Antara Fatimah Binti Muhammad Saw dan Sukmawati Soekarno Putri

palu keadilan
palu keadilan

An-Najah.net – Ketegasan dan Keadilah dalam Islam sudah dicontohkan Rasulullah Saw. Sebagaimana Rasulullah Saw pernah bersumpah akan memotong tangan putrinya terjadi pada masa Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah). Ketika itu ada seorang wanita bangsawan dari bani Mahkzum yang mencuri, dan kaum muslimin binggung ketika memutuskan perkara ini.

Sebagian dari kaum muslimin menyarankan Usamah bin Zaid – salah satu sahabat nabi yang paling disayangi, sampai-sampai dia dia dijuluki ‘Al-Hibb wa Ibnil Hibb’ (kesayangan anak kesayangan)- untuk meminta ampunan dari Rasulullah Saw.

Namun apa jawaban Rasulullah Saw, “Apakah engkau hendak membela seseorang agar terbebas dari hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala?”

Inilah Keadilan

Maka Rasulullah Saw berkhutbah, “Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum), namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut.

Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya kemudian Rasulullah Saw memerintahkan agar memotong tangan wanita tersebut. Setelah itu wanita tersebut bertaubat dan menikah (HR. Bukhari no. 6788 dan Muslim no. 1688).

Ketika menjelaskan hadits ini, Shalih Al-’Utsaimin berkata, “Inilah keadilan”. Inilah penegakkan hukum Allah Ta’ala, yaitu bukan atas dasar mengikuti hawa nafsu. Rasulullah Saw bersumpah, jika Fatimah binti Muhammad mencuri -dan Fatimah tentu lebih mulia secara nasab dibandingkan dengan wanita bangsawan dari bani Makhzum , karena Fatimah adalah pemimpin para wanita di surga- maka Rasulullah Saw sendiri yang akan memotong tangannya.”

Kemudian Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin ra  melanjutkan, “Demikianlah, wajib atas pemimpin (pemerintah) untuk tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum. Mereka tidak boleh memihak seorang pun karena hubungan dekat, kekayaannya, kemuliaannya di masyarakat (kabilah/sukunya), atau sebab lainnya” (Syarh Riyadhus Shalihin, 1/2119, Maktabah Asy-Syamilah).

Sangat jelas sekali bagaimana ketegasan Rasulullah Saw dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala. Bagaimana Rasulullah Saw bersikap terhadap yang hak dan yang bathil. Rasulullah Saw tidak mengenal istilah kolusi (persekongkolan), korupsi dan nepotisme (kecenderungan, mengutamakan, menguntungkan sanak kerabat sendiri).

Dalam menegakan hukum yang bertujuan tercapainya keadilan serta kemaslahatan bersama. Rasulullah Saw tidak pandang bulu, tidak melihat latar belakang. Tidak melihat apakah ia pejabat, atau bangsawan. Orang yang dekat dan dicintai Rasulullah Saw tidak menjadi jaminan untuk lolos dari hukuman.

Adilkah Negara Ini?

Pertanyaannya sudah adilkah penegakkan hukum di negara Indonesia yang “tercinta ini”? yang katanya Indonesia ini adalah “negara hukum”, siapa yang melanggar maka dia harus dihukum. Apakah pernyataan ini berlaku kepada semua belah pihak? Atau jangan-jangan masih ada istilah kolusi ataupun nepotisme di dalamnya.

Fakta Berbicara dalam negeri ini, jika yang melanggar rakyat jelata, yang tak berdaya menanggapi kebenggisannya sang “kuasa”, maka para pemuka bangsa  serius menggurusinnya. Tapi apalah daya, jika yang melanggar itu orang yang berwibawa atau tokoh bangsa, maka para penguasa diam seribu bahasa. Inikah yang disebut “negara hukum”

Seperti kasus, nenek yang dituduh mencuri singkong yang berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, cucunya kelaparan, tapi tetap saja hukum dijatuhkan kepadanya. Dengan denda 1juta atau 2,5 tahun penjara jika tidak mampu.

Atau kasus, nenek Asyani (67 tahun) yang didakwa mencuri tujuh batang pohon jati di lingkungan rumahnya, di Desa Jatibanteng, Situbondo, Jawa Timur. Yang divonis 1 tahun penjara dan denda Rp500 juta. Namun Asyani membantah, “Tujuh batang pohon jati itu diambil dari lahannya sendiri oleh almarhum suaminya 5 tahun silam”, ujarnya.

Dan belakangan ini ada kasus penista agama, yang ujungnya adalah SARA, sebagaimana Seorang pengguna Facebook, Dandy Rahmadila yang menulis status “Suara penyanyi jaran goyang lebih merdu daripada suara azanmu”. Majlis Ulama Indonesia (MUI) melihat ada unsur penistaan agama, karena membawa isu agama di ruang publik atau media sosial. Dan sehari setelah postingan itu Dandy langsung di ciduk polisi. Ia ditangkap setelah ormas Islam dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Syamsi Sarman (wakil MUI Tarakan) resmi melaporkannya ke polisi.

Lalu, kenapa Ibu Sukmawati masih bebas. Meski sudah dilaporkan sejumlah pihak, hingga kini polisi belum menangkapnya. Padahal kasus penistaannya pada tanggal 28/03/2018 sampai sekarang masih bebas. Padahal Dandy Rahmadila sehari setelah postingannya di Fb langsung di ciduk polisi.

Apakah masih ada istilah kolusi bankan nepotisme (kecenderungan, mengutamakan, menguntungkan sanak kerabat sendiri) dalam negara Indonesia ini?. Ibarat masih tebang pilih dalam menjalankan keadilan.

Hal ini berbeda dengan Fatimah binti Muhammad, putri tercinta Rasulullah Saw pun tak luput dari hukuman jikalau ia mencuri. Bahkan beliau sendiri yang akan menghukumnya. Terlihat bagiamana Rasulullah Saw bersikap profesional dalam melaksanakan tugasnya.

Kekuasaan, kemuliaan, dan keutamaan pada dirinya tidak digunakan secara semena-mena. Beliau tidak melebihkan satu dengan yang lainnya jika sudah memasuki ranah hukum. Termasuk darah dagingnya sendiri yang beliau cintai.

Semoga di kemudian hari kita dapat menemukan pemimpin yang mempunyai jiwa yang kepemimpinannya seperti Rasulullah Saw yang adil dan tegas dalam menentukan hukum. Wallahu a’lam

Penulis : Ibnu JIhad

Editor : Abu Mazaya