Anti Jihad, Karakter Orang Munafik

Ilustrasi
Ilustrasi

Namanya Abu Amir ar-rahib. Orang yang terpandang dikalangan suku Khajraz, salah satu suku asli terbesar di Madinah. Namanya, mungkin kedengaran asing oleh sebagian kaum muslimin hari ini. Tapi tidak bagi penduduk Madinah kala itu, terkhusus dikalangan kaum muslimin.

Ia terkenal bukan karena jasanya yang besar terhadap Islam. Tapi sebaliknya, ia adalah propokator dan agen intelektual yang memobilisasi orang-orang munafik untuk bergerak menghadang laju gerakan Islam.

Salah satu “sumbangsihnya” dalam rangka menghancurkan Islam adalah keberhasilannya membangun sebuah masjid yang dijadikan center untuk memata-matai (tajassus) kaum muslimin. Al Qur’an menyebutnya masjid Dhiror.

Alasan dibangunnya masjid disamping masjid Quba ini, untuk meringankan para dhu’afa’; orang tua, sakit, agar tidak jauh-jauh berjalan ke masjid Quba. Pernah mereka meminta rasulullah saw untuk sholat di sana. Tepatnya ketika rasulullah saw dan para mujahidin berangkat untuk berjihad ke Tabuk. Harapan para munafik ini, jika rasulullah saw sholat di situ berarti masjid yang mereka telah mendapat rekomendasi dari rasulullah saw.

Rasulullah saw menolak karena dalam keadaan safar. Dan setelah perang Tabuk Allah swt membongkar niat busuk mereka di balik ‘amal sholeh’ itu. Bahwa mereka membangun masjid yang dalam pandangan kaum muslimin itu adalah sholeh, niatannya tidak lain untuk memata-matai kaum muslimin dan memecah belah barisan umat Islam.

Allah menurunkan

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta.” (at-taubah: 107)

Mematai-matai Umat Islam adalah Munafik

Kisah diatas menegaskan, musuh islam yang bernama munafik selalu memata-matai umat Islam dan pejuang Islam. Tujuannya agar Islam kabur atau bahkan hancur.

Potongan ayat diatas (إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَى) menekankan, dalam mematai-matai atau memecah belah umat ini alasan mereka cukup familiar dan bisa diterima oleh logika umumnya manusia; langkah ini hanya untuk kebaikan kita bersama. Alasan yang kerap kita dengar dari mulut manusia-manusia yang menghendaki kehancuran Islam hari ini.

Dalam hadits yang sangat panjang rasulullah saw menjelaskan adab-adab sesama muslim, yaitu;

« الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ فَإِنَّ اللَّهَ فِى حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ».

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak akan mendzoliminya, dan ia tidak boleh menyerahkan saudara muslimnya kepada musuh. Siapa saja yang menyelesaikan hajat saudaranya, maka Allah akan menyelesaikan hajatnya. Siapasaja yang meringankan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan meringankan salah satu kesulitan-kesulitannya dihari kiamat. Barangsiapa yang menjaga (rahasia/kehormata) seorang muslim, maka Allah akan menjaganya dihari kiamat.” (HR. Abu Dawud, dishohihkan oleh syaihk Al-Bani)

Seorang muslim yang jujur keimanannya tidak mungkin melakukan pengkhianatan kepada muslim lainnya. Iman tidak memberi tolerir kepada orang yang melaporkan aurat (rahasia) umat Islam, apalagi rahasia perjuangan Islam kepada musuh Islam, baik dari kalangan kafir Yahudi, Nasrani, maupun orang-orang musyrik lainnya.

Pelajaran dari perang Ahzab

Ada cerita lain dari perang ahzab. Disini tampak pengkianatan orang-oran munafik atas kaum muslimin. Persengkokolan merek dibongkar oleh Allah dalam satu ayat yang sangat panjang dalam al Qur’an.

Ceritanya berawal dari intelijen rasul yang menginformasikan bahwa orang-orang kafir quraisy telah menghimpun kekuatan dari berbagai kabilah di sekitar Makkah dan Madinah untuk bersekutu menyerang Madinah. Maka rasulullah saw, segera memobilisasi massa untuk menghadang pasukan sekutu.

Pasukan sekutu yang jumlahnya kurang lebih 10.000 pasukan tempur bersenjata lengkap datang menyerang Madinah yang hanya berkekuatan 3000 personil mujahidin. Melihat jumlah pasukan musuh yang begitu banyak, orang-orang yang dalam hatinya ada kenifakan mulai melakukan propokasi.

Kepada para mujahidin mereka mengatakan

Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata :”Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (al-Ahzab: 12)

Dan kepada orang-orang Yahudi yang berstatus kafir dzimmi (orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari pemerintah Islam) mereka propokasi untuk melakukan ambush. Menyerang kaum muslimin dari belakang. Dan menjanjikan bantuan bagi mereka.

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu.” (al-Hasyr: 11)

Munafik, Hancurkan Khilafah Islam

Lain lagi cerita sang munafik yang beraliran syi’ah rafidoh. Ibnu al-Qami, namanya. Ia berhasil melakukan taqiyyah (berdusta demi menyembunyika identitas syi’ahnya). Keberhasilan dia ini ditandai dengan suksesnya ia meraih posisi stragtegis di pemerintahan Khilafah Bani Umayyah, saat dipimpin oleh khalifah al-Mu’tashim.

Saat menjadi perdana menteri, ia melancarkan aktifitas spionase terhadap umat Islam. Mencari kelemahan dan titik rawan umat Islam. Lalu, hasilnya ia laporkan kepada Hulagho Khan. Untuk kemudian dijadikan bahan bagi panglima Tartar dalam merancang strategi membumi hanguskan khilafah Islam dan umat Islam kala itu.

Hasilnya, tentara Tartar dengan mudah mengalahkan mujahidin dan membumi hanguskan khilafah Islam yang kala itu berpusat di Baghdad, sebuah kota inspirasi ilmu pengetahuan dan simbol kemajuang peradaban Islam.

Sementara sang munafik, Ibnu al-Qami berpesta pora diatas jutaan nyawa kaum muslimin yang melayang, diiringi pilu ribuan gadis muslimah yang dinodai kehormatannya oleh Tartar. Bibirnya tersungging senyum puas melihat mayat-mayat umat Islam bergelimpangan dan ratusan masjid rata dengan tanah.

Itulah munafik, ia akan memusuhi Islam selama hayatnya masih dikolom langit. Dimanapun dan kapanpun, munafik menjadikan jihad sebagai musuhnya. Inilah sifat yang selalu melekat pada orang-orang munafik. Allah swt berfirman

لَوْ خَرَجُوا فِيكُمْ مَا زَادُوكُمْ إِلَّا خَبَالًا وَلَأَوْضَعُوا خِلَالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ (47) لَقَدِ ابْتَغَوُا الْفِتْنَةَ مِنْ قَبْلُ وَقَلَّبُوا لَكَ الْأُمُورَ حَتَّى جَاءَ الْحَقُّ وَظَهَرَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَارِهُونَ

“Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dari dahulupun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah) dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya.” (At-Taubah: 47-48)

Munafikkah Mereka..?

Yang sangat menggelisahkan umat Islam, di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, terbentuk badan-badan intelijen yang menghantui pergerakan Islam. Diantara pekerjaan lembaga-lembaga intelijen ini adalah memata-matai aktifis Islam. Data hasil spionasenya dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak menyukai syari’at Islam, digunakan untuk menghadang laju dakwah Islam.

Salah satu aktifitas yang menurut mereka harus dimata-matai adalah aktifitas jihad dan perkembangan akidah jihad. Mereka mengistilahkan dengan kekerasan atau radikal. Walau kenyataannya, jihad tidak sama dengan kekerasan. Karena jihad memiliki etika dan sopan santun.

Parahnya, tugas memata-matai ini kadang dibiayai oleh orang-orang kafir. Dan hasilnya diolah oleh orang-orang kafir untuk memusuhi Islam. Amerika dan Australia contohnya, kedua negara ini sangat intens dan bersemangat mensponsori spionase serta penghancuran jihad.

Sayangnya, yang banyak menyambut tawaran sponsorsip dari negara-negara kafir ini adalah orang-orang yang menyebut dirinya muslim. Padahal, dalam kamus Islam, hanya orang-orang munafik yang rela memboncorkan rahasia umat Islam kepada orang-orang kafir, seperti Ibnu Al-Qami diatas.

Maka, jika ada umat Islam menuduh lembaga-lembaga intelijen dan para penguasa yang bahu membahu dengan orang kafir, baik bernama Obama atau negara yang bernama Australia atau sejenisnya, sebagai lembaga munafik dan penguasa munafik, ini sulit untuk disalahkan.* WallahuA’lam bish Showab. (Mas’ud Izzul Mujahid. -Dinukil dari An-Najah Edisi 67-)