Aspirasi Rakyat Mesir untuk Salafi dan Ikhwan

(an-najah.net) – Unjuk rasa di Mesir baru-baru ini membuat kita semakin percaya dan yakin bahwa umat Islam semakin menyadari di manakah posisi dan apa tugas mereka sebagai hamba Allah.

Ada semacam pesan tersirat dari rakyat Mesir yang wajib dipahami oleh Ikhwanul Muslimin dan Salafi sebagai kekuatan pendukung Mursi sejak pemenangannya di pemilu. Harus dipahami bahwa rakyat Mesir, kini bukanlah kekuatan yang bisa diremehkan, yang bisa diajak untuk memenuhi kepentingan mereka saat dikehendaki atau diabaikan kapan tidak diperlukan.

Bisa disimpulkan bahwa bila urusannya berkaitan dengan syariat Islam dan dukungan terhadapnya, jutaan rakyat Mesir tidak perlu menunggu ajakan untuk turun ke jalan dan memberikan dukungan. Namun, bila keperluannya selain itu, tidak ada jaminan mereka bersedia turun ke jalan.

Hal itu terlihat ketika Ikhwan dan Salafi menyeru publik Mesir di depan Universitas Al-Azhar, untuk memberikan dukungan terhadap syariat Islam, jutaan orang langsung menyambut seruan tersebut. Ini adalah pesan yang harus dipahami oleh para aktivis Islam. (http://www.almasryalyoum.com/node/1230801)

Namun, ketika aktivis Islam menyeru publik pada Selasa lalu untuk mendukung Mursi dan rancangan konstitusi, tidak ada yang hadir kecuali beberapa ribu saja di depan masjid Ali Rasydan dan Rabi’ah Al-Adawiyah. Itu pun terbatas pada para pendukung Mursi saja. (http://alhayat.com/Details/461255; dua paragraf terakhir)

Sebenarnya, dua aksi massa tersebut sama-sama meminta dukungan rakyat untuk Mursi, hanya saja tuntutannya yang berbeda.

Rakyat ingin penerapan syariat Allah

Aksi massa pertama menuntut penerapan Syariah Islam sebagai sumber hukum dalam konstitusi baru, menolak materi kedua dalam konstitusi saat ini, pemberhentian Jaksa Agung, dan pembebasan para tahanan. Mereka juga menuntut Presiden Muhammad Mursi untuk membantu pembebasan Syaikh Umar Abdurrahman yang saat ini berada di penjara AS.

Hal itu menunjukkan bahwa elemen-elemen Islam bisa saja bersatu untuk saling menguatkan selama isu yang diangkat tidak keluar dari syariat. Wallahu a’lam.

Redaksi: Agus