Agar Hati Selalu Hidup

Hati yang selamat
Hati yang selamat

An-Najah.net – Setiap orang selalu hati-hati dan memperhatikan makanannya. Memilih makanan yang mengandung gizi empat sehat lima sempurna agar jasadnya sehat dan kuat. Jika tanpa sengaja mengkonsumsi makanan yang membahayakan, akan segera mencari penawar dan obat agar tidak membahayakan tubuh.

Demikian pula orang beriman, ia berusaha menjaga hati agar tetap sehat dengan melakukan berbagai ketaatan. Jika berbuat maksiat, segera bertobat dan berusaha tidak mengulangi kembali. Begitulah seharusnya manusia memperhatikan kondisi hati sebagaimana memperhatikan kebutuhan jasad.

Tetapi kebanyakan orang lebih memperhatikan urusan jasad daripada hati. Mereka tangisi jasad seseorang yang telah mati, sementara hati yang mati tidak pernah ditangisi dan tidak mau peduli. Padahal kematian hati lebih berbahaya dibandingkan kematian jasad.

Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al-Qur’an untuk menyambut seruan Nya agar hati menjadi hidup.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ  وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al Anfal: 24)

Amalan yang menghidupkan hati

Amalan-amalan yang menghidupkan hati antara lain;

Pertama, dzikrullah.

Dzikrullah adalah bekal bagi mereka yang memahami perjalanan ini. Sebagai makanan hati bagi orang-orang arif. Hati yang meninggalkan dzikrullah laksana jasad yang menjadi mayyit. Dzikir juga ibarat bangunan rumah yang akan runtuh jika ditinggalkan.

Dzikrullah akan menguatkan seseorang kuat saat musibah mendera. Tetap kuat meski kesedihan menyelimutinya. Menjadi teman di saat sunyi dan ramai. Ia merupakan taman-taman surga. Siapa saja dapat memasukinya akan merasakan kenikmatan dan kelezatan yang tiada tara.

Maka tidak berlebihan jika Rasulullah SAW membandingkan antara orang yang selalu berdzikir dengan mereka yang tidak berdzikir sebagaimana orang hidup dan mati;

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Dari Abu Musa RA dia berkata; Nabi SAW bersabda, “Permisalan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti orang yang hidup dengan yang mati.” (HR. Bukhari)

Kedua, istighfar.

Yaitu permohonan ampun kepada Allah Ta’ala. Dan ampunan adalah penjagaan Allah Ta’ala dari berbagai dosa. Artinya Allah Ta’ala menutupi dosanya agar tidak tersebar di dunia dan terjaga dari adzab api neraka. Bahkan Allah Ta’ala menghapus kesalahan kesalahannya karena rahmad Allah yang luas.

Allah Ta’ala dalam banyak ayat memerintahkan para hambanya untuk terus beristighfar.

وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ  إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Muzammil: 20)

Dan yang ketiga Do’a.

Orang yang tidak pernah memohon kepada Allah Ta’ala adalah orang yang sombong. Hatinya keras sulit untuk menerima petunjuk. Dia akan memohon kepada selain Allah dalam memenuhi keinginannya. Sebaliknya, orang yang senantiasa memohon pada Allah atas apa saja yang ia inginkan, hatinya akan dilembutkan dan mudah untuk menerima petunjuk. Allah berfirman;

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدعُونِيٓ أَستَجِب لَكُم إِنَّ ٱلَّذِينَ يَستَكبِرُونَ عَن عِبَادَتِي سَيَدخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Ghofir: 60)

Maka jangan lupa untuk mendo’akan kebaikan bagi diri kita, keluarga kita, para pejuang Islam dan kaum muslimin secara keseluruhan. Dengan do’a tersebut akan menjadikan kita dekat dengan Allah, saudara dan kaum muslimin.

Penulis : Sahlan Ahmad

Sumber : Booklet An-Najah Edisi 137

Editor : Anwar