Apa, Siapa, Mengapa Mereka Bertikai Di Suriah?

caliphate-syria(An-Najah.net) Berikut adalah artikel pendek yang memberikan analisis seputar konflik Suriah yang ditulis oleh Fred Gedrich, seorang analis pertahanan nasional dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Gedrich memetakan kubu-kubu yang bertikai di medan jihad Suriah, dan ia yakin dengan prediksinya bahwa Revolusi Suriah akan berakhir dengan tegaknya Syari’at Islam dan kemunculan tanda-tandanya sudah semakin menguat. Oleh karena itu ia menyarankan agar Amerika harus mengambil tindakan yang tegas dan cepat untuk mencegah hal itu terjadi.

Konflik yang berkecamuk di Suriah selama 20-bulan lebih untuk menggulingkan Bashar Assad dari kekuasaan telah berkembang menjadi pertempuran untuk supremasi sektarian Timur Tengah oleh dua musuh kuno: Sunni dan Syiah. Pejuang Sunni yang muncul siap untuk memenangkan peperangan. Ini sangat penting bagi pemerintahan Obama untuk mencegah pemerintah Suriah baru yang akan menggantikan kediktatoran sekuler dengan rezim yang justru lebih berbahaya [karena] berdasarkan hukum Islam. Munculnya Negara Islam baru di Timur Tengah bisa mengancam penduduk regional dengan tirani yang lebih religius, perang abadi antar tetangga dan kekhalifahan yang satu dengan yang lain.

Muslim Sunni yang berada di Suriah, terdiri dari hampir 75 persen dari 22,5 juta penduduk negara, memicu pemberontakan dengan menuntut lebih banyak kebebasan dan peran yang lebih besar dalam pemerintahan dari rezim Bashar Assad yang berasal dari kelompok Alawiyyin yang menindas rakyat mayoritas. Assad menanggapi demonstrasi dengan tindakan militer yang keras dan brutal. Demonstrasi menyebar dan meningkat penuh menjadi perang yang melibatkan negara-negara lain dan pejuang asing, sebagian besar mereka berjuang atas nama agama [jihad]. Konflik sesama Muslim [Sunni-Syiah] ini telah merenggut 60.000 nyawa warga sipil dan faksi yang berperang, serta pengungsi sekitar 2,5 juta orang.

Yang dipertaruhkan adalah tanah historis yang sangat berharga, dihuni oleh aneka ragam suku bangsa dan memiliki nilai strategis yang penting. Suriah telah memiliki sejarah yang kaya sejak  4.500 tahun. Populasinya termasuk Muslim, Alawi, Kurdi, Kristen, Druze, Turkmen dan Palestina. Selain itu, negeri ini berbatasan dengan Israel, Irak, Yordania, Libanon, dan Laut Mediterania. Sejak tahun 1971, Suriah telah diperintah oleh keluarga Assad yang diktator, Hafez dan kemudian putranya Bashar yang berasal dari Partai Baath.

Berikut adalah beberapa keterangan mengenai pihak utama yang bertikai:

1.) Alawi (anggota dari cabang Islam Syiah) mewakili sekitar 12 persen dari populasi, namun menempati sebagian besar komposisi pejabat militer dan jabatan pemerintahan Bashar Assad. Mereka juga kelompok yang paling dipercaya oleh Bashar Assad, komponen militer-bersenjata terbaik dan paling terlatih dan berfungsi sebagai paramiliter shabiha (kelompok terlatih yang tidak bertugas resmi) sebagai pembela melawan musuh-musuhnya.

2.) Rezim Syiah Iran adalah sekutu Mr Assad yang paling penting di Timur Tengah. Negeri inilah yang memasok pasukan keamanan Mr Assad dengan senjata, amunisi, rudal, pejuang dan pelatih militer kebanyakan melalui kekuatan Garda Revolusi Iran Korps Quds.  Kelompok teroris Iran yang paling mematikan, Hizbullah Syiah Lebanon, juga telah bergabung dengan perjuangan di sisi Mr Assad. Hilangnya aliansi Suriah akan menjadi kemunduran buruk bagi ambisi regional Iran, terutama karena berfungsi sebagai pintu gerbang strategis sebagai penghubung dari negara non-Arab menuju negara-negara Arab lainnya, kamp-kamp pengungsi Palestina, Tepi Barat, Gaza, pelabuhan Suriah dan perbatasan Israel .

3.) Pejuang Muslim Sunni (terdiri dari sekitar 100 milisi lokal diisi dengan banyak pembelot militer Suriah) membentuk inti oposisi dan beroperasi di bawah payung berbagai organisasi yang tidak saling berkaitan seperti Free Syrian Army (FSA), dan Koalisi Nasional Angkatan Revolusi dan kekuatan oposisi. Kekuatan oposisi termasuk didalamnya berasal dari kelompok ideologi transnasional Sunni seperti Ikhwanul Muslimin dan Salafi, serta organ afiliasi Al-Qaeda. Senjata-senjata diberikan secara terbuka kepada unit pemberontak oleh negara-negara Timur Tengah seperti Qatar, Arab Saudi dan Turki yang mempromosikan kepentingan Ahlu Sunnah untuk berbagai tingkat dan kepentingan Islam Sunni.

 

Syariah Tidak sesuai dengan demokrasi

Muslim menganggap kekuasaan Islam – berada ditangan seorang khalifah yang berperan sebagai pelanjut nubuwwah Nabi Muhammad SAW- sebagai pilar utama global- dan dominasi program politik mereka [khilafah -red]. Sunni dan Syiah memiliki perbedaan yang tajam diantara mereka, terhadap apa dan siapa yang harus memimpin. Mereka sebenarnya sepakat bahwa dasar utama dari pemerintahan dan administrasi peradilan harus berdasarkan hukum Islam (Syariah) sebagaimana tercantum dalam Alquran dan tradisi [sunnah-red] Nabi Muhammad SAW, yang dijabarkan lebih lanjut oleh ahli hukum Islam klasik [ulama salafusshalih -red].

Banyak orang Barat, termasuk Presiden Obama dan Menteri Luar Negeri Hillary Rodham Clinton, menyatakan bahwa ‘Musim Semi Arab’ membawa transisi demokrasi ke negara-negara dunia Arab seperti Mesir, Libya dan Tunisia. Namun, setelah pemilu berlangsung, model demokrasi yang diimpikan oleh banyak dari mereka adalah hak-hak politik yang sama dan kebebasan sipil sebagaimana yang ada di negara liberal di dunia, bukan menuju model intoleran yang berdasarkan Syari’at Islam.

Di sinilah letak besar dan bahayanya masalah. Syariah tidak sesuai dengan teori demokrasi. Seperti yang diterapkan dan dipraktekkan oleh banyak Muslim, hali itu benar-benar merendahkan perempuan dan melakukan berbagai pelanggaran HAM lainnya, seperti mengklasifikasikan status hukum kelompok minoritas non-muslim jauh lebih rendah daripada Muslim dan mengeluarkan hukuman yang kejam dan tidak biasa. Hal ini juga menolak kebebasan berbicara dan hati nurani dan adanya perintah jihad yang agresif yang memiliki misi: dunia berada di bawah hegemoni Islam.

Amerika akan menyambut jatuhnya kediktatoran Assad dan dengan itu berakhir pula aliansi Suriah-Iran. Duo negara teroris yang ditetapkan Amerika yang bertanggung jawab terhadap tiga dekade kekacauan yang berkecamuk  di Timur Tengah dan kematian yang juga mengambil nyawa warga Amerika. Namun, AS dan keamanan regional tidak akan meningkat jika sebuah negara Islam Sunni dengan aspirasi kekhalifahan dibangun dari puing reruntuhan rezim Assad.

Ide terbaik yang bisa dilakukan oleh Amerika ialah  memfasilitasi Suriah yang lebih damai dan Timur Tengah yang lebih baik ketika Bashar Assad jatuh. Salah satu tindakan berani yang bisa dilakukan oleh Barrack Obama adalah mendesak para pemimpin Suriah baru secara terbuka untuk menyusun sebuah pemerintahan yang mempromosikan gender, kesetaraan hukum, etnis dan agama dan bukan merupakan ancaman bagi tetangga. 

 

*Fred Gedrich, bekerja di Departemen Pertahanan US, sebagai analis kebijakan luar negeri dan keamanan nasional.

 

Catatan: Sejarah telah membuktikan sebuah fakta bahwa, dunia tidak pernah lebih stabil dibandingkan ketika Khilafah didirikan. Orang-orang Yahudi misalnya, menemukan eksistensi damai di negara Khilafah, ketika negara Barat malah menolak dan mengeluarkan mereka, Sains dan  kemampuan intelektual manusia yang penting lainnya tumbuh secara substansial di dunia Islam, ketika  orang-orang yang sedang mempelajari belajar hal itu malah dianiaya di Eropa [The Dark Age -red]. Ada banyak contoh lagi yang bisa kutip disini untuk membantah banyak argumen dalam potongan tulisan diatas, tapi kita akan berakhir dengan sebuah kesimpulan yang menyatakan bahwa: “Dunia [khususnya Barat] takut terhadap pembentukan kembali negara Islam, dan jika ada begitu banyak upaya dilakukan oleh mereka untuk menekan hal itu, kita sebagai umat Islam harus lebih berupaya untuk menghidupkan Khilafah Islamiyah.”

 

Red: Fajar

Sumber: http://www.washingtontimes.com/news/2013/jan/2/syria-on-track-to-become-islamic-state/#ixzz2H8CVyjge