Agar Ramadhan Semakin Bermakna

Agar Ramadhan semakin bermakna
Agar Ramadhan semakin bermakna

An-Najah.net – Seiring waktu, fitnah syubhat dan syahwat banyak bertebaran di sekitar kita. Tidak mengenal waktu dan tempat. Pada bulan Ramadhan pun, kedua fitnah ini sering mengganggu aktfitas ibadah seorang muslim. Fitnah-fitnah ini membuat hati berkarat, seperti karatnya besi. Fitnah ini ibarat senyawa asing yang bisa membuat hati korosi. Demikian Rasulullah SAW memberi gambaran berkarat dan kusutnya hati seorang anak Adam.

Untuk menyambut Ramadhan, seorang muslim harus membenahi hati dahulu agar bersih dan salim. Inilah modal utama untuk melaksanakan ibadah Ramadhan dengan maksimal.

Sudah selayaknya seorang muslim membekali diri dengan menambah wawasan sebelum melaksanakan ibadah Ramadhan. Supaya shaum dan ibadah yang akan ia ditunaikan jadi lebih bermakna. Tidak sekedar pelaksanaan ritual tanpa makna yang tidak membawa perubahan pada jiwa maupun mental.

Berikut ini beberapa bekal yang membantu seorang muslim dalam membersihkan jiwanya, dan membuatnya lebih siap menghadapi ibadah-ibadah di bulan Ramadhan:

Pertama: Hadirkan Cinta dan Rindu Kepada Allah.

Ibadah tidak akan nikmat tanpa dilandasi cinta. Tanpa landasan cinta ibadah akan terasa sebagai beban bagi orang yang melaksanakannya. Sebab cinta adalah mesin penggerak semua ibadah.

Seluruh aktifitas manusia akan menjadi nikmat jika dilaksanakan dengan penuh cinta. “Cinta adalah makanan hati, gizi bagi ruh dan penyejuk jiwa. Ia adalah inti kehidupan, siapa yang kehilangan cinta, pada hakekatnya ia hanya tumpukan mayat. Cinta adalah cahaya, siapa yang kehilangannya, maka (hatinya) seperti kegelapan di dasar lautan. Ia adalah obat, siapa yang kehilangannya, hatinya menjadi tumpukan penyakit. Dan cinta itu adalah kenikmatan. Siapa yang kehilangan cinta, ia akan merana nan sengsara,” tulis Ibnu al-Qoyyim RHM dalam kitab Madariju Salikin.

“Cinta adalah sumber energi iman, amal, usaha dan setiap keadaan. Jika, ia tidak ada pada seseorang maka orang tersebut seperti jasad yang tidak memiliki ruh (zombie). Energi ini menjadikan pemiliknya sanggup berjalan menuju negeri yang tidak bisa dicapai kecuali dengan kepayahan,” tulis beliau lebih lanjut.

Inilah alasan Islam meletakkan cinta sebagai rukun pokok ibadah. Jika rukun ini hilang, ibadah tidak akan bermakna, dan juga tidak akan membawa keberkahan baginya.

Pelaksanaan ibadah Ramadhan pun tidak akan terasa lezat tanpa diiringi cinta. Yang dirasakan saat puasa hanya lapar dan dahaga. Ia tidak mendapatkan hikmah dari lapar dan dahaga, tidak juga menjadikannya lebih bersyukur atas nikmat kecukupan yang Allah anugerahkan.

Begitu urgen cinta (mahabbah) dalam ibadah, hingga Rasulullah SAW mengajarkan ummatnya berdoa meminta cinta kepada Allah.

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ

“Ya Allah aku memohon kepada-Mu (kemudahan) melakukan semua kebaikan, dan meninggalkan semua kejelekan, mencintai orang-orang miskin, Engkau mengampuni dan merahmatiku. Jika Engkau berkehendak (menimpakan) fitnah atas suatu kaum, wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terfitnah. Ya Allah aku mohon kepadamu: kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu, serta kecintaan kepada amalan-amalan yang mendekatkan kepada cinta-Mu.”

“Sungguh doa ini haq (benar). Pelajari dan pahamilah doa ini,” titah Rasulullah SAW pada umatnya. (HR. Ahmad)

Rasulullah SAW memuji Nabi Daud sebagai hamba yang paling rajin dan baik ibadahnya. Ini karena Nabi Daud senantiasa beribadah kepada Allah dengan cinta sepenuh hati.” Salah satu doa yang dipanjatkan oleh nabi yang shalih ini adalah;

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي، وَمِنَ الْمَاءِ الْباَرِدِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu rasa cinta kepadaMu, kepada orang-orang yang mencintaiMu, dan agar mencintai amal yang mengantarkanku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaku kepadaMu sesuatu yang paling aku cintai, melebihi cintaku kepada diri dan keluargaku, dan kepada air dingin.”(HR. Tirmidzi)

Bukti cinta kepada Allah ialah kerinduan yang mendalam untuk berjumpa dengan Allah. Inilah tanda kejujuran cinta. Sebab orang yang mencintai pasti merindukan untuk bersua dengan yang dicintai.

Inilah Rasulullah SAW, beliau selalu merindukan perjumpaan dengan Sang kekasih, Allah. Para sahabat mengisahkan, Rasulullah SAW selalu merindukan perjumpaan dengan Allah.

Kerinduan kepada Allah akan menggerakkan hati untuk bersungguh-sungguh mempersembahkan ibadah yang terbaik. Sebab, ia menyadari, satu-satunya modal untuk bisa berjumpa dengan Allah adalah ibadah.

“Kerinduan untuk berjumpa dengan Allah lahir dari cinta suci. Kerinduan ini tumbuh di taman-taman cinta. Hatinya selalu terpaut pada sifat-sifat Allah yang lembut. Ia pun merindukan kelembutan dan kemurahan-Nya.” Begitu penulis Manazilus Saairin menjelaskan asal-muasal rindu.

Allah memberikan harapan kepada setiap orang yang merindukan perjumpaan, pasti akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan diridhoi-Nya. Allah berfirman:

“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang.” (QS. Al-Ankabut: 5)

Rasulullah SAW kerap memanjatkan doa:

أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَأَسْأَلُكَ الشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ، فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

“Aku meminta kepada-Mu ya Allah, kenikmatan melihat wajah-Mu, dan kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu dalam keadaan tidak celaka dan tidak terfitnah dan tidak juga tersesat. Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan iman, dan jadikanlah kami, petunjuk bagi orang-orang yang mencari petunjuk.” (HR. Ibnu Hibban).

Ada banyak cara yang disarankan ulama untuk menumbuhkan rasa cinta dan rindu kepada Allah. Di antaranya; Menghayati nama dan sifat Allah, mentadabburi ayat-ayat Allah yang bersifat Qur’aniyyah maupun kauniyah.

Cara lain adalah mengingat nikmat Allah dan kehidupan akherat; seperti keindahan surga, dan kenikmatan-kenikmatan yang ada di dalamnya, bersua dengan orang-orang shalih dan di bawah naungan ridha Allah.

Kedua: Menyadari Keutamaan Waktu

Allah menciptakan seluruh makhluk dengan sempurna. Setiap mahluk memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki mahluk lain. Antara satu waktu dengan waktu yang lain juga memiliki keutamaan berbeda. Demikian juga tempat, shalat di Masjidil Haram 100. 000 kali lipat pahalanya daripada shalat di masjid lain.

Ramadhan juga memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan selainnya. Pahala ibadah di dalamnya dilipatgandakan. Kesempatan beramal shalih dimudahkan oleh Allah. Teramat sayang jika Ramadhan dilewati sebagaimana bulan-bulan lainnya.

Waktu-waktu yang lewat tidak pernah kembali lagi. Maka, seyogyanya seorang muslim memanfaatkan waktunya, terutama bulan Ramadhan untuk serius beribadah kepada Allah.

Imam Mujahid, seoang ahli tafsir murid Ibnu Abbas berkata, “Setiap hari yang dilewati oleh anak Adam selalu berkata, ‘Wahai anak Adam, aku telah menemui kalian saat ini. Dan aku tidak kembali lagi kepadamu setelah hari ini. Pikirkanlah apa yang akan kamu lakukan di saat aku hadir’.”

Ramadhan adalah waktu pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup rapat-rapat. Pahala di dalamnya dilipatgandakan Allah. Setan-setan dibelenggu, sehingga tidak leluasa menggoda manusia, (HR. an-Nasa’i). Maka, sungguh sangat rugi jika Ramadhan berlalu, sementara amal ibadah tidak bertambah.

Pernah di atas mimbar Rasulullah SAW mengucapkan amin sebanyak tiga kali. Setelah itu beliau berkata, “Siapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya, namun Allah tidak mengampuni orang ini. Semoga Allah menjauhkannya (dari rahmat). Ucapkanlah Aamin! Siapa yang mendapatkan Ramadhan, namun dosanya tidak diampuni, Semoga Allah menjauhkannya (dari rahmat). Ucapkanlah Aamin. Dan siapa yang namaku disebut di sisinya, namun ia tidak bersholawat kepadaku, semoga Allah menjauhkannya (dari rahmat).”

Pada bulan Ramadhan pahala sedekah dilipatgandakan. Di sepuluh akhir bulan Ramadhan, ada malam lailatul qadar yang lebih mulia dari 1000 bulan. Artinya, ibadah yang dilaksanakan pada malam itu seperti ibadah selama 1000 bulan. Sungguh, rugi jika waktu ini terlewatkan tanpa ibadah, tanpa kesungguhan mencari malamnya. Sebab, tidak semua manusia bisa mencapai umur 1000 bulan atau lebih.

Ketiga: Bertahap dalam Melaksanakan Amal

Semua pekerjaan membutuhkan jenjang atau hampir dilaksanakan secara bertahap. Dimulai dari yang mudah menuju yang sulit, dari yang tidak urgen menuju yang penting, dari yang ringan menuju yang berat. Manusia memiliki sifat bosan dan putus asa. Maka, jika ibadah diawali dengan yang berat dan sulit, tentunya berdampak kejenuhan dan kepayahan.

Di bulan Ramadhan, banyak pilihan ibadah. Kesempatan beribadah pun terbuka lebar. Seperti membaca Al-Qur’an, jika dilaksanakan tergesa-gesa dan memaksa diri di awal Ramadhan dengan menargetkan sekian juz, besar kemungkinan ia akan mengalami kebosanan.

Terkadang ada yang menghidupkan malamnya di awal-awal Ramadhan. Namun menjelang pertengahan Ramadhan semangatnya mulai kendur. Ada juga sepertiga akhir Ramadhan justru sakit karena tenaganya terkuras di awal-awal Ramadhan, atau karena kurang memperhatikan kesehatan.

Rasulullah SAW bersabda, “Lakukanlah amal ibadah sesuai kemampuan kalian. Sesungguhnya Allah tidak bosan, hingga kalian bosan.” (HR. Bukhari-Muslim)

Tetapi ini bukan sebuah alasan untuk meninggalkan kewajiban, atau bersantai-santai. Sebab, adakalanya jiwa manusia harus dipaksa untuk disiplin dan tertib melaksanakan ibadah maupun kewajiban lainnya.

Tentunya, kondisi tiap orang berbeda. Untuk tipe orang yang terbiasa menjalankan ibadah-ibadah yang berat, atau orang yang harus memaksakan diri untuk bisa beribadah dengan khusyu’, tidak mengapa memaksa diri. Hanya saja, pentahapan dalam ibadah harus dijadikan ukuran, jika ia khawatir akan mengalami kejenuhan.

Adalah Ibnu Umar sahabat nabi yang selalu menghidupkan waktu malam. Jika rasa kantuk menyerang, beliau segera menyiram muka dengan air dingin lalu kembali shalat. Hal itu beliau lakukan sampai waktu sahur. Waktu sahur bukan petanda untuk tidur, melainkan beralih ke ibadah lain; do’a, istighfar dan munajat kepada Allah hingga adzan subuh menggema. Kebiasaan ini beliau lakukan hingga usia lanjut. Jika tertinggal shalat jamaah, beliau menghukum diri sendiri dengan puasa sehari.

Sahabat dan tabi’in lainnya tidak kalah dahsyat dalam memaksa diri dalam menuju Allah. Fathimah binti Abdul Malik, istri Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz mengisahkan suaminya, “Saya belum pernah melihat orang yang paling takut kepada Allah, paling banyak shaum dan shalat melebihi Umar. Jika selesai melaksanakan shalat Isya, ia akan duduk menangis terisak-isak, kemudian menangis lagi. Pernah saat bersamaku di ranjang, ia mengingat sesuatu tentang akherat. Maka ia meloncat seketika, seperti burung yang meloncat kaget tersiram air, ia lalu duduk dan menangis.”

Keempat: Meyiapkan Jiwa untuk Beribadah

Mempersiapkan diri untuk menuntaskan sebuah ibadah merupakan tanda keseriusan dan kejujuran niat. Sebaliknya, tidak bersiap-siap dalam melaksanakan ibadah tanda kedustaan, bahkan ciri munafik. Sebagaimana Allah menyebut orang-orang munafik yang tidak mempersiapkan dirinya untuk berjihad;

“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka.” (QS. At-Taubah: 46)

Satu perkara yang tidak boleh diabaikan dalam meraih keagungan bulan Ramadhan adalah mengkondisikan diri, baik fisik, lebih-lebih jiwa untuk menghadapi Ramadhan. Fisik bisa dilatih dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Rajab atau Sya’ban.

Para salaf senantiasa mempersiapkan fisiknya untuk menyambut bulan Ramadhan. Ibunda kaum mukminin, Aisyah mengisahkan, “Saya dan istri Rasulullah SAW lain biasa mengqodho’ puasa Ramadhan pada bulan sya’ban. Dan Rasulullah SAW sangat sering melakukan puasa sunnah di bulan rajab maupun sya’ban, melebihi keseriusannya di bulan-bulan lain.” (HR. Muslim)

Untuk persiapan jiwa, banyak cara yang disarankan oleh para ulama. Seperti memperbanyak dzikir, membiasakan shalat berjamaah dan shalat malam serta melakukan muhasabah terhadap hari-hari yang telah berlalu, terutama pencapaian di Ramadhan tahun lalu.

Cara-cara ini sangat membantu seorang muslim untuk mensukseskan ibadah-ibadahnya di bulan Ramadhan. Sehingga, dosa-dosanya diampuni seiring usainya hari-hari bulan Ramadhan.

Penulis : Akrom Syahid

Sumber : Majalah An-najah Edisi 115 Rubrik Tema Utama

Editor : Anwar