Aktivitas Ramadhan Seorang Aktivis

Ramadhan seorang aktivis
Ramadhan seorang aktivis

An-Najah.net – Ramadhan adalah bulan terbaik di antara bulan-bulan lainnya. Pada bulan Ramadhan, semua pintu kebaikan dibuka, dan pintu-pintu kejahatan ditutup. Rasulullah SAW bersabda:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh keberkahan. Allah ‘Azza wa Jalla telah mewajibkan kepada kalian berpuasa didalamnya, di bulan itu pintu-pintu langit akan dibuka dan pintu-pintu neraka akan ditutup, di bulan itu setan-setan jahat akan diikat. Demi Allah, di bulan itu ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa terhalang mendapatkan kebaikannya maka sungguh ia telah terhalang.” (HR. an-Nasa’i).

Sebagai hamba yang mengharap ridha-Nya, kita dituntut untuk mempersembahkan amalan terbaik di bulan yang terbaik ini. Alangkah ruginya seorang hamba, lebih-lebih seorang aktivis, bila bulan yang mulia ini hanya diisi dengan rutinitas biasa, tanpa ada target dan peningkatan di dalamnya.

Shiyam Seorang Aktivis

Bagi seorang aktivis shiyam bukan sekedar ibadah tahunan; dikerjakan karena telah datang waktunya. Tapi shiyam telah menjadi ibadah yang dirindukan, bahkan sejak hari pertama ia meninggalkan Ramadhan tahun lalu.

Sehingga ketika memasukinya, ia akan semaksimal mungkin menghindari hal-hal yang dapat merusak ibadah shiyamnya. Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ ، الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ : إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَهُوَ لِي ، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ، يَدَعُ الطَّعَامَ مِنْ أَجْلِي ، وَيَدَعُ الشَّرَابَ مِنْ أَجْلِي ، وَيَدَعُ لَذَّتَهُ مِنْ أَجْلِي ، وَيَدَعُ زَوْجَتَهُ مِنْ أَجْلِي ، وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ ، وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ.

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Ibnu Khuzaimah).

Tentunya, shiyam yang dikerjakan bukan sekedar menahan lapar dan dahaga. Karena Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak menahan perkataan keji dan perbuatan buruk didalamnya, maka Allah tidak butuh (orang itu) menahan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari).

Qiyamullail Seorang Aktivis

Qiyamullail adalah ibadah yang mampu menguatkan ruhiyah dan menjaga keistiqomahan. Sejarah telah mencatat bagaimana beratnya perjuangan Rasulullah SAW di awal-awal masa  kenabiannya. Namun beliau tetap diperintahkan untuk menjalankan qiyamullail, bahkan qiyamullail menjadi kewajiban bagi Beliau hingga akhir hayatnya. Allah firman yang artinya:

“Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya). (Yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil). Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (QS. Al-Muzammil: 1-6).

Abu Umamah al-Bahili berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Lakukanlah Qiyamul Lail, karena itu kebiasaan orang saleh sebelum kalian, bentuk taqarub, penghapus dosa, dan penghalang berbuat salah.” (HR. At-Tirmidzi).

Dan sabda Beliau, “Barang siapa mendirikan (malam) Ramadhan, karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Melihat besarnya pahala qiyamullail, Para sahabat berlomba-lomba melaksanakannya, Imam al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab melaksanakan shalat malam, hingga telah sampai pada tengah malam beliau membangunkan keluarganya, “Shalat, shalat. Sambil membacakan firman Allah yang artinya, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Taha: 132).

Shadaqah Seorang Aktivis

Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan, dan Beliau akan lebih dermawan di dalam bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik shadaqah adalah shadaqah di bulan Ramadhan.” (HR. at-Tarmidzi).

