Browse By

Akar Permusuhan

Akar Permusuhan

Akar Permusuhan

An-Najah.net – Pernahkah anda melihat tayangan peringatan Asyura (10 Muharram) yang dilakukan orang-orang Syi’ah di timur tengah?

Ya, mereka menjadikan hari Asyura sebagai momentum untuk menghayati dendam atas kematian Husain di Padang Karbala.

Mereka mengajarkan dendam kepada pihak pembantai dan generasi penerusnya, yang menurut mereka ahlussunah wal jamaah.

Ritual ini bisa mengadu emosi orang-orang yang terlibat karena ada darah yang dikucurkan. Ada duka yang dihidupkan dan ratapan biru yang dihayati.

Semua ini untuk satu hal; menanamkan agar dendam dan permusuhan di hati para pengikut Syiah kepada ahlussunnah sedalam mungkin!

Syiah sadar bahwa mereka tak akan punya spirit mengalahkan ahlussunnah tanpa adanya api dendam yang terus menyala. Terbukti, kelompok syiah adalah aliran paling serius yang ingin melumat ahlussunnah di antara aliran aliran sesat yang lain.

Api dendam mereka benar-benar copy paste dari api dendam iblis terhadap Adam dan anak keturunannya. Syiah memang murid teladan iblis!

Memperdalam Akar Permusuhan

Dalam buku dakwah muqowamah ‘Alamiyah, masterpiece sang pemikir jenius taktik dan strategi jihad modern abu mussab as-suriy, disebutkan tentang salah satu strategi memenangkan peperangan dengan ta’shil judzur shira’ (memperdalam akar pertarungan).

Kalimat ini terkesan sadis, tapi untuk peperangan semesta sangat diperlukan setiap muslim yang terlibat peperangan untuk dengan sadar ikut di dalamnya, bukan sekedar ikut-ikutan.

Salah satu yang masuk dalam kategori memperdalam agar pertarungan, menguatkan akar permusuhan yang tersimpan di hati terhadap kebatilan.

Dengan kesadaran penuh yang Menghujam di hati paling dalam, permusuhan terhadap kaum kafir dan antek-anteknya terhayati dengan sempurna oleh umat Islam, pada gilirannya akan menjadi reflek sikap, pikiran dan perasaan.

Kesadaran Ini menghasilkan fokus arah, apapun bumbunya tujuan akhirnya adalah mengalahkan kaum kafir dan para kompradornya.

Kaum kafir dengan kendaraan liberalisme menebar semangat pendangkalan agar permusuhan antara Al Haq melawan Al bathil.

Umat Islam diajari toleran terhadap segala pikiran menyimpang, aqidah sesat dan perilaku jahiliyah. Toleransi ini melahirkan sikap apatis dengan perseteruan Abadi antara Al Haq melawan Al bathil.

Penanggalan ini jika dikombinasikan dengan hedonisme (cinta dunia), maka umat Islam Kian rapuh pondasi permusuhannya.

Seumpama kayu kayu tersandar, mudah dipindahkan atau dirobohkan. Kayu yang tak punya agar di tanah, tak bisa berdiri sendiri. Kayu yang tak kuat menahan hembusan angin, hanya cocok jadi bahan bakar.

Pada gilirannya, tekanan sekecil apapun dari pihak kebatilan dengan mudah membayar kan kerumunan besar bernama umat Islam, karena hanya seperti buih.

Berkaca Pada Iblis

Tentang akar permusuhan, tak ada yang bisa mengalahkan iblis. Ia dengan komitmen bulat berbalut dendam kesumat siap melakoni peperangan panjang melawan Adam Alaihis Salam dan keturunannya.

Tak tanggung-tanggung, dari zaman Adam hingga kiamat Ia tak pernah lelah berperang. Ia sosok ambisius, idealis, perfeksionis dan workaholic (kerja gila). Ia mbak yakin bisa menurunkan kebencian dan permusuhan akut yang tersimpan di dadanya kepada setan-setan yang menjadi bala tentaranya.

Ia tak yakin akan berhasil jika ia mati. Karenanya ia merasa perlu untuk mengawasi dan memimpin sendiri peperangan melawan Bani Adam demi jaminan kesuksesan. Buktinya ia minta dipanjangkan usianya sejak zaman Adam hingga kiamat dan Allah mengabulkannya. (Lihat QS. Al-A’raaf: 14-15)

Sementara kalimat-kalimat yang terucap dari mulut iblis semuanya menggunakan ungkapan kesungguhan, fokus dan serius. Benar-benar komitmen bulat, tekad baja.

