Browse By

Aktifis Pecinta Musik

An-Najah.net    Saat mengutak-atik kumputer salah seorang kawan, aktifis muda, tak sengaja saya melihat membaca sebuah folder yang asing. Ku coba buka, dengan pelan-pelan, penuh tanda tanya. Sebenarnya, ingin meminta izin sebelum membuka folder kuning ini. Tetapi rasa itu saya abaikan, toh antara beliau dan saya sudah akrab sekali. Jadi tidak perlu pake izin segala pikirku.

Saya coba untuk menenangkan diri. Mencoba untuk mencari alasan syar’ie ia menyimpan tumpukkan musik barat, oriental dan band-band papan atas Indonesia ini. Saya mencari alasan agar bisa husnudzon kepada beliau. Mencoba untuk mencari alasan agar rasa suka, kagum dan penghormatan saya kepada beliau masih menemukan tempatnya di kawan ini.

Rasanya sangat sedih, saat melihat fenomena seperti ini. Kalangan aktifis yang memiliki tugas untuk memperbaiki umat, mendakwahi dan membina umat, terkena virus suka musik. Sebuah virus yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim akan menjadikan pelakunya lama-kelamaan tertimpa penyakit nifaq.

Bukankah semboyang yang diserukan akidah al-wala’ wal baro’. Memusuhi orang-orang kafir, ahli maksiat dan kemaksiatannya. Jika pelaku maksiat adalah aktifis itu sendiri, terus siapa yang akan dibaro’i?

Jika penyanyi papan atas baik barat maupun Indonesia masih diidolakan, lantas bagaimana penerapan akidah baro’ah? Akibatnya, minimal akidah baro’ahnya mengalami kecacatan, dan maksimalnya akan terkikis sedikit demi sedikit. Wal’iyyadzu billah.

Mungkinkah Musik Halal?

Terkadang saya berpikir, bisa jadi aktifis-aktifis yang masih giat mendengarkan musik mengambil madzhab yang menganggap mendengarkan musik boleh. Namun aktifis yang baik seharusnya memilihi pendapat yang kuat dan benar diantara sekian pendapat yang ada sebagaimana ditegaskan oleh Allah swt dalam surat Az-Zumar ayat tujuh belas dan delapan belas.

Tidakkah cukup sabda Rasulullah saw yang jelas-jelas mengharamkan musik,

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ ، وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ ، يَأْتِيهِمْ – يَعْنِى الْفَقِيرَ – لِحَاجَةٍ فَيَقُولُوا ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا . فَيُبَيِّتُهُمُ اللَّهُ وَيَضَعُ الْعَلَمَ ، وَيَمْسَخُ آخَرِينَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik. Dan beberapa kelompok orang akan singgah di lereng gunung dengan binatang ternak mereka. Seorang yang fakir mendatangi mereka untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari.’ Kemudian Allah mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allah mengubah sebagian mereka menjadi kera dan babi hingga hari kiamat.”[HR. Bukhari].

Atau hadits Rasulullah saw

“Sungguh, akan ada orang-orang dari umatku yang meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya. Mereka dihibur dengan musik dan alunan suara biduanita. Allah akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan Dia akan mengubah bentuk mereka menjadi kera dan babi.” (Abu Dawud –Shahih-)

Tidakkah cukup nukilan ijma’ empat ulama’ madzhab tentang keharaman musik?. Yang pasti, jika seseorang meninggalkan musik dan nyanyian, pasti Allah akan memberi ganti yang lebih baik.

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan sesuatu yang lebih baik.” (HR. Ahmad)

Therapy Cinta Musik

Syaikh Adawi menjelaskan, Therapy dari penyakit ini adalah dengan menghindarinya sejauh mungkin. Tidak bergaul orang-orang yang masih terjangkiti penyakit yang sama. Karena bagaimanapun kekuatan iman seseorang, suatu saat pertahanan imannya bisa jebol akibat sebuah pergaulan.

Beliau menambahkan, menjauhkan diri dari musik dan komunitas musik harus diiringi dengan banyak berdzikir, memperbanyak bacaan alQur’an dan sering-sering mendengarkan nasehat.

Menyibukkan hati dengan banyak ibadah, mampu mengendalikan syahwat yang senantiasa menggoda manusia untuk berbuat maksiat. Seringkali kemaksiatan itu muncul tatkala hati kosong dari dzikrullah atau ‘nganggur’ tidak memiliki aktifitas. Diantara sifat hati adalah berpikir. Maka jika ia tidak disibukkan dengan perbuatan baik atau memikirkan hal-hal yang baik, maka ia akan menyibukkan pemilikinya dengan hal-hal yang buruk.

Sehinga banyak berdzikir, membaca dan menghayati ayat-ayat Allah swt merupakan cara terbaik untuk memalingkan hati dari memikirkan hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah swt. Agar bacaan dan penghayatan terhadap al-Qur’an berkhasiat sebagai penawar hati yang sakit, hendaknya menghadirkan hati dan perasaan takut kepada Allah swt disaat membaca atau menghayati.

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.” (Az-Zumar: 23)

Diantara aktifitas dakwah para nabi adalah menyibukkan umatnya dengan perbuatan baik. salah satunya dengan memberi berbagai macam nasehat-nasehat kebaikan, agar hati mereka tersibukkan memikirkan urusan-urusan yang baik dan bermanfaat bagi diri mereka.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Suatu ketika nabi Musa AS memberi petuah dan nasehat kepada kaumnya. Beliau AS mengingatkan mereka hari-hari saat mereka kenikmatan dan pertolongan Allah limpah ruah kepada mereka. Juga tentang hari-hari di saat Allah menguji mereka dengan berbagai cobaan. Lalu Allah menyelamatkan mereka dari ujian tersebut. Tatkala hati mereka tersentuh dengan nasehat tersebut, air mata mereka bercucuran. Setelah itu, barulah Nabi Musa AS meninggalkan mereka.”

Tak jarang, kehidupan hari akhir dan kedahsyatan maupun kengeriannya menjadi tema favorite yang dipilih oleh Rasulullah saw untuk membangkitkan gairah ibadah dan rasa takut pada diri para sahabatnya.

Sahabat Umar bin Khattab RA pun melakukan demikian. Ada riwayat yang menyebutkan Umar ra memiliki sebuah majlis rutin yang digunakan untuk saling menasehati dan berkisah tentang perkara-perkara yang melembutkan hati.

Semua ini dilakukan oleh para nabi agar menyibukkan hati umatnya untuk memikirkan perkara-perkara yang baik dan menjauhkan hati mereka dari memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Semoga* (Akrom Syahid)

Diambil dari Majalah An-Najah edisi 94, Agustus 2013, rubrik Oase Imani

Editor Sahlan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *