“Al Akh… Letkol”

Seorang teman dari Jakarta berkirim email. Isinya, reportase lengkap diskusi ‘Polisi Dalang Terorisme?’ di Intiland Tower, kawasan Sudirman Jakarta. Narasumbernya tokoh-tokoh yang sering muncul di layar kaca. Ada Kadiv-Humas Mabes Polri, Si Mardigu yang sering menjadi ‘driver’ media (minus daya kritis insan pers), Fahri Hamzah (komisi III DPR RI), Bang Munarman sang panglima laskar, dan Cak M. Khottot yang belakangan sering dilabeli dengan K.H. Tanggal diskusinya 16 Ramadhan 1431 H yang diselenggarakan oleh Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK).

“Pak Mardigu, menurut Anda sebagai peneliti gerakan terorisme, apakah benar ada data valid bahwa pernah terjadi pelatihan di MAKO Brimob Kelapa Dua ?” Tanya Lutfi Hakim (TPM), selaku host dalam diskusi itu. Mardigu, siang itu menjawab agak beda dari tradisinya: “Saya akan bicara sesuai fakta dan data yang saya miliki dan terkonfirmasi; Sofyan dibantu dua rekan polisi aktif bernama Tatang Mulyadi dan Abdi Tunggal sebagai penyuplai amunisi dan senjata disposal (rusak) yang di-repair. Selain itu ada satu orang non-aparat yang menyuplai senjata bernama Sutrisno”. Mendengar jawaban semacam itu, Lutfi mengejar lebih lanjut, “Untuk memperoleh senjata-senjata itu tentunya perlu izin resmi dan melalui birokrasi dari kesatuan?” “Jelas..!”, tegas Mardigu.

Peserta terhenyak. Selama ini, teori Sofyan Tsauri sebagai ‘penyusup’ banyak dipopulerkan oleh Munarman dan Habieb Rizeq. Sebagian orang mungkin menolak karena ‘jubah’ atau ‘jenggot’ mereka. Tapi kali ini, jawaban vulgar itu disampaikan oleh Mardigu, sosok yang selama ini dikenal sebagai ‘jubir’ polisi. Ia bahkan menyebut bahwa issu teroris sebagai ‘menggiurkan’. “Paham kan maksud saya?” Tanya-nya penuh isyarat. Peserta pun mafhum bahwa yang dimaksud adalah ‘godaan fulus asing’. Siang itu, Mardigu agak kurang bersahabat dengan Densus-88.

Siang itu juga, Munarman kembali menjelaskan kronologi bagaimana peran Sofyan dalam latihan militer di Aceh berdasarkan testimoni pelaku. Januari 2009, saat perang Gaza berkecamuk, FPI Aceh bermaksud memberangkatkan relawan ke Gaza. Tiba-tiba, masuklah Sofyan ke Aceh menawarkan diri menjadi instruktur pelatihan militer. Sebanyak 15 personel relawan yang dinilai lolos seleksi diundang ke Jakarta. Keberangkatan ke Gaza ternyata tidak mudah hingga missi ini tertunda. Secara diam-diam, 10 dari 15 orang ini berkunjung ke tempat Sofyan di Kelapa Dua. Di tempat yang super maksimum sekuriti inilah mereka dilatih menembak di lapangan tembak MAKO Brimob. Masing-masing konon menghabiskan 40 peluru setiap hari selama sebulan dari Pebruari hingga Maret 2009. Selanjutnya Januari 2010, enam dari sepuluh ini diketahui sebagai peserta latihan militer di hutan Jantho Aceh yang menggemparkan itu.

Sebenarnya cerita ini sudah lama beredar. Rombongan TPM bersama Habieb Riziq pernah memaparkan hal ini di depan tokoh-tokoh agama Solo tiga bulan sebelum ditangkapnya Ustadz Abu Bakar Baasyir. Namun, me-relay hal ini dalam tulisan sungguh sangat berat karena sama halnya membuka ‘kelemahan’ elemen Islam itu sendiri. Namun seiring issu e yang semakin santer dan terbuka, bukankah justru elemen Islam yang harus bermuhasabah dan memetik hikmah dari kejadian ini? Jika cerita-cerita ini benar, maka kita harus prihatin karena untuk kesekian kalinya, elemen Islam tersusupi.

Kenapa bisa demikian? Karena adanya titik lemah di elemen Islam itu sendiri. Titik lemah itu antara lain adalah “mudah simpatik” dan “mudah percaya”. Saat melihat aktor tobat misalnya, kadang muncul rasa simpatik yang berlebihan. Demikian juga saat melihat pendeta tobat, polisi tobat, muallaf, dan sejenisnya. Hijrahnya seseorang secara ekstrem, dari dunia jahiliyah ke dunia Islam (terlebih islam jihadis), kadang memunculkan rasa simpatik yang menumpulkan daya kritis dan kewaspadaan. Padahal teori inilah yang banyak dipakai intelejen dalam operasi penetrasi. Di pesantren Ngruki dulu, ada murid yang sangat disayang para ustadz karena muallaf. Ia bahkan mendapat perlakuan khusus dan akses-akses yang eksklusif. Di kemudian hari, murid yang berprestasi dalam banyak bidang ini, terbongkar kedoknya sebagai intel. Demikian cerita Ustadz Mukhlas suatu ketika.