Semuanya menggunakan kata kerja berpenguat, seperti la-aq’udanna, la-atiyanna (QS. Al-A’raaf: 16), la-uzayyinanna (QS. Al-Hijr: 39), la-ughwiyanna (QS. Shaad: 82), la-udhillanna, la-umanniyanna, la-amuranna (QS. An-Nisa’: 118).

Seluruh kalimat ini menggambarkan satu hal; demikian dalamnya agar kebencian, bermusuhan dan dendam yang tersimpan di hati iblis sehingga memberi dia energi permusuhan yang tak pernah kering.

Iblis lalu menularkan akar permusuhan yang Menghujam di hati itu kepada seluruh bala tentaranya, baik dari kalangan Jin maupun manusia.

Keberadaan iblis menjadi sumber Spirit, motivasi dan keyakinan untuk terus melanjutkan peperangan Abadi melawan Bani Adam. Jelaslah di sini, energi perlawanan yang tak pernah surut disebabkan dalamnya agar permusuhan.

Tentu orang bijak akan fokus mencari cara untuk mengalahkan Musuh Abadi ini, bukan menyerah sebelum bertanding!

Rumitnya Kemenangan Umat Islam

Akar tumbuhan yang dimaksud bukan hanya meneriakkan kebencian kepada kebatilan, tapi Islam menghendaki agar permusuhan bersifat sempurna; mengendap di Sanubari, tercermin dalam ucapan dan terlaksana dalam tindakan.

Karenanya, tak perlu sih silau dengan orang yang lantang meneriakkan slogan anti Yahudi misalnya, Jika ternyata kesehariannya berlumuran dosa.

Bermusuhan semacam ini contoh akar yang dangkal, akan dengan mudah tumbang. Permusuhan hanya meriah secara lisan tapi sepi dari akar hati dan perbuatan.

Generasi yang dididik Rasulullah merupakan contoh generasi sempurna. Kesungguhannya mengamalkan ajaran Islam, kehati-hatian nya menghindari dosa, dan kebenciannya kepada kebatilan menyatu dalam diri mereka.

Prinsip nabi, kemenangan melawan setan Manusia tak akan diraih jika generasi yang ada masih kalah dengan godaan setan jin.

Kesadaran ini penting karena peperangan melawan kebatilan bersifat semesta, meliputi seluruh bagian kehidupan dan melibatkan segenap elemen kekuatan.

Keimanan adalah kekuatan. Sabar, tawakal, yakin, ikhlas, takut, azab, cinta akhirat, kejujuran, kedermawanan, kesungguhan beribadah dan sebagainya Itu juga Pelangi kekuatan.

Sebaliknya, saat Islam jatuh dalam gemar maksiat, cinta dunia, cuek terhadap mungkar, hidup hura-hura, percaya kepada Syirik dan seterusnya itu juga untaian kerapuhan. Tak perlu melihat betapa hebat musuh untuk memprediksi kekalahan, tapi cukup dengan melihat rapuhnya barisan sendiri.

Ini kebatilan punya semuanya untuk menang. Mereka punya media televisi yang dengan Dahsyat melemahkan cinta akhirat dan memupuk cinta dunia.

Investasi kemenangan telah mereka tanam di tengah barisan umat Islam sebagai penonton Setia. Mereka punya kekuasaan yang mengawal pikiran umat agar tetap dalam jalur liberalisme dan toleransi sehingga terpelihara kerapuhan akar permusuhan umat kepada kebatilan. Dan nyaris seluruh sendi kekuatan umat berhasil dilemahkan.

Kekuatan itu bukan hanya senjata, dana dan pasukan untuk mengalahkan kekafiran. Rasulullah mengajarkan, pembangunan kekuatan diawali dari penghayatan tauhid dan kebencian yang membuncah kepada syirik dan mungkar.

Karena tanpa akar yang menghujam, senjata, dana dan pasukan tak punya ruh untuk menumbangkan kebatilan. Waallahu A’lam.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 110 Rubrik Kolom

Editor : Helmi Alfian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *