Adab Terhadap Orang Tua yang Kafir

Adab Kepada Orang Tua
Adab Kepada Orang Tua
Adab Kepada Orang Tua
Adab Kepada Orang Tua

An-Najah.net – Kekafiran kerabat dan orang dekat tidak menghalangi seseorang untuk berbuat baik kepada mereka selagi masih hidup.

Selama mereka tidak memerangi dan memusuhi secara terang-terangan lalu Bagaimana jika yang kafir tersebut adalah orang tua?

Bagaimana adab terhadap keduanya berbuat baik terhadap orang tua juga berlaku saat orang tua kafir selamat tidak memerintahkan dan memaksa untuk berbuat kekafiran termasuk di dalamnya adalah mendoakan kedua orang tuanya untuk mendapat Hidayah Allah saat masih hidup.

Jika telah meninggal selesai tugas dan kewajiban anak terhadap orang tua bahkan kekafirannya menjadi penghalang sekalipun untuk mendoakannya.

Saat masih hidup Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sangat sayang kepada pamannya Abu Tholib orang yang pernah merawat dan membesarkannya sekaligus sebagai pengganti orang tuanya.

Abu Tholib juga pernah membantunya saat mendapat tekanan dan perlawanan orang-orang Quraisy saat akhir hayatnya Rasulullah menginginkan agar pamannya mengucapkan kalimat tauhid Lailahaillallah sebagai tanda keislamannya.

Rasulullah terus berusaha agar pamannya masuk Islam namun sampai akhir hayatnya Abu Tholib tetap dalam kekafiran dalam agama kemusyrikan orang-orang Quraisy sebagai manusia Rosulullah sedih atas apa yang menimpa pamannya.

Allah menghiburnya bahwa bukan dia yang beri Hidayah namun Allah lah yang memberi Hidayah Bagi siapapun yang dikehendakinya termasuk terhadap Paman Abu Tholib hal ini Allah ungkapkan dalam FirmanNya :

“Sesungguhnya engkau Muhammad tidak akan dapat memberi Hidayah petunjuk kepada orang yang kamu kasihi tetapi Allah memberi Hidayah kepada orang yang dia kehendaki dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qhoshos : 56)

Disinilah berlaku Hidayah Taufiq dengan sebab-sebab Sari terbukanya Pintu Hidayah Abu Tholib menerima dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengakui kebenaran agama yang dibawa keponakannya.

Namun tidak mengikuti sebab-sebab seri untuk terbukanya Pintu Hidayah Taufiq dan Ilham yaitu dengan menyambut seruan dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan mengucapkan kalimat tauhid sebagai tanda keislaman.

Bahkan ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mau mendoakan pamannya juga ditegur oleh Allah artinya kewajiban terhadap pamannya yang dicintai telah selesai seiring dengan meninggalnya hal ini sebagaimana firman Allah :

Tiada sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya sudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah 113)

“Kewajiban Rasulullah adalah menyampaikan dakwah kepadanya sedangkan Hidayah keimanan adalah kewenangan Allah Allah akan memberi Hidayah kepada siapa yang dia kehendaki hal ini sesuai dengan kandungan firman Allah yang artinya bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat Hidayah akan tetapi Allah lah yang memberi Hidayah memberitahukan kepada siapa yang dia kehendaki.” (Al-Baqarah: 272)

Ada yang disebut dengan Hidayatul Irsyad dan hidayatut Taufiq Hidayah Irsyad dimana Hidayah ini ditetapkan pada nabi secara khusus dan kepada seluruh nabi dan rasul serta setiap Dai yang menyeru manusia kepada Allah.

Sementara Hidayah Taufiq adalah Hidayah Allah menjadikan dalam hati seseorang hamba secara khusus mudah menerima petunjuknya Hidayah Taufik ini secara khusus diberikan Allah kepada orang yang dikehendaki pengaruhnya.

Orang tersebut mudah menerima petunjuk allah karena itu memasukkan Hidayah ini ke dalam hati seseorang bukanlah tugas Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebab Hati Hamba berada ditangan Allah dia yang membolak-balikkan sesuai dengan kehendaknya sehingga Rosulullah tidak mampu memberikan Hidayah ini meskipun terhadap orang yang paling dicintainya.

Kisah Sa’ad bin Abi Waqqas

Sa’ad bin Abi waqqash termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam selain Abu Bakar as-siddiq Zaid bin haritsah dan Ali bin Abi Tholib ibunya adalah orang yang paling sayang terhadap saat begitu pula sebaliknya.

Sa’ad sangat mencintai dan menyayangi terhadap ibunya, Sa’ad adalah seorang pemuda yang sangat patuh dan taat kepada ibunya demikian dalam sayangnya saat pada ibunya sehingga seolah-olah cintanya hanya untuk sang ibu yang telah memeliharanya semenjak kecil hingga dewasa melihat anaknya masuk Islam ibunya tidak rela ia berusaha untuk membujuk sa’ad agar kembali ke dalam agama menyembah berhala.

Berbagai upaya dilakukan namun tidak berhasil sampai akhirnya ibunya mogok makan setelah beberapa hari melihat ibunya lemas karena tidak mau makan, Sa’ad datang dengan membawakan makanan kesukaannya sambil berkata;

“Wahai Ibuku Seandainya Ibu memiliki 100 nyawa kemudian keluar satu demi satu agar aku meninggalkan agama ini sungguh aku tidak akan meninggalkannya kalau ibu berkenan Silahkan ibu makan namun jika Ibu tidak berkenan Silahkan ibu tidak makan.”

ketegasan sa’ad ini dipuji oleh Allah dalam firmaNya : “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Allah dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan Ikutilah Jalan orang yang kembali kepadaku kemudian hanya kepada Akulah kembalimu maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman : 15)

Begitu Mulianya Islam mengajarkan adab terhadap orang tua jika terhadap orang tua yang masih kafir pun diperintahkan untuk berbuat baik lemah lembut.

Bagaimana jika orang tua muslim taat beribadah dan orang-orang yang mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan cahaya Allah tentu lebih mulia dan lebih berhak untuk berbuat baik kepadanya jangan sampai kegemerlapan dunia.

Melupakan anak terhadap orang tuanya bahkan durhaka kepadanya prinsip Luqman Al Hakim tersebut menjadi panduan Bagaimana adab anak terhadap orang tuanya.

 

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 129 Rubrik Usrotuna

Penulis : Mulyanto

Editor : Helmi Alfian