Jiwa manusia mudah percaya kepada orang yang memiliki identitas dan budaya yang identik. Ibarat sinyal; sama-sama GSM. Kewaspadaan kadang mulai berkurang saat seseorang menyapa dengan, “akhi, ukhti, ana, antum..” Kosa kata semacam itulah yang hari ini banyak dipakai polisi dalam berkomunikasi dengan ‘teroris’. Ditambah sebagian mereka memelihara jenggot, berjidat hitam, dan bercelana cingkrang. Syeikh Maqdisi pernah bercerita bahwa ada seorang pemuda hafidz Alquran ditangkap dengan tuduhan melakukan tindak pidana. Ia tidak mengaku meski dipukul dan disiksa. Pertahanannya bobol saat ada penyidik mengaku sebagai simpatisannya dan sering bermakmum shalat kepadanya. Sang penyidik yang simpatik ini bahkan bersedia membantu kasus ‘ikhwan-ikhwan’ selagi mereka jujur dan terbuka. Ia berjanji tidak akan mengangkat kasus mereka ke pengadilan. Karena merasa in-group, sang pemuda pun akhirnya bercerita jujur kepada “al-akh.., penyidik” ini. Rasa waspadanya kurang bahkan hilang. Akhirnya, pemuda hafidz ini harus menerima ganjaran penjara seumur hidup.

Munculnya sosok yang menunjukkan semangat jihad berdosis tinggi juga patut diwaspadai, terutama bagi mereka yang tidak jelas ‘sanad’ tarbiyahnya. Sebelum terbongkar kasus Aceh, banyak sosok-sosok yang mendemonstrasikan hamasah di forum-forum internet. Tidak jarang hamasah itu dimunculkan dengan mencela tokoh-tokoh jihadis lain dan menvonis sebagai qa’idun. Bak pahlawan di siang bolong, ia mulai mengabaikan adab-adab Islam. Tidak jarang, sebuah operasi yang harusnya top-screet, diumbar dalam media setengah umum semacam itu dengan ‘Insya Allah, amaliyat sebentar lagi…’ Saya jadi teringat cerita anggota TPM yang datang berkunjung ke kantor belum lama ini. Beliau menuturkan bahwa saat menjadi mahasiswa dulu, ia punya kawan yang semangat jihadnya berapi-api. Militansinya sangat menonjol di mata mahasiswa lain. Ternyata, lama tidak ketemu, kawannya itu muncul di televisi mendampingi seorang pejabat intelejen senior melakukan siaran pers belum lama ini.

Tansiq dan amal gabungan dalam hal jihad, juga bisa menjadi titik lemah penetrasi intelejen. Terlebih jika hal ini dilakukan semi terbuka. Berbeda dengan disiplin dakwah yang terbuka, dalam disiplin jihad banyak hal bersifat tertutup. Banyak aurat yang harus dijaga disana. Karenanya, perlu saringan yang ekstra ketat untuk menyimpulkan bahwa mereka adalah ‘kawan’. Issu e sensitive bersama yang biasanya mengiringi (semisal issu pembelaan terhadap pembantaian umat Islam) tidak seharusnya membuat harakah larut dan disertai dengan mengendorkan pakem disiplin keanggotaan, pola rekrutmen, dan amniyah. Kasus Rabitah Mujahidin yang digagas dalam suasana reformasi 1998, harus menjadi pelajaran berharga bagi elemen harakah. Typing intelejen terhadap harakah underground ternyata bermula dari forum semacam ini. Dalam struktur kepengurusan MMI, divisi se-strategis ‘alaqot mujahidin (hubungan antar mujahidin) ternyata pernah dipegang Ustadz Abdul Haris, sosok yang diduga kuat sebagai anggota BIN. Begitu kedoknya terbongkar, ustadz yang pernah study di Riyadl ini, lenyap bagai ditelan bumi.

Doktrin selalu berhusnudzon kepada setiap orang memang sangat mulia. Rasulullah sendiri pernah berpesan, ‘Jauhilah prasangka karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta.’ Ahli hikmah bahkan meminta kepada kita untuk mencari 70 alasan berbaik sangka saat melihat satu kesalahan saudara. Disinilah kita dituntut untuk bersikap imbang antara bersikap su’udzan dan bersikap hadzar (waspada). Bukankah Rasulullah disisi lain juga mengatakan bahwa perang itu adalah tipudaya?
Dengan demikian niat ikhlas saja belum cukup. Diperlukan intelegensia yang tinggi untuk mengenali dan menghadapi apa itu tipudaya. Semoga, kita tidak mudah ditipu oleh ‘al-akh letkol…’