Antara Budak dan Anjing

Perbudakan
Perbudakan

An-Najah.net –

Budak adalah manusia yang tak memiliki jiwa dan raganya sendiri. Kemerdekaannya dimiliki orang lain, sehingga tak bebas melakukan apapun.

Tak hanya berbuat, omongan dan pikirannya pun harus menyesuaikan dengan tuannya. Inilah sebabnya Umayyah bin Khallaf murka ketika Bilal, budak hitam kepunyaannya, berselisih keyakinan dengan dirinya.

Di masa silam, nasib budak memang menyedihkan. la harus melayani tuannya di bawah ancaman cambuk dan pukulan.

Namun itu tak seberapa dibandingkan dengan orang yang membudakkan dirinya pada tuan yang tak semestinya. Apalagi ia menunjukkan loyalitas tanpa kompromi seperti anjing pada majikannya.

Berbeda dengan anjing yang akan setia pada siapapun yang memberinya makan, manusia punya akal dan nurani.

Ditambah dengan tuntunan Ilahi, akal dan nurani itu seharusnya mengarahkan ia menjadi hamba dan budak Allah saja. Taat dan tunduk pada perintah-Nya bukan perintah musuh-Nya, itulah sikap Muslim sejati.

Seorang Muslim adalah hamba Rabbul alamien. la terikat pada Allah dan syariat-Nya sebagaimana diturunkan pada Rasulullah SAW.

Ia memiliki hubungan dengan manusia dan sistem lain, namun ia hanya memiliki ketundukan tertinggi dan mutlak kepada Allah saja.

Sahabat Rib’i bin Amir menyatakan hal itu dengan gagah di hadapan Jenderal Rustum Panglima Persia, “Kami Muslim datang untuk membebaskan perbudakan manusia atas manusia dan mengalihkannya hanya kepada Allah saja.”

Fitrah inilah yang membuat seorang budak bernama Bilal kukuh menentang tuannya saat dipaksa kufur. Meski dimiliki dan diberi makan oleh Umayyah bin Khalaf, ia paham dan sadar sejatinya ia hamba Allah sang Khalik.

Maka Bilal tak berlaku seperti anjing yang loyal tanpa reserve pada sang majikan, ia memilih loyal pada Allah meskipun di siksa dengan sadis oleh majikannya.

Sayangnya, hari ini ada segolongan manusia yang bersikap seperti budak pada tuannya yang juga manusia. Lebih parah lagi, mereka bahkan berlaku seperti anjing yang setia pada majikannya.

Kasus penembakan Charlie Hebdo, para penghina Rasulullah SAW yang degil dan tak tahu malu, menjadi momentum tersingkapnya para pemilik jiwa budak dan kelakuan anjing itu.

Alih-alih bersyukur atas hukuman yang ditimpakan Allah pada Charlie Hebdo cs, melalui tangan mujahidin, mereka justru mengutuki tindakan itu dan menuduh pelakunya sebagai khawarij.

Meski mengaku cinta Sunnah mereka justru membiarkan Sang Pembawa Sunnah dihina oleh orang kafir, bahkan melaknati para pembela beliau yang sejati.

Entah apa yang membuat mata mereka tertutupi. Namun sepertinya mereka sedang mengamalkan loyalitas berlapis. Mereka loyal pada para gurunya, para guru itu loyal pada penguasa yang memenuhi kantong mereka dengan gemerincing real.

Sementara para penguasa itu loyal pada para majikan mereka yang bertahta di Washington dan Paris.

Mereka pun menggigit siapapun yang mengganggu tuannya. Loyalitas macam inilah yang membuat orang Barat sangat mencintai anjing.

Makhluk itu di sana disebut sebagai “man’s best friend” karena setia sampai mati pada majikan yang memberinya makan. Semoga mereka kembali pada fitrahnya sebagai manusia dan hamba Allah. Amien Ya Rabbal ‘Alamien.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 112 Rubrik Renungan

Penulis : Ibnu

Editor : Helmi Alfian