Al Qur’an Di Mata Para Sahabat

Al Qur'an di mata sahabat
Al Qur’an di mata sahabat

An-Najah.net – Para sahabat memberi kita contoh dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kalamullah yang berisi petunjuk dan bimbingan bagi manusia. Al-Qur’an juga merupakan patokan antara yang haq dengan yang batil.

Meski demikian, tak semua orang mampu mendapatkan hasil yang sama dari mempelajari dan membaca Al-Qur’an. Hasal Al-Bashri mengungkapkan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an terbagi menjadi tiga tipe:

Pertama, orang yang menjadikan Al-Qur’an seperti barang dagangan yang dibawa dari satu kota ke kota lain untuk ditukar dengan uang.

Kedua, orang yang membaca Al-Qur’an hingga menguasainya, namun mereka tidak mengamalkannya bahkan menyalahi tuntunannya. Parahnya, tipe ini justru yang paling banyak beliau temukan.

Ketiga, orang yang dapat mendulang manfaat dari membaca Al-Qur’an. Kalamullah ini benar-benar dapat mengobati hatinya, menjadi petunjuk dan rahmat.  Menurut beliau, “Karena merekalah Alloh menurunkan hujan, memberi pertolongan dan menghilangkan bala dan musibah. Namun, manusia tipe ini sangat langka.”

Sahabat Mempelajari Al Qur’an

Para sahabat Nabi masuk ke tipe ketiga. Cara mereka mempelajari Al Qur’an tidak sama dengan generasi setelahnya. Abu Abdurrahman as-Sulami menjelaskan bahwa mereka belajar Al Qur’an sedikit demi sedikit. Kurang lebih sejumlah10 ayat.Mereka tidak menambah 10 ayat lagi jika belum memahami apa maknanya. Dengan cara ini, mereka belajar ilmu dan amal secara bersamaan.

Dengan cara seperti di atas Imam Asy-Sya’bi seorang ahli tafsir menjamin:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ لَمْ يُخْرِفْ

Orang yang membaca Al-Qur’an tidak akan tersesat.

Intensitas para salafus shalih dalam membaca Al-Qur’an sangat luar biasa. Tidak ada waktu kosong yang sia-sia karena selalu diisi dengan membaca kalamullah. Ibnu Abi Zanad pernah menceritakan suasana masa itu. “Setiap kali beliau pergi ke masjid Nabawi di waktu fajar, setiap rumah yang aku lewati, aku mendengar orang membaca Al-Qur’an.”

Oleh karena itu, tak heran jika mereka mampu mengkhatamkan Al-Qur’an ribuan kali dalam hidupnya. Misalnya, beberapa saat sebelum Imam Syafi’i wafat, ahli warisnya menangisi beliau. Beliau menghibur mereka bahwa kepergian beliau tak perlu dirisaukan sebab, “Aku mengkhatamkan Al-Qur’an dalam rumah ini sebanyak 4000 kali.”

Menurut sebuah riwayat, pada bulan Ramadhan, Imam Syafi’i khatam sebanyak 60 kali. Qatadah seorang ahli tafsir tabi’in biasa mengkhatamkan Al-Qur’an tiap 7 hari.Di bulan ramadhan khatam tiap 3 hari sekali. Ketika Ramadhan tersisa 10 hari, beliau mengkhatam Al-Qur’ansatu hari sekali. Sungguh luar biasa. Inilah profil generasi salaf ash sholeh.

Sumber : Majalah An-najah Edisi 90 Rubrik Tema Utama

Editor : Abu Khalid