Apa yang Kau Cari Wahai Haraki?

Haraki
Haraki

An-Najah.net – Jangan kau nodai niat suci hanya karena gemerlapan duniawi. Berjuang menegakkan Islam, apakah yang ingin dicapai sebuah harakah?

Duniawikah Tujuannya?

Andai kekuasaan, maka hal itu tak layak jadi tujuan. Rasulullah Saw, bahkan menolak tawaran Quraisy saat diminta menghentikan dakwah dengan imbalan menjadi raja. Demikian pula dengan iming-iming harta, wanita dan daya tarik dunia lainnya.

Baca juga: Jangan Menjadi Setan Bisu

Jika duniawi target kita, lalu apa bedanya kita dengan Bal’am bin Abar seorang ulama muslim dari Bani Israel yang hidup dalam kalangan orang kafir. Allah Ta’ala memberi kelebihan kepadanya dengan keilmuan dan mustajabah doanya. Namun, hanya karena gemerlapan dunia yang hina dan fana, keimanannya terjual begitu saja di akhir hayatnya.

Baca juga: Banyak Para Bal’am Di Masa Kini

Namun hari ini terjadi paradoks, harakah memperjuangkan Islam dengan target duniawi. Mengesampingkan rambu-rambu syar’i, bahkan akidah, demi meraih pencapaian materi. Akibatnya tak hanya visi strategi yang berubah, bahkan tiang pancang manhaji pun bergeser.

Saudaraku, memang masih ada embel-embel “perjuangan,” bahkan ada yang mengaku sedang berjihad, demi Islam. Namun sepak terjangnya demi kepentingan duniawi yang sesaat. Akhirnya para pejuang itu justru terjerumus dalam lembah kehinaan, dimurkai Allah Ta’ala dan dicela seluruh makhluk. Naudzu billahi min dzalik

Talbis iblis sangat halus menjerat seorang aktivis. Rayuan untuk “meraih peluang melakukan banyak kebaikan” menjadi iming-imingnya. Akibatnya ia justru meninggalkan kebaikan yang menjadi pondasi semua kebaikan lain. Aqidah diabaikan demi kekuasaan, jabatan dan materi. Lucunya, gemerlapan dunia tersebut hendak dimanfaatkan untuk menegakkan Islam.

Hal ini sebangun dengan orang yang ingin berwakaf, beramal jariah, namun mencari uangnya dengan mencuri, merampok, terlibat riba dan maksiat lainnya. Meninggalkan akidah tauhid -dengan mengakui thaghut Pancasila, demokrasi dan HAM- demi meraih kekuasaan. Kalau boleh saya ibaratkan, lebih parah dari pencuri, perampok dan pemakan riba yang berinfak dengan uang haram.

Baca juga: Sekulerisme atau Nasionalisme, Konsep Negara Semu

Ibnul Jauzi mengatakan iblis tak segan membuka 99 pintu kebaikan untuk menjerumuskan seorang mukmin dalam sebuah keburukan. Di sisi lain, iblis mengalkulasi dengan akurat bahwa 99 kebaikan itu adalah hal yang mafdhul (tidak prioritas), sementara satu kebaikannya adalah hal yang faadhil (prioritas).

Munculnya partai dan politisi yang membawa nama Islam, namun tanpa sikap tegas menyatakan batilnya meninggalkan hukum Allah Ta’ala, adalah pepesan kosong tanpa isi. Semaraknya ceramah agama di televisi, gebyarnya jilbab dipakai kaum Muslimah, tak sebanding dengan disingkirkannya syariat dan hukum Islam dari sistem hukum negara. Dikalahkan dengan undang-undang buatan manusia, digantikan kitab hukum peninggalan kafir Belanda.

Carilah Ridho Ilahi Semata

Kembali pada pertanyaan di atas, apa yang hendak dicari dan dituju dalam berjihad memperjuangkan Islam? Yang utama tentu saja mencari keridhaan Allah Ta’ala semata, niat ikhlas demi menggapainya.

Biarpun manusia sedunia mencela, kalau hal itu mendatangkan keridhaan Allah, jangan segan melaksanakannya. Sebaliknya, biarpun seluruh umat memuji dan setuju namun Allah memurkainya, jangan berani-berani melakukannya.

Baca juga: Jangan Kau Tunda Kemenangan Dengan Maksiatmu

Manusia memang bukan malaikat, yang tak pernah melakukan kemaksiatan, namun jangan jadi alasan untuk menerjang larangan Allah Ta’ala. Apalagi larangan itu termasuk sendi utama akidah, seperti larangan syirik dan mengurangi kedaulatan Allah Ta’ala dalam sisi hukum, maka jangan sekali-sekali diterjang dengan alasan “maslahat perjuangan.” Na’udzubillahi min dzalik. Walahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : An-Najah edisi 130, hal. 64

Penulis             : Ibnu

Editor               : Ibnu Alatas