Atas Dasar Cinta, Begini Islam Mengajarkan Cinta

Semua Atas Dasar Cinta
Ilustrasi Atas Dasar Cinta

an-najah.net– Semua atas dasar cinta. Kekuatan dan keharmonisan hidup umat Islam terletak pada satu kata, yaitu ‘Al-Mahabbah” saling mencintai, saling memberikan loyalitas kepada sesama muslim, saling berbagi kebaikan serta membela saudaranya.

 

Semua Atas Dasar Cinta
Ilustrasi Atas Dasar Cinta

Dalam sejarah, kebangkitan masyarakat Islam selalu lahir dari ‘al-Mahabbah’ atau bahasa lainnya adalah wala’ (loyalitas sesama muslim). Kebangkitan umat Islam pada masa awal keislaman berawal dari kecintaan antar sahabat-sahabat Rasulullah SAW.

Ibnu Hisyam meriyawatkan, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau melaksanakan taakhi (mempersaudarakan) antara Muhajirin dan Anshar. Abdurrahman bin ‘Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’.

Sa’ad berkata kepada Abdurrahman, “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan Anshar. Ambillah separuh hartaku. Aku juga mempunyai dua istri. Maka lihatlah mana yang engkau pilih, agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya sudah habis, kawinilah ia!” Abdurrahman berkata, “Semoga Allah memberkahi bagimu dalam keluarga dan hartamu. Lebih baik tunjukkan saja mana pasar kalian?”

Atas Dasar Cinta

Oleh sebab itu, dalam banyak ayat maupun hadits, terdapat beberapa kaedah dalam berinterkasi antar satu muslim satu dengan muslim lainnya. Diantaranya, Allah SWT menjelaskan tentang pentingnya mengecek berita yang menyudutkan saudara sesama muslim. Allah SWT berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Qs. Al-Hujurat: 6)

Untuk menjaga kehormatan seorang muslim, Allah SWT mengharamkan ghibah, mencemarkan kehormatan seorang muslim, (Qs. Al-Hujurat: 11).

Ancaman seseorang yang mencemarkan nama baik muslim sangat berat. Hingga Rasulullah SAW menyatakan, mencemarkan nama baik seorang muslim lebih besar dosanya daripada menzinai ibu kandung. Rasulullah SAW bersabda;

“Riba ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan dosanya adalah seperti seseorang yang menzinai ibu kandungnya. Dan riba yangpaling berat dosanya adalah mencemarkan kehormatan saudara muslimnya.” (Jami’ Shaghir, -Shahih-)

Di lain hadits, beliau SAW bersabda, “Kamu melihat permisalan orang-orang beriman dalam kasih sayang, kecintaan, dan kelembutan antar mereka, seperti satu jasad. Jika salah satu anggota badan mengeluh kesakitan, maka seluruh anggota tubuh akan merasakan panas dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari)

Masyarakat Dibesarkan Cinta

Profil masyarakat yang dibangun atas dasar cinta adalah masyarakat yang dibangun oleh Rasulullah SAW di Madinah. Ibnu Umar RA pernah mengungkapkan bagaimana kecintaan tumbuh subur di kalangan para sahabat Rasulullah SAW , beliau berkata,

“Kami pernah melalui zaman, di mana seseorang diantara kami melihat saudaranya lebih berhak (menggunakan) dirham
dan dinar milik dirinya dari pada dirinya sendiri.”

Dalam riwayat Bukhari dan Muslimdisebutkan, ada salah seorang sahabat yang kedatangan seorang tamu, kemudian sahabat tersebut bertanya kepada istrinya, “Apakah kamu memiliki sesuatu untuk menjamu tamu. Istrinya pun menjawab, “Tidak ada, hanya makanan yang cukup untuk anak-anak kita”.

Lalu sahabat tersebut berkata, “Sibukkanlah anak-anak kita dengan sesuatu (ajak main), kalau mereka ingin makan malam, ajak mereka tidur. Dan apabila tamu kita masuk (ke ruang makan), padamkanlah lampu. Dan tunjukkan kepadanya bahwa kita sedang makan bersamanya. Mereka duduk bersama, tamu tersebut makan, sedangkan mereka tidur dalam keadaan menahan lapar.

Tatkala pagi, pergilah mereka berdua (sahabat dan istrinya) menuju Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah SAW memberitakan, “Sungguh Allah merasa kagum dengan perbuatan kalian terhadap tamu kalian.” Maka Allah menurunkan ayat, (QS. Al Hasyr ayat 9)”

 

Itsar dalam Kepemimpinan

Kecintaan terhadap saudara muslim membuat mereka itsar (mengutamakan) saudaranya daripada yang lain. Termasuk dalam masalah kepemimpinan. Dikisahkan, ketika Rasulullah SAW wafat para sahabat berkumpul di Tsaqifah Bani Sa’adah untuk memilih pengganti Rasulullah SAW. Saat itu, Abu Bakar RA berkata kepada Umar RA. “Wahai Umar, ulurkan tanganmu, aku akan berbaiat kepadamu.”

Umar menjawab, “Andaikan leherku kau ulurkan dibawah mata pedang, lalu kamu memenggalnya dalam hal yang bukan maksiat, itu lebih aku sukai daripada memimpin manusia, sementara Abu Bakar masih ada di antara mereka.”

Imam Asy-Syafi’I RHM sangat senang mengunjungi Imam Ahmad RHM untuk memperkuat rasa cinta antara keduanya. Beliau berharap mendapatkan kebaikan do’a imam Ahmad. Maka ketika beliau meninggalkan kota Baghdad, ia mengatakan, “Saya tinggalkan Baghdad, dan saya tidak meninggalkan di sana seorang pun yang lebih zuhud, lebih wara’, lebih takwa dan lebih fakih daripada imam Ahmad bin Hanbal.”

Sedangkan imam Ahmad sendiri, meski banyak disanjung, mengatakan, “Tidaklah saya memanjatkan do’a kepada Allah sejak tiga puluh tahun yang lalu, melainkan pasti saya turut memanjatkan do’a untuk asy-Syafi’i.”

Inilah masyarakat yang individunya saling mencintai. Hubungan satu sama lain sangat erat. Darah, harta dan kehormatannya terpelihara, baik saat saudaranya hadir maupun bepergian jauh. Umpatan, celaan, cercaan dan kedengkian, tidak akan terjadi di masyarakat yang terbangun atas dasar saling mencintai. Juga tidak akan didapatkan di komunitas Islam, organisasi atau jama’ah dakwah. Semua atas dasar cinta.

Baca juga: Menginfakkan Harta Yang Dicintai

Alasan Untuk Mencintai

Sudah selayaknya, seorang muslim, terlebih seorang aktifis, berusaha untuk mencintai dan memberikan loyalitas kepada saudara-saudaranya sesama muslim, baik masyakarat sekitarnya, lebih-lebih sesama aktifis.

Jika ditelusuri, terkadang yang menyebabkan hubungan antara sesama muslim renggang, adalah perkara-perkara remeh. Misalnya, selera makan yang berbeda, atau karena saudaranya tidak sempat memenuhi permintaanya, atau tidak menjawab SMS-nya.

Hanya karena hal sepele itu, seseorang mengghibah saudaranya, tidak menggubris lagi kekerabatan dan hubungan yang telah terjalin sekian lama. Tidak saling tegur sapa, bahkan menelantarkan saudaranya saat ia membutuhkan pertolongan.Padahal Nabi SAW bersabda;

أحَبُّ النَّاسِ إلى اللهِ أنفَعُهم للنَّاسِ وأحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ سُرورٌ تُدخِلُه علىمُسلِمٍ أو تكشِفُ عنه كُربةً أو تقضي عنه دَيْنًا أو تطرُدُ عنه جوعًا ولَأَنْ أمشيَ مع أخٍ لي في حاجةٍ أحَبُّ إليَّ مِن أنْ أعتكِفَ في هذا المسجِدِ يعني مسجِدَ المدينةِ شهرًا

“Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Amal yang paling disukai Allah adalah kegembiraan yang engkau masukkan ke dalam hati seorang muslim, atau menghilangkan kesusahannya, atau menutup utangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Dan sungguh, berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya, lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjid ini (masjid Nabawi) selama sebulan.” (HR. ath-Thabrani)

Inilah diantara tuntunan Allah dan Rasulnya dalam membangun masyarakat. Harus dari kesadaran untuk saling mencintai dan memberikan loyalitas terhadap sesama muslim. Jika masyarakat Islam, atau jama’ah Islam, tidak membangun hubungan antara sesama individunya dengan ikatan loyalitas dan mahabbah, bangunan masyarakat ini akan mengalami keropos dari dalam. Lambat-laun pasti hancur.* Wallahu A’lam bish Showab, (Akrom Syahid)

Diambil dari majalah Islam An-Najah Edisi 106, September 2014, rubrik Oase Imani, Halaman 44-45.

(Editor: Sahlan Ahmad).