Agar Puasa Tidak Sekedar Lapar dan Dahaga

Puasa agar tidak sekedar lapar
Puasa agar tidak sekedar lapar

An-Najah.net – Percayakah Anda jika ada orang yang melaksanakan puasa, namun ia hanya mendapatkan haus dan lapar? Tidak lebih. Percayakah Anda jika ada orang yang melaksanakan shalat tarawih, tidak ada yang dia dapatkan kecuali capeknya begadang?

Boleh jadi Anda tidak percaya. Mungkin Anda beranggapan, siapa yang melaksanakan ibadah kepada Allah SWT pastilah diterima. Karena Allah SWT Maha Pemurah. Jika demikian yang Anda pahami, ada baiknya merenungi hadits di bawah ini.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ”

Dari Abu Hurairah RA Rasulullah SAW bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang shalat (tahajjud/tarawih), namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari shalatnya itu kecuali begadang malam saja.” (HR. Ibnu Majah)

Bisa juga Anda termasuk yang percaya akan kenyataan ini, tetapi Anda juga tidak bisa menjamin bahwa Anda bukan termasuk orang merugi itu. Kita tidak bisa memastikan, apakah kita termasuk orang yang selamat dari kerugian ini atau jangan-jangan sebagian dari ibadah shiyam kita tidak bernilai apa-apa kecuali dahaga dan lapar.

Merasa Butuh Kepada Allah SWT

Satu hal yang menjadi keharusan bagi seseorang yang serius mencari pahala di sisi Allah SWT atas ibadah yang dia lakukan, termasuk puasa Ramadhan, yaitu ia harus menyadari bahwa ia sedang melaksakan perintah Allah SWT. Dzat yang memiliki langit dan bumi serta isi keduanya. Dzat yang memegang kendali atas kehidupan, nyawa, dan rezeki seluruh mahluk, termasuk dirinya.

Ia harus menyadari, bahwa dirinya hanya seorang hamba yang lemah, ia harus mengabdi kepada Rabbnya yang telah  menciptakan dan menganugerahkan berbagai macam kenikmatan kepadanya.

Ia juga harus membangkitkan rasa butuhnya kepada Allah SWT, bahwa dia-lah yang membutuhkan syari’at Allah SWT. Allah tidak butuh pengabdian manusia, tetapi manusia lah yang membutuhkan Allah SWT.

Syaikh Ahmad Ash-Showayan, pimpinan majalah internasional al-Bayan, menjelaskan, “Merasa butuh kepada Allah SWT adalah intisari daripada seluruh ibadah yang disyari’at dalam Islam.” (al-Iftiqor, hal. 13)

Allah SWT berfirman,

يَاأَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ  إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ  وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ

“Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (Qs. Fathir: 15-17)

Nabi Musa AS termasuk manusia yang menyadari perkara ini. Dengan sepenuh hati, beliau mengatakan bahwa dirinya sangat membutuhkan syari’at Allah SWT. Yaitu syari’at yang penuh kebaikan, yang turun dari sisi Dzat Yang Maha Baik.

فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

“Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, ke- mudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat membutuhkan (fakir) terhadap kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (al-Qashash: 24)

Imam Ibnu al-Qoyim RHM berkata, “Yang dimaksud merasa fakir (butuh) kepada Allah; yaitu engkau meyakini dirimu bukan milikmu, engkau berbuat apapun bukan untuk dirimu. Tetapi semua yang kamu miliki adalah milik Allah, semua yang kamu usahakan hanya untuk Allah SWT. Jika kamu merasa dirimu milikmu, maka itu suatu keangkuhan yang membatalkan sikap iftiqor kepada Allah.” (Madarij, 2/439)

Beliau melanjutkan, “Hakekat iftiqor kepada Allah SWT adalah seorang hamba selalu merasa butuh dan fakir kepada Allah SWT di setiap keadaannya. Ia mempersaksikan bahwa segala yang ada pada dirinya, baik yang nampak maupun tersembunyi selalu membutuhkan Allah SWT dalam semua keadaannya.”

Orang yang sudah bisa membangkitkan kesadaran dalam dirinya tentang urgensi merasa butuh kepada Allah SWT. Maka ia akan merasa ringan beribadah kepada-Nya. Ia pun senantiasa meluruskan niatnya. Dari sinilah ibadahnya. termasuk, shiyam Ramadhan, akan menjadi lebih agung di sisi Allah SWT.

Sebab, jika niat sudah benar; ibadah yang agung akan bertambah agung, dan ibadah kecil pun menjadi besar di sisi Allah SWT. Sebaliknya, niat yang rusak akan membuat perkara besar menjadi remeh di sisi Allah SWT. Seorang ulama Salaf, Imam Ibnu Mubarok RHM, berkata,

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيْرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيْرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَةُ

“Betapa banyak amal yang kecil dibesarkan niat, dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niat.”

Tentang niat puasa Ramadhan Rasulullah SAW mengingatkan kita:

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan iman dan penuh pengharapan, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari)

Jauhi Ini

Selain menyadarkan diri akan kebutuhan kita kepada Allah SWT yang kelak akan melahirkan keikhlasan, ada perkara lain yang membuat ibadah kita bernilai di sisi Allah SWT. Yaitu meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah SWT, baik perkara yang nampak maupun yang tersembunyi.

Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ لم يَدَعْ قوْلَ الزُّورِ وَالعملَ بِه، والجهلَ، فَلَيْسَ لله حَاجَةٌ في أَن يَدَعَ طَعامَهُ وشرابَهُ

Artinya, “Siapa yang tidak meninggalkan kedustaan dan mengamalkan kedustaan, dan kebodohan, maka Allah SWT tidak membutuhkan lapar dan dahaganya (puasanya).” (HR. Bukhari)

Penulis : Akram Syahid

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 104 Rubrik Oase

Editor : Anwar