Tadabbur Al-Maidah: 51, Peta Manusia

Al-Maidah: 51
Al-Maidah: 51, Peta Manusia
Al-Maidah: 51
Al-Maidah: 51, Peta Manusia

An-Najah– Al-Qur’an memang ajaib. Ia mukjizat abadi yang dari Rabb pemilik Alam Semesta ini. Demikian juga Al-Maidah: 51. Ia menjadi peta manusia.  Yaitu, memetakan tentang beberapa kelompok manusia, beserta karakter yang mereka miliki. Kelompok-kelompok ini, telah ada pada zaman nabiMuhammad SAW, juga akan ada sepanjang massa. Termasuk di zaman kita sekarang.

Dengan mengkaji Al-Maidah: 51 ini umat akan mengetahui konspirasi musuh-musuh Islam dalam menghancurkan umat Islam. Bagaimana cara menerapkan ayat ini dan seperti apa solusi ketika umat ini hidup di akhir zaman ini. Allah SWT berfirman;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Maidah: 51)

***

Al-Maidah: 51 dijadikan seperti peta yang membantu muslim memahami hakekat manusia, jenis dan karakternya masing-masing. Setidaknya, ada tiga pembagian manusia yang disebutkan oleh Al-Maidah: 51 dan 52. Masing-masing memiliki karakter yang berbeda-beda:

Pertama: Orang-orang beriman yang disebut oleh Allah SWT dengan ungkapan (الَّذِينَ آمَنُوا). Dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan karakter khas orang-orang beriman, yaitu tidak mengambil dan mengangkat orang-orang kafir selain orang beriman sebagai aulia pemimpin atau teman. Sebagaimana tersebut dalam ayat di atas.

Jika ada seseorang yang mengaku beriman, tetapi mengangkat orang-orang kafir sebagai pemimpin, maka mereka dikategorikan sebagai bagian dari orang kafir tersebut. Bukan bagian dari orang-orang beriman. Allah SWT menegaskan di Al-Maidah: 51;

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

“Siapa diantara kalian yang memberikan loyalitas kepada mereka, maka ia bagian dari orang mereka.”

Kedua: adalah orang-orang kafir dalam ayat ini diwakili oleh Yahudi dan Nasrani. Orang-orang kafir bagi Yahudi Nasrani atau selain mereka memiliki karakter yang cukup berbahaya dan membahayakan bagi umat Islam Allah SWT tegaskan dalam ayat tersebut (أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ) “satu dengan yang lainnya mereka saling tolong-menolong.”

Mereka yang berada di pemerintahan akan menolong orang-orang kafir yang ada di gereja yang melakukan kristenisasi.

Demikian juga, antara orang-orang kafir yang menjadi pengusaha bisnis haram, seperti; pelacuran,  perjudian, minuman keras dan selainnya akan bekerjasama dengan orang-orang kafir yang berada di pemerintahan dalam melegalkan atau mempromosikan bisnis tersebut.

Buktinya, saat Ahok menjadi gubernur, ia meminta kepada DPR untuk membuat undang-undang yang memperbolehkan penjualan miras secara bebas. Ia pun berjanji untuk membuatkan apartemen khusus bagi para pelacur, yang akan disertifikasi.

Ketiga: kelompok munafikin yang diungkapkan oleh Allah SWT dengan kalimat, [الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ]                  Sementara orang-orang munafik dalam Al Maidah:52 disifati oleh Allah SWT sebagai penjilat orang-orang kafir Allah SWT;

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.”

Fenomena Ahok yang menista Al-Quran, memunculkan ketiga kelompok tersebut; kubu orang-orang beriman diwakili oleh MUI dan para pendukungnya, yang tegas mengatakan bahwa itu adalah pelecehan dan Ahok harus dihukum.

Sementara kubu orang-orang kafir diwakili oleh Ahok dan teman-temannya, yang memang memiliki sifat dan kebencian terhadap Islam. Di belakang Ahok, tentunya masih banyak orang-orang kafir yang memendam kebencian terhadap Islam. Allah SWT berfirman;

قَدْبَدَتِالْبَغْضَاءُمِنْأَفْوَاهِهِمْوَمَاتُخْفِيصُدُورُهُمْأَكْبَرُ

“Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (Qs. 3: 118)

Sementara kubu munafik diwakili oleh orang-orang yang mengaku sebagai muslim, bahkan ada yang bergelar kyai. Mereka mendukung penistaan tersebut, membela kepentingan Ahok, bahkan melakukan berbagai macam manipulasi untuk membenarkan tindakan orang-orang kafir, seperti Ahok.

Konflik Masa Depan

Selain berbicara tentang pembagian manusia, Al-Maidah: 51 pun, menegaskan tentang konfrontasi. Yaitu konfrontasi antara pembela Islam dengan pembela kebathilan. Baik dari kalangan munafik, murtad, atau orang-orang kafir asli.

Konflik dan konfrontasi adalah sesuatu yang lumrah terjadi. Ia tuntutan psikologis,  dan ideologis seorang manusia. Antara kebenaran dan kebatilan pasti terjadi konflik. Demikian juga antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir, ada konfrontasi yang bersifat abadi.

Siapapun yang mengamati Al Quran dan menghayati sejarah para nabi, maka dia akan mendapati bahwa permusuhan antara kebenaran dan kebatilan, kekufuran dan keimanan adalah sunnah kauniyah dan sunnah robbaniah.. Keduanya senantiasa berseteru, hingga salah satu dari keduanya dikalahkan.

وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَمَا أُنْذِرُوا هُزُوًا

“Orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan- peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.” (Qs. Al-Kahfi: 56)

Para pemikir Islam telah menjelaskan hakikat konfrontasi ini. Mereka telah memaparkan data sejarah maupun dalil Alquran dan as-Sunnah tentang fakta ini. Syekh Muhammad Abduh menyebut konfrontasi ini, sebagai “salah satu tuntutan logis kehidupan manusia.”

Sayyid Qutb, menjelaskan bahwa peperangan (ma’rokah) kebenaran dan kebatilan, antara Islam dan jahiliyah, antara syariat dengan thogut, dan antara petunjuk dan kesesatan senantiasa eksis hingga hari kiamat.”

Ulama Ushul Fiqih Ibnu ‘Asyur pun menegaskan, “Konfrontasi antara kebenaran dan kebatilan adalah sesuatu yang alami, telah terjadi sejak dahulu kala.”

Walau demikian Allah SWT juga menegaskan bahwa akhir dari konfrotasi ini adalah kemenangan bagi para pejuang kebenaran Allah menegaskan dalam beberapa ayat di antaranya Allah berfirman Al-Isra: 81

“Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”

Walakhir, Al-Maidah: 51 memang membuka pikiran kita tentang prinsip-prinsip pokok dalam agama kita. Dan membantu kita untuk memahami ayat-ayat al-Qur’an.*

Penulis: Masúd Izzul Mujahid

Editor: Ali M

Makalah Diambil dari Majalah An-Najah Edisi 133 (Desember 2016)