Adab Mujahid Terhadap Rabbnya

adab mujahid
adab mujahid

Alangkah agungnya seorang mujahid senantiasa menghiasi dirinya dengan adab. Dengan adab ini membuat mujahid itu akan dicintai oleh kawan dan disegani oleh lawan.

Didalam Kitab Jihad Sabiluna, Abdul Baqi Ramdhun memberikan pedoman kepada seorang mujahid didalam menerapkan adab. Diantara adab yang beliau tekankan pada pertama kali adalah adab mujahid kepada Allah Ta’ala.

Baca juga: Fitnatul Akbar Ketika Meninggalkan Jihad

Diantara bentuk adab mujahid kepada Allah Ta’ala adalah sebagai berikut :

Pertama, Ihtisab

Seorang mujahid harus mengikhlaskan jihadnya semata-mata hanya untuk Allah Ta’ala saja. Dia juga harus berharap pahala dari-Nya. Oleh karena jihad adalah ibadah. Dan setiap ibadah tidak akan diangkat dan tidak akan diterima Allah Ta’ala. Kecuali jika ibadah itu dikerjakan semata-mata untuk Allah Ta’ala semata.

Disamping itu seorang mujahid hendaklah mengakui akan anugerah Allah Ta’ala. Allah telah memperkenankannya turut serta dalam kehormatan besar ini. Allah Ta’ala pula menjadikannya dalam rombongan mujahid. Sehingga dirinya bisa berjihad dengan harta, darah dan nyawanya untuk meninggikan kalimat Allah Ta’ala.

Baca juga: Syaikh Muhaisini: Pentingnya Berjihad Bersama Umat

Seorang mujahid haruslah waspada. Jangan sampai syetan merusak amalnya. Jenis-jenis perusak amal itu adalah ujub, takabur, dan mengungkit-ungkit jasanya atas yang lain. Sehingga dengan perbuatan itu amal dan jihadnya sia-sia dan tidak beroleh pahala.

Seorang mujahid haruslah bersikap tawadhu’. Hendaknya dirinya sujud kepada Allah Ta’ala sebagai rasa syukur atas karunia dan anugerah yang diberikan kepadanya. Kemudian diiringi doa memohon kepada Allah Ta’ala agar amalannya diterima dengan baik dan diberi pahala yang banyak serta memohon pula agar ia dikumpulkan dalam rombongan mujahid yang sejati, di bawah bendera pemimpin Mujahidin Muhammad Saw.

Kedua, Roja’ (pengharapan)

Seorang mujahid berharap salah satu dari dua kebaikan. Pertama, kemenangan. Kedua, syahadah. Kemudian didalam roja’ harus disertai dengan keyakinan bahwa Allah Ta’ala akan menepati janji-Nya dan akan menolong tentara-Nya.

Allah Ta’ala berfirman :

Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba kami yang menjadi Rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapatkan pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” (Qs. Ash Shaffat : 171 – 173)

Ketiga, Tawakal

Seorang mujahid senantiasa bersandar kepada Allah Ta’ala saja di dalam jihad. Tanpa menengok banyaknya jumlah atau perlengkapan atau kekuatan atau bekal. Ada beberapa kisah yang disebutkan dalam Al Qur’an yang bisa dijadikan sebagai ibrah didalam medan jihad.

Baca juga: Mengapa Alergi Jihad?‎

Pertama, Kisah perang badar

Ketika kaum muslimin berjumlah sedikit dalam perang Badar. Namun mereka bertawakal dan bersandar penuh hanya kepada Allah saja. Maka Allah memenangkan mereka atas musuhnya yang lebih banyak jumlahnya dan perlengkapannya.

Kedua, Kisah perang Hunain

Dalam perang Hunain, jumlah kaum muslimin sangat banyak. Tetapi tatkala sebagian mereka bangga dengan banyaknya jumlah mereka serta bersandar pada banyaknya jumlah itu. Allah membiarkan mereka dan menyerahkan mereka kepada diri mereka sendiri. Sehingga kekalahanlah yang mereka dapatkan pada awal mula pertempuran.

Kemudian tatkala jumlah mereka (yang bertahan di medan peperangan) menjadi sedikit. Bahkan hanya beberapa orang saja. Mereka mengitari Nabi Muhammad Saw serta bersandar kepada Allah. Kemudian Nabi Muhammad Saw membawa mereka maju ke kancah pertempuran seraya berseru “Aku seorang nabi, tidak dusta, Aku adalah putra ‘Abdul Muthalib” sampai akhirnya Allah mewujudkan kemenangan lewat tangan mereka pada akhir pertempuran.

Sumber            : Abdul Baqi Ramdhun, Jihad Sabiluna. cet II, hal. 184-187

Editor              : Ibnu Alatas