Di antara bentuk shadaqah yang utama di bulan Ramadhan  antara lain:

Pertama, berbagi makanan kepada sesama muslim. Allah berfirman yang artinya:

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8 )

Memberikan makan tidak harus kepada fakir atau miskin. Rasulullah SAW bersabda:

أَيُّمَا مُؤْمِنٍ أَطْعَمَ مُؤْمِنًا عَلَى جُوعٍ أَطْعَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ وَأَيُّمَا مُؤْمِنٍ سَقَى مُؤْمِنًا عَلَى ظَمَإٍ سَقَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الرَّحِيقِ الْمَخْتُومِ

“Tidaklah seorang mukmin memberi makan mukmin yang lapar, melainkan di hari kiamat kelak, Allah akan memberikan makan dari buah-buahan surga. Dan tidaklah seorang mukmin memberi memberi minum mukmin yang dahaga, melainkan di hari kiamat kelak, Allah akan memberikan minum dari ar-Rahiqul Makhtum” (HR. at-Tarmidzi).

Ibnu Abbas berkata, “Ar-Rahiqul Makhtum adalah khamer.” (Tafsir ath-Thabari, XXIV/296).

Kedua, shadaqah untuk berbuka. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ لاَ يَنْتقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئًا

“Barang siapa yang memberikan (makanan atau minuman) untuk berbukanya orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala orang yang berpuasa.” (HR. Ahmad).

Dalam hal ini, ada baiknya kita mencontoh apa yang dilakukan Sa’ad bin ‘Ubadah. Beliau mengundang Rasulullah SAW untuk berbuka di rumahnya. Anas bin malik meriwayatkan bahwa, “Rasulullah SAW datang ke rumah Sa’ad bin ‘Ubadah, lalu disuguhkan kepadanya roti dan minyak zaitun. Kemudian Rasulullah SAW mendoakannya:

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ

Orang-orang yang puasa berbuka di tempatmu, orang-orang baik menyantap hidanganmu, dan para malaikat bershalawat untukmu.” (HR. Ibnu Majah).

Terdapat dua pelajaran penting yang terkandung dalam hadits ini. Yaitu keutamaan memberikan ifthar untuk orang-orang shalih, agar mendapatkan pahala yang lebih besar, dan mengucapkan doa kepada orang memberikan ifthar, karena ini adalah bagian dari adab Islami dalam berterima kasih.

Tilawah Seorang Aktivis

Bulan Ramadhan adalah bulan di turunkannya Al-Qur’an. Sudah sepantasnya seorang aktivis memperbanyak membaca Al-Qur’an di dalamnya. Rasullah SAW adalah orang yang paling sibuk mengurus umatnya, walau begitu beliau tetap meningkatkan semangatnya dalam tilawah Al-Qur’an.

Ibnu abbas berkata, “Jibril turun menemui Rasulullah SAW setiap malam di bulan Ramadhan. Lalu Rasulullah SAW akan membacakan Al-Qur’an di hadapannya.” (HR. Bukhari).

Ibnu bathal berkata, “Pembelajaran Al-Qur’an yang di lakukan Rasulullah SAW bersama Jibril dimaksudkan untuk menambah kecintaan Beliau terhadap akhirat dan kezuhudannya terhadap dunia.” (syarh al-bukhari, I/13).

Memasuki bulan Ramadhan, Para salaf meningkatkan semangatnya dalam membaca Al-Qur’an. Utsman bin affan menghatamkan Al-Qur’an setiap malamnya. Sebagian sahabat ada yang menghatamkan dalam tiga hari, atau tujuh hari atau sepuluh hari. Bahkan imam Syafi’i menghatamkan 60 kali dalam Ramahdan. Mereka membacanya baik dalam shalat maupun di luarnya.

Ibnu Rajab berkata, “Adanya larangan menghatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari adalah jika dilakukan terus menerus. Adapun jika memasuki waktu-waktu istimewa, seperti bulan Ramadhan dan terkhusus malam Lailatul Qadar, atau tempat tempat istimewa, seperti kota Mekkah, bagi yang bukan penduduk asli, maka diperbolehkan memperbanyak membaca Al-Qur’an, sebagai bentuk memanfaatkan keistimewaan waktu dan tempat. (Latha’ifu al-Ma’arif, 360.)

Beginilah seharusnya seorang aktifis. Ia lebih sungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan manusia pada umumnya. Sebab ia lebih membutuhkan pertolongan dan rahmat Allah SWT dibanding manusia lainnya.*

Penulis : Sahlan Ahmad

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 115 Rubrik Makalah

Editor : Anwar