Anggota Wajib Taat, Pemimpin Harus Bijak

Pemimpin
Pemimpin

An-Najah.net – Suatu ketika Rasulullah SAW mengirimkan satu regu untuk menjalankan operasi Sariyah. Para ahli tarikh tidak menyebutkan lokasi tujuan dan berapa jumlah personilnya. Hanya dikabarkan bahwa kelompok kecil itu dipimpin oleh seorang lelaki dari kalangan Anshar.

Sebelum berangkat, Rasulullah SAW mewasiatkan pesan; hendaknya para anggota patuh dan mengikuti instruksi sang komandan. Di tengah perjalanan terjadi konflik. Sang komandan yang naik darah akhirnya mengumpulkan para anggota. Ia memerintahkan mereka mengumpulkan kayu bakar lalu menyulutnya.

Api unggun berkobar tinggi. Lidah apinya menyambar kanan kiri. Hawa panas membuat orang-orang mundur beberapa langkah.

Baca Juga : Karena Ketaatan Membuahkan Balasan

“Bukankah Rasulullah SAW berpesan agar kalian mematuhi perintahku?” tanya sang komandan retoris.

“Benar,” jawab para anggota serempak.

Sang komandan lalu menunjuk api dan berbicara dengan nada keras, “Masuk ke dalam kobaran api!”

Para anggota bimbang, antara mematuhi instruksi atau membangkang. Masuk ke dalam kobaran api berarti bunuh diri. Dosa besar yang membuat mereka layak diganjar api neraka. Tapi, mereka ingat bahwa Rasulullah SAW telah berpesan agar mereka mengikuti apa perintah sang komandan.

Di tengah dilema itu, seorang anggota berani bersuara, “Bukankah kita mengikuti Rasulullah SAW agar kita tidak masuk api neraka. Mengapa kita sekarang justru hendak membakar diri sendiri dengan kobaran api ini.”

Tiba-tiba keajaiban terjadi. Api unggun mendadak padam. Begitu juga emosi komandan yang tiba-tiba stabil. Ia tidak marah lagi. Rombongan itu kembali ke Madinah untuk melapor kepada Rasulullah SAW.

Beliau berkomentar, “Andai mereka semua masuk ke kobaran api itu, mereka tidak akan dapat keluar untuk selama-lamanya. Ketaatan hanya dalam kebaikan.”

Baca Juga : Wajib Taat kepada Pimpinan Kaum Muslimin dalam kebaikan

Fragmen kisah yang diceritakan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib ini mengandung banyak pelajaran. Terutama dalam hal bagaimana hidup berjamaah atau berorganisasi yang baik. Khususnya tentang hak dan kewajiban seorang pemimpin dan anggota.

Kewajiban Anggota

Sebuah organisasi terdiri dari pemimpin dan anggota. Masing-masing berkomitmen secara sadar untuk mencapai tujuan tertentu. Setiap posisi dalam organisasi berkonsekuansi pada tanggung jawab yang berbeda. Baik pemimpin maupun anggota terikat oleh nidzam atau peraturan yang telah disepakati.

Namun, semua tata aturan tersebut tidak akan bernilai jika tidak ada kepatuhan dari para anggota. Bagaimana sebuah organisasi bisa berjalan jika anggota lebih memilih melakukan program B daripada program A yang telah disepakati bersama. Juga lebih senang mengikuti ego pribadi daripada mematuhi instruksi atasan. Bisa dipastikan, organisasi hanyak menunggu waktu untuk bubrah. Tujuan yang diimpikan di awal perjalanan mustahil tercapai. Organisasi itu tinggal formalitas belaka.

Baca Juga : Iltizam Jama’ah, karakter Salaf

Inilah mengapa Islam menegakkan prinsip as-samu wa at-thoah. Mendengar dan patuh. Yaitu mendengarkan arahan pemimpin. Tidak hanya mendengar saja. Tapi mendengarkan dan  menjalankan instruksi tersebut.

عَنْ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

Dari Abdullah bin Umar RA yang meriwayatkan dari Nabi SAW yang bersabda, “Seorang muslim wajib mendengar dan taat. Baik untuk yang ia suka maupun ia tidak suka. Selama ia tidak diperintah melakukan maksiat. Jika diperintah melanggar maksiat, ia tidak wajib mendengar dan taat.” (Muttafaq alaih)

Dalam berkelompok, prinsip ini wajib hukumnya. Ketika masuk ke sebuah organisasi, seseorang telah berikrar untuk mengikuti aturan mainnya. Ia juga dengan sadar akan mengorbankan sedikit egonya demi kemaslahatan bersama.

Namun organisasi yang sehat tidak akan mensetting anggotanyabak robot. Segenap anggota diberi ruang untuk menyampaikan usulan dan pendapat. Mekanismenya diatur lewat syura dankebebasan menyampaikan saran-kritik membangun. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.

Dalam perang badar, beliau menerima saran seorang sahabat agar memindahkan kamp perkemahan ke lokasi yang lebih strategis. Pada perang Khandaq, beliau meminta saran kepada dua sahabat anshar yang menjadi pemimpin Aus dan Khazraj. Tentang tawaran damai kepada orang musyrik dengan kompensasi separuh hasil bumi Madinah. Kedua sahabat anshar itu menolak usul beliau. Bahkan menawarkan diri maju bertempur bersama sukunya hingga titik darah penghabisan. Keputusan inilah yang Rasulullah SAW jadikan pegangan untuk mengambil kebijakan.

Baca Juga :  Menang – Kalah Adalah Sunnatullah Perjuangan

Bahkan Rasululullah SAW pernah memilih satu pendapat yang beliau tahu itu tidak efektif. Seperti dalam Perang Uhud, dimana beliau awalnya memilih Madinah sebagai medan pertempuran. Pasukan kafir quraisy akan dibiarkan masuk ke dalam kota. Para sahabat akan ‘menyambut’ dengan serangan mendadak. Wanita dan anak-anak ikut dilibatkan dengan melempari musuh dari atap rumah.

Rasulullah SAW telah membuat kalkulasi matang. Bahwa dengan taktik ini pasukan kafir quraisy akan mudah dikalahkan. Taktik yang hari ini dikenal dengan taktik perang kota.  Kekalahan dengan cara ini akan menjadi aib bagi kaum quraisy sepanjang masa. Inilah mengapa Abdullah bin Salul, tokoh munafik, juga sepakat dengan Rasulullah SAW.

Namun, beberapa sahabat yang tidak ikut Perang Badar mendesak Rasulullah SAW agar bertempur di luar kota. Lebih gentle dan berwibawa menurut mereka. Rasulullah SAW akhirnya memilih pendapat ini. Walaupun para sahabat tersebut menyesal telah memaksa Rasulullah SAW. Beliau tetap keukeuh pada pilihan berperang di luar kota. “Tidak layak bagi seorang nabi ketika sudah memakai baju perang demi ummatnya, kemudian ia menanggalkannya sebelum berperang,” sabda beliau.

Baca Juga : Jadilah Pemuda Pejuang

Keharusan Pemimpin

Tatalaksana kehidupan berorganisasi memang seharusnya balance. Tidak hanya anggota saja yang dituntut kewajiban. Seorang pemimpin pun memiliki kewajiban yang kelak akan diaudit.

Kewajiban seorang pemimpin jika dipadatkan terhimpun dalam satu kata; bijaksana. Kebijaksaan memang sesuatu yang sifatnya kualitatif. Parameter kesuksesannya tidak diukur dengan angka. Karena kebijaksanaan menurut Ibnu Qayyim artinya membuat keputusan yang tepat, di dan untuk waktu yang tepat, serta dengan cara yang tepat.

Ada satu hikmah mengapa anggota yang patuh diganjar dengan pahala. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa taat kepada pemimpin sama dengan patuh kepada Allah SAW dan Rasulnya.  Makna implisitnya, arahan seorang pemimpin tidak boleh main-main. Seharusnya selaras dengan aturan Allah dan petunjuk Rasulullah SAW.

Baca Juga : Nabi Ibrahim, Potret Pemimpin Yang Sukses

Tanpa hal itu, tidak mungkin seorang bawahan diganjar pahala. Apalagi jika perintah atasannya melabrak aturan Islam. Karenanya, sudah lumrah jika sosok ideal seorang pemimpin memiliki ilmu agama dan wawasan.

Pesan implisit implisit lainnya ialah, kepatuhan kepada manusia, sekali lagi, tidak absolut. Ada batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Kata-kata pemimpin tidak selamanya benar. Saran dan pendapat anggota tidak selamanya salah. Terdapat mekanisme musyawarah dan tanasuh (saling memberi nasehat) untuk menghasilkan keputusan yang paling masalahat. Majelis syura bukan hanya untuk menemukan solusi. Tapi juga dapat mencairkan konflik dan gesekan antar sesama ahlu jamaah atau warga organisasi.

Sebagaimana satu ungkapan dalam hadits yang meskipun dhaif, hikmahnya dapat diambil sebagai pelajaran

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ ، وَلَا نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ ، وَلَا عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ

“Orang yang istikharah tidak akan gagal. Orang yang bermusyawarah tidak akan menyesal. Dan orang yang hemat tidak akan jatuh miskin.” (HR Abu Bakar Al-Haitsami)

Kembali kepada kisah di atas. Pesan moral yang bisa diambil antara lain: Kepemimpinan berbanding lurus dengan kapabilitas dan integritas. Rasulullah saw berpesan kepada Abu Dzar agar tidak menjadi pemimpin karena lemah dan kurang capap memenej manusia. Selain itu, kemampuan saja tidak cukup, perlu kebijaksanaan.

Baca Juga : Tugas Utama Pemimpin Dalam Islam

Anggota terbaik bukan orang yang selalu mengatakan, ‘ya’. Karena kepatuhan hanya dalam hal ma’ruf. Kendati demikian, prinsip yang harus dipegang teguh ialah as-sam’u wa thoah. Jangan lantaran beda pendapat, ia menyempal dan membuat program sendiri. Hanya karena ia memiliki pendapat, sumber dana dan pengikut. Seperti yang jamak kita saksikan hari ini. Wallahu a’lam.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 156 Rubrik Kolom

Editor : Miqdad