Ayah yang Cinta dan Tegas Kepada Anaknya

Anak Baca Al-Qur'an
Anak Baca Al-Qur’an
Anak Baca Al-Qur'an
Anak Baca Al-Qur’an

An-Najah.net – Mencintai anak adalah fitrah orang tua. Namun tak jarang, kecintaan kepada anak-anak membutakan mata kedua orang tua. Orang tua tidak mau tegas saat anak-anaknya melanggar larangan Allah.

Alih-alih mengingatkan dan meluruskan, justru banyak orang tua membiarkan anaknya, bahkan mengupayakan segala hal agar anaknya selamat dari hukuman saat melanggar syari’at Allah.

Rasulullah adalah teladan terbaik dalam kecintaan dan ketegasan terhadap anak-anak. Kasih sayang, lemah lembut, penuh perhatian beliau tampakkan kepada anak-anaknya.

Begitu pula kasih sayang tersebut beliau nampakkan kepada anak-anak kaum muslimin. Kendati demikian, kasih sayang Rasulullah kepada anak-anaknya tidak menghilangkan ketegasan beliau.

Beliau tak segan mengingatkan, bahkan marah saat melihat buah hatinya melanggar aturan Allah. Semua itu beliau lakukan dalam rangka tarbiyah.

Rasulullah Mencintai Anak-anak

Rasulullah adalah contoh terbaik kecintaan orang tua terhadap anak. Sebagai seorang ayah, Rasulullah bergaul bersama anak-anak dengan lemah lembut, kasih sayang dan penuh perhatian.

Rasulullah menjaga, memperhatikan dan mengawasi mereka.
Ibunda Aisyah berkata,
“Ada orang Arab yang datang kepada Rasulullah dan berkata, “sesungguhnya anda mencium anak-anak anda, padahal kami tidak pernah mencium mereka”. Rasulullah menjawab, “Apa yang dapat aku perbuat jika Allah telah mencabut kasih sayang di hatimu?” 

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah mencium Hasan bin Ali, sedangkan di sisinya ada Al-Aqra’ bin Hajis At-Tamimi, maka berkatalah Al-Aqra’, “sesungguhnya Aku mempunyai 10 anak, namun belum pernah aku mencium salah seorang diantara mereka.”

Maka Rasulullah mengarahkan pandangannya kepadanya Seraya berkata, “barangsiapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayang.”

Apabila putrinya Fatimah masuk ke rumah, Rasulullah menyambut dan menghampirinya, kemudian menciumnya Seraya berkata, “Selamat datang Wahai putