Apakah Tradisi Padusan Dibenarkan Syariat Islam

Padusan
Padusan

 

An-Najah.net – Dalam rangkaian menyambut Bulan Suci Ramadhan, ummat Islam di Nusantara terkhusus orang Jawa, memiliki beraneka ragam cara dan tradisi dalam menyambutnya. Di antaranya adalah Tradisi Padusan.

Mengenal Sekilas Apa Itu Tradisi Padusan

Tradisi Padusan berasal dari kata dasar adus, yang artinya mandi. Secara sederhana Padusan diartikan mandi dengan maksud penyucian diri agar dapat menjalani peribadahan di bulan suci Ramadhan dalam kondisi suci (secara lahir).

Karena inti Tradisi Padusan adalah mandi, maka dimanapun manusia dapat melakukan mandi. Baik dilakukan di Blumbang, Kedukan, Mbelik, Sungai, Sendang, Telaga, bahkan di kamar mandi.

Jikalaupun kini Tradisi Padusan memberi kesan dilakukannya mandi massal oleh banyak orang. Baik dari kalangan orang tua, anak-anak, laki-laki maupun perempuan, pada suatu tempat seperti Blumbang, Kedukan, telaga, bahkan di tepian pantai.

Padusan sendiri selain ritual bersih-bersih. Ia juga merupakan gelaran “wisata” tahunan yang bisa dimanfaatkan untuk menjual sektor pariwisata. Dengan acara ini, bisa mendongkrak jumlah pengunjung, yang akhirnya bisa menambah pendapatan daerah. Bahkan ada sebagian Pemda (Pemerintah Daerah) menfasilitasi Tradisi Padusan itu sendiri. Baik dengan memperlihatkan kesenian tradisional hingga pementasan musik ndangdutan.

Salah Faham

Jangan sampai makna inti Tradisi Padusan itu sendiri luntur akibat mementingkan nafsu syahwat yang nikmatnya hanya sementara. Termasuk mengumbar aurat beramai-ramai, bercampurnya lawan jenis laki-laki dan perempuan bukan mahrom, dan kemaksiatan-kemaksiatan yang lain akibat mengedepankan nafsu syahwat.

Sebenarnya tidak ada aturan khusus mengenai bagaimana melakukan Tradisi Padusan. Toh Padusan pada dasarnya hanyalah tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Bukan sebuah ajaran apalagi kewajiban dalam ajaran Islam yang harus dikerjakan guna menyambut Bulan Ramadhan, dengan konsekuensi timbulnya dosa jika meninggalkannya. Maka makna sesederhananya adalah adus itu sendiri, mandi biasa sebagaimana keseharian kita.

Namun bilamana ada sebagian masyarakat yang meyakini tradisi ini ada sangkut pautnya dengan penyambutan bulan Ramadhan bahkan mewajibkannya maka, hal ini perlu dipermasalahkan.

Tinjauan Syari’at Islam

Memang Padusan dari segi bahasa memilik kesamaan yaitu mandi yang berarti mengalirkan air keseluruh tubuh sambil mengusap-usap badan. Tapi dari segi Istilah berbeda, yang membedakan adalah niatnya. Niat Tradisi Padusan adalah membersihkan diri guna menyambut bulan yang Suci. Sedangkan mandi (syari) diniatkkan agar sebuah ibadah diterima.

Mungkin ada yang berkilah bahwa padusan ini hanyalah tradisi, sehingga tidak perlu dicarikan dalilnya dalam Al-Qur’an maupun Al-Sunnah. Apalagi yang dilakukan itu merupakan sesuatu yang “baik”, yaitu mandi besar yang notabene disyariatkan, di tambah lagi tradisi ini dilakukan dalam rangka menghormati dan menyambut datangnya bulan puasa.

Saudaraku, perlu diketahui, sebuah tradisi atau adat bisa diterapkan selama tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Sedang tradisi-tradisi  yang menyalahi syariat atau tidak sesuai dengan akhlaqul karimah, tanpa diragukan lagi harus di dakwahi (nahi munkar).

Lantas di manakah letak ketidaksesuaian Tradisi Padusan ini dengan Islam?.

Pertama, Tradisi Padusan selalu dikaitkan dengan persiapan menghadapi Bulan Ramadhan. Berarti, ini bukan murni sebuah tradisi duniawi, akan tetapi sudah menyangkut ranah syariat dan agama, walaupun itu tradisi yang baik. Sedangkan dalam syariat Islam tidak ditemukan nash (dalil Al-Qur’an, As-Sunnah), kewajiban atau sunnah mandi menjelang Ramadhan. Jangankan dari Nash perkataan para salaf aja tidak ada. Dan tradisi ini pula ditentukan dengan waktu tertentu yaitu menjelang Bulan Suci Ramadhan.

Kedua, Perlu diketahui disunnahkannya mandi dalam syariat Islam terdapat dibeberapa waktu, di antaranya: mandi di hari Jum’at, hari raya Iedul Fitri atau Iedul Adha, dan mandi sebelum ber-Ihram di Makkah. Adapun mandi guna menyambut datangnya Bulan Ramadhan tidak dibenarkan syariat Islam.

Ketiga, dalam pelaksanaan Padusan, semua orang baik dari kalangan orang tua, anak-anak, laki-laki, perempuan semuanya mandi bersama di pemandian umum (tanpa pemisah), tidak dipungkiri lagi hal tersebut merupakan ajang “kemaksiatan” yang nyata. Bayangkan saja, laki-laki dan perempuan berbaur di satu kolam. (bahkan perempuanya tidak lengkap menutupi aurat) Ini jelas kemungkaran yang semestinya tidak dilakukan. Tujuan utama membersihkan diri agar menjadi suci. Justru! jiwa malah semakin terkotori dengan dosa-dosa kemaksiatan.

Cukuplah bagi kita Rasulullah Saw dan para salaf ash-Shaleh sebagai suri teladan dan panutan kita dalam menjalani seluk beluk kehidupan ini. Toh masih banyak sekali amalan-amalan sunnah yang jelas tuntunannya dan belum kita laksanakan.

Mari kita persiapkan diri kita menjelang bulan suci Ramadhan ini dengan menyibukkan diri untuk mendekatkan kepada-Nya. Semoga Allah Ta’ala mempertemukan kita dengan bulan penuh pahala, rahmat, dan ampunan-Nya. Dan bisa mengoptimalkan dan memaksimalkan amalan kita di dalamnya. Amin. Wallahu ‘alam

Penulis: Ibnu Jihad

Editor: Abu Mazaya