Aktivis FIPS: Konflik Suriah Adalah Perang Ideologi Syiah vs Ahli Sunnah

abu-haris(an-najah.net) – Sebagian kaum muslimin belum memahami bagaimana sejatinya latar belakang konflik Suriah yang telah melewati lebih dari dua tahun ini. Hal ini karena sebagian tokoh Islam menyebut konflik Suriah hanyalah perang sektarian. Namun, hal tersebut dibantah oleh Ustad Abu Haris, Lc, dalam Tabligh Akbar  bertajuk: Konflik Suriah Dampak Kesesatan Aqidah Syiah, di masjid Darussalam, Kotawisata Cibubur,  Bogor, Selasa (12/3).

Menurut dai yang juga aktif di Forum Indonesia Peduli Suriah (FIPS) ini, konflik Suriah adalah konflik ideologi, bukan konflik sektarian seperti yang diyakini sebagian orang.

“Konflik Suriah adalah konflik ideologi, terutama ahli sunah dengan Syiah Nushairiyah,” sebutnya dengan suara lantang.

Karena itulah, dai berjenggot tebal ini mengingatkan kaum muslimin Indonesia agar memperkuat akidah. Sebab, Syiah memiliki Grand Strategy mensyiahkan negeri-negeri kaum muslimin ahli sunah. Mereka memiliki rencana besar yang dikenal dengan sebutan Bulan Sabit Syiah, yang membentang antara Iran sampai Suriah. Di antara targetnya ialah menguasai dan menghancurkan Kakbah, kiblat kaum muslimin.

Seperti dijelaskan, sejarah mencatat, Syiah Nushairiyah telah melakukan banyak pengkhianatan terhadap kaum muslimin. Ibnu Kasir, seperti dikutip oleh dai sekaligus relawan Suriah ini, menyebutkan dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah bahwa 696 H, membantu jalur masuk Pasukan Tatar untuk merebut benteng kaum muslimin di Damaskus, Suriah. Jatuhnya benteng ini ke tangan musuh tidak lepas dari peran penganut pemahaman sesat Syiah Nushairiyah.

Tahun 709 Hijriah, kaum Syiah membantu Tentara Salib membantai kaum muslimin di Aleppo. Dan masih banyak lagi pengkhianatan yang lain.

Sebenarnya, jumlah penganut Syiah Nushairiyah di Suriah hanya sedikit, tetapi mengapa mereka bisa  berkuasa di tengah-tengah mayoritas ahli sunah? Lagi-lagi, seperti dijelaskan oleh pemateri, mereka berkuasa sebagai hasil dari pengkhianatan terhadap kaum muslimin. Pada tahun 1920 M, penjajah Prancis memasuki Suriah dengan bantuan para pengkhianat tersebut. Merekalah yang membuka jalur bagi Prancis untuk menjajah Suriah. Pada masa inilah muncul tokoh yang diagung-agungkan oleh Syiah Nushairiyah yang bernama Sulaiman Al-Mursyid.

Di akhir sesi, Ustad Haris menyebutkan kisahnya saat bertemu dengan saksi mata yang hidup pada masa Hafiz Assad, ayah Bashar Assad. Hafiz Assad, mendapatkan kekuasaan setelah mengadakan transaksi dengan Zionis. Zionis kala itu mau mendukungnya dengan dua syarat, pertama, mengakui eksistensi negara Israel dan kedua, memberangus aktivis dakwah Islam yang berupaya mengembalikan Yerusalem ke tangan kaum muslimin. (agus)