Agar Ramadhan Tidak Menjadi Laknat

Ramadhan, Mimbar untuk Khutbah

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآَلِهِ وَسَلَّمَ : ” احْضَرُوا الْمِنْبَرَ ” ، فَحَضَرْنَا ، فَلَمَّا ارْتَقَى دَرَجَةً ، قَالَ : ” آمِينَ ” ، فَلَمَّا ارْتَقَى الدَّرَجَةَ الثَّانِيَةَ ، قَالَ : ” آمِينَ ” ، فَلَمَّا ارْتَقَى الدَّرَجَةَ الثَّالِثَةَ ، قَالَ : ” آمِينَ ” ، فَلَمَّا نَزَلَ ، قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لَقَدْ سَمِعْنَا مِنْكَ الْيَوْمَ شَيْئًا مَا كُنَّا نَسْمَعُهُ ، قَالَ : ” إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَرَضَ لِي ، فَقَالَ : بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يَغْفَرْ لَهُ ، قُلْتُ : آمِينَ ، فَلَمَّا رَقِيتُ الثَّانِيَةَ ، قَالَ : بُعْدًا لِمَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ ، قُلْتُ : آمِينَ ، فَلَمَّا رَقِيتُ الثَّالِثَةَ ، قَالَ : بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ عِنْدَهُ أَوْ أَحَدُهُمَا ، فَلَمْ يُدْخِلاهُ الْجَنَّةَ ، قُلْتُ : آمِينَ ”

An-Najah.net – Diriwayatkan dari Kaab bin Ujrah yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “mendekatlah ke mimbar.” Kami pun mendekat. Ketika naik tangga mimbar pertama beliau berkata, “amin.” Ketika naik tangga mimbar kedua beliau berkata, “amin.” Ketika naik tangga mimbar ketiga beliau mengucapkan, “amin.” Saat turun dari mimbar kami bertanya, “wahai Rasulullah, hari ini kami mendengar sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya.” Beliau lalu bercerita.

Sungguh Jibril tadi muncul dan mengatakan, “Mudah-mudahan dilaknat Allah orang yang berjumpa dengan Ramadhan tapi tidak mendapatkan ampunan.” Aku katakan, “Amin.”

Ketika aku naik tangga kedua, Jibril berkata, “Mudah-mudahan dilaknat Allah orang ketika disebutkan namamu tapi tidak bershalawat kepadamu.” Aku katakan, “Amin.”

Maka ketika aku naik tangga ketiga, Jibril berkata, “Mudah-mudahan dilaknat Allah orang ketika kedua atau salah satu orang tuanya masih hidup bersamanya tapi tidak membawanya ke surga.” Aku katakan, “Amin.” (HR. Hakim)

Riwayat ini disebutkan oleh Imam al-Hâkim dalam kitab hadits beliau ‘al-Mustadrak ‘alâ ash-Shahîhain’ jilid 4 halaman 170. Selain beliau, Imam Adz-Dzahabi dan Syaikh Albani menyatakan hadits ini shahih.

Mendulang Fadhilah Ramadhan

Sebagai muslim kita sepakat bahwa Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, barokah dan maghfirah. Ada banyak keutamaan yang tidak didapat di bulan lainnya. Kita terus merindukannya sembari berharap bulan ini dapat menghantarkan kita ke jannah Allah. Amin ya rabbal alamin.

Namun ternyata tidak semua orang bisa menuai keutamaan Ramadhan. Seperti yang tersebut di hadits di atas bahwa Ramadhan yang dirindukan kadang menjadi bumerang dan menghantarkan kepada laknat Allah. Harapan akan Maghfirah atau ampunan Allah yang selayaknya didapatkan tiba-tiba sirna atau bahkan berubah menjadi laknat. Lantas apa yang mesti kita perbuat agar Ramadhan tahun ini tetap membawa maghfirah dan tidak menjadi laknat atas kita?

Pertama, jangan tinggalkan shaum tanpa udzur syar’i

Amaliah shaum dengan menghindari pembatal-pembatal shaum, mulai terbit fajar shadiq hingga terbenam matahari disertai niat ikhlas kepada Allah, kita lakukan karena menunaikan perintah Allah dan tuntunan Rasul semata. Islam membahasakannya dengan shaum/shiyam, bukan puasa. Tujuannya agar tidak terjadi kesamaran makna, maksud dan tujuan antara ibadah dengan ritual orang-orang kafir yang juga mempraktikkan ‘puasa’.

Orang yang memperoleh maghfirah Allah pada bulan Ramadhan adalah orang yang menjaga shaumnya, tekun melaksanakannya, ikhlas tanpa pamrih kecuali dari Allah semata; dan tidak membatalkan shaumnya walau sehari kecuali udzur syar’i. Udzur syar’i yang dimaksud adalah sakit, safar, para lansia, wanita hamil atau menyusui, wanita haidh dan nifas yang telah diangkat kewajiban shaum dari mereka. Pembahasan tentang udzur ini bisa kita jumpai pada kitab-kitab fiqh. Kita dituntut untuk mempelajari fiqh shiyam agar berjalan diatas Sunnah Rasul.

Kedua, Lalui Malam dengan Shalat Tarawih

Shalat tarawih adalah shalat tahajjud yang sangat dianjurkan khusus pada bulan Ramadhan. Waktunya antara usai shalat Isya’ sampai sahur. Boleh dikerjakan berjamaah atau sendirian, hanya bila berjamaah di masjid lebih utama bagi laki-laki. Kesabaran dan ketekunan dalam mengerjakan shalat tarawih sebulan penuh ternyata mendatangkan maghfirah/ampunan Allah. Bahkan bila dikerjakan berjamaah di masjid, terhitung bagaikan shalat semalam suntuk.

 “Seorang lelaki bila dia mengerjakan shalat (tarawihnya) bersama imam hingga selesai, maka dicatat untuknya shalat semalam suntuk.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Namun disayangkan jika ada orang mampu kontinyu shalat tarawih berjamaah tapi lalai shalat wajib berjamaah. Padahal shalat lima waktu berjamaah lebih utama hukumnya. Kita berharap semoga masjid-masjid tidak hanya padat di bulan Ramadhan dengan tarawihnya, tapi terus ramai meski Ramadhan berlalu.

Ketiga, Raih Kesempatan di Sepuluh Malam Terakhir

Sepuluh terakhir bulan Ramadhan adalah momentum perpisahan paling istimewa. Ibarat kehadiran orang yang kita hormati, atau hadirnya tamu istimewa, tentunya menjelang perpisahannya adalah momen-momen paling indah dan berharga. Allah telah menyiapkan bingkisan termahal kepada kita berupa ‘Lailatul Qadar’, dan hendaknya bingkisan ini menjadi buruan para aktifis lewat i’tikaf (melazimi masjid) selama 24 jam. Mengisinya dengan amalan sunnat seperti shalat, zikir, do’a, dan membaca Al-Qur’an.

“Barangsiapa yang shalat di malam Lailatul Qadar dengan sepenuh iman dan keikhlasan, akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Subhaanallaah, ternyata hanya dengan shalat pada malam Lailatul Qadar mampu menghapus dosa-dosa kita yang lalu? Masihkah seorang aktifis menyia-nyiakannya? Sebuah nilai ibadah yang setara 83 tahun 4 bulan.

Keempat, Menjaga Amalan dengan Menjaga Lisan

Bukan hanya amalan-amalan Sunnah yang ditingkatkan, lisan pun tak boleh diabaikan. Dialah kunci utama agar mendapatkan ampunan. Bila perkataan keji dan kotor menghiasi lisan, badan durhaka kepada Ar-Rahman, janji maghfirah hanya tinggal khayalan dan impian.

Lisan yang berdusta, mengadu domba, ghibah dan dan penuh omongan kotor akan menodai shaum dan tarawih kita. Allah pun jadi tidak peduli dengan lapar, dahaga dan tarawih kita.

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta (kotor) serta perbuatannya, maka tidak ada keinginan Allah (untuk menerima) rasa lapar dan rasa hausnya.” (HR. al-Bukhari).

Perjuangan dan pengorbanan yang telah kita bangun jangan sampai tidak sesuai harapan hanya gara-gara lisan. Sebagai gantinya, kita hiasi lisan dengan ucapan baik, khususnya membaca Al-Qur’an; karena Al-Qur’an adalah sebaik-baik ucapan. Dan semoga Allah menguatkan kita dan senantiasa membimbing kita di bulan Ramadhan yang penuh ampunan. Amin.

Penulis : Abu Asiyah Zarkasyi

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 115 Rubrik syarh hadits

Editor : Anwar