاَّ بِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيْقُهُمَا

“Wahai Rasulullah; Apakah masih adakah kewajiban baktiku kepada kedua orang tuaku setelah mereka meninggal? Rasulullah menjawab; Ya. Mendoakan keduanya, memohonkan ampun bagi keduanya, melaksanakan janji keduanya, menyambung silaturahmi yang tidak ada hubungannya rahim denganmu kecuali melalui keduanya, dan menghormati teman-temannya. (HR. Abu Dawud)

Doa orang tua merupakan mustajab. Tentu seorang mujahid tahu kisah Juraij. Dia adalah seorang anak yang sholeh, senantiasa beribadah kepada Allah. Namun, suatu ketika ia beribadah sampai-sampai ia mengabaikan panggilan ibunya. Bahkan, ibunya sampai berdoa yang buruk terhadap dirinya. Hingga akhirnya ia terfitnah dengan seorang wanita pelacur.

Oleh karena itu, sebagai seorang mujahid jangan sampai meremehkan doa seorang yang bernama ibu. Kalau bisa sebagai mujahid harus benar-benar bisa memenangkan hati dan pikiran ibu. Sehingga seorang ibu yang senantiasa mendukung dan mampu memotivasi ketika dalam medan iqomatuddin ini. Sebagaimana dukungan asma’ binti abu bakar kepada adanya Abddullah bin Zubair. (Abu Mazaya/Annajah)