Awas Paham Mu’tazilah!‎

jangan lakukan ini
An-Najah.net – Banyak paham Mu’tazilah hari ini. Mu’tazilah termasuk firqoh di antara  firqoh-‎firqoh Islam yang muncul pada akhir masa Umawiyah dan berkembang pada masa Abasiyah. ‎Kelompok ini menyandarkan hanya kepada akal saja dalam masalah-masalah aqidah sehingga ‎jauhlah mereka dari aqidah ahlussunnah wal jama’ah.

Islam sebenarnya tetap menghargai akal. Akan tetapi harus ditempatkan pada tempat yang sesuai ‎dengan syari’at. Di antaranya, akal tidak boleh bertentangan dengan dalil yang jelas dari al Qur’an ‎dan as Sunnah. Akalpun tidak boleh dipakai dalam permasalahan-permasalahan gho’ib yang ‎seharusnya dikembalikan pada wahyu. Mu’tazilah pada awalnya hanya memiliki dua pemikiran ‎yang menyeleweng. ‎

Pertama adalah keyakinan mereka bahwasanya manusia memiliki kemampuan mutlak untuk ‎menciptakan seluruh perbuatannya sendiri. ‎

Yang kedua adalah pemikiran bahwasanya pelaku dosa besar tidaklah menjadi seorang mukmin ‎dan juga tidak kafir. Akan tetapi mereka menempatkan pelaku dosa besar pada kefasikan yang ‎berada di antara dua kedudukan. ‎
Ini hukum di dunia, sedangkan di akhirat mereka tidak masuk jannah karena belum beramal ‎dengan amalan ahlul jannah. Bahkan ia kekal di dalam neraka walaupun mereka dinamakan ‎seorang muslim dan mengucapkan dua kalimah syahadat. ‎

Pokok-Pokok Pemikirannya ‎

Dalam masalah tauhid mereka menetapkan bahwa al Qur’an adalah makhluk. Menurutnya, jika al ‎Qur’an bukan makhluk, berarti terjadi sejumlah dzat yang qadim (kekal): Menurut mereka, Allah ‎Ta’ala adalah qadim (kekal) dan al Qur’an adalah qodim pula, sehingga terdapat dua dzat yang ‎qodim yang menurutnya ini berarti syirik. Padahal ahlu sunnah menyebutkan al Qur’an adalah ‎firman Allah Ta’ala, bukan makhluk. ‎
Mereka juga mengingkari takdir. Menurut mereka, Allah Ta’ala tidak menciptakan dan tidak ‎mentakdirkan keburukan. Apabila Allah Ta’ala menciptakan keburukan, kemudian Dia ‎menyiksannya karena melakukan keburukan yang diciptakan Allah Ta’ala, berarti Allah Ta’ala ‎telah berbuat zhalim. Padahal Allah Ta’ala Maha Adil tidak akan berbuat zhalim. ‎

Padahal menurut ahlu sunnah wal jama’ah, Allah Ta’ala menciptakan kebaikan dan keburukan, ‎sedangkan manusia teIah diberi penjeIasan oleh para nabi dan kitab suci dan diberi kebebasan ‎untuk memilih antara berbuat kebaikan atau keburukan. Dengan keadilan Allah Ta’ala, Ia akan ‎memberikan balasan sesuai dengan amal perbuatan manusia. ‎

Dalam masalah janji dan ancaman Allah Ta’ala, menurutnya, jika Allah Ta’ala telah mengancam ‎akan menyiksa sebagian hamba-Nya yang melakukan amal keburukan, mau tidak mau Allah ‎Ta’ala harus menyiksannya karena Allah Ta’ala tidak mengingkari janji-Nya. ‎

Karenanya, menurut mereka Allah Ta’ala tidak akan mengampuni dosa-dosa selain syirik bagi ‎orang-orang yang dikehendaki-Nya. Keyakinan ini jelas bertentangan dengan keyakinan ahlu ‎sunnah wal jama’ah bahwa, dengan rahmat dan kehendak-Nya, Allah Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa ‎hamba-Nya, bahkan dosa syirik.

Dalam masalah manzilah baina manzilataini, satu kedudukan di antara dua kedudukan. Artinya, ‎seorang muslim yang telah berbuat dosa besar, berarti ia telah keluar dari Islam, tetapi tidak ‎termasuk dalam kekufuran. Ia berada dalam keadaan di antara dua keadaan (yaitu tidak mukmin ‎dan tidak kafir). ‎
Adapun di akherat, ia kekal di neraka. Keyakinan ini jelas bertentangan dengan keyakinan ahlu ‎sunah yang menyatakan bahwa orang yang melakukan dosa besar tersebut adalah fasik atau ‎seorang mukmin yang lemah imannya. Di akherat keadaannya tergantung kehendak dan rahmat ‎Allah Ta’ala. ‎
Dalam masalah amar ma’ruf nahyi munkar, mereka meyakini kewajibannya untuk memerangi ‎golongan selain mereka untuk melakukan apa saja yang mereka kerjakan, dan melarang golongan ‎selain mereka apa yang dilarang oleh mereka. Artinya, mereka membedakan perlakuan antara ‎orang Mu’tazilah dan di luar Mu’tazilah. ‎
Karena banyaknya paham Mu’tazilah yang menghantui kaum muslimin hari ini, kita memohon kepada  Allah Ta’ala agar selalu melindungi kita dari pemahaman-pamahaman firqoh-firqoh sesat yang ‎nyeleneh dari pamahaman para salaf ash-Sholeh ahlussunnah wal jama’ah, amin. Wallahu Ta’ala ‎‎‘Alam
Sumber ‎: Majalah An-Najah edisi 51, hal 11‎
Penulis ‎: Amru
Editor ‎ : Ibnu Alatas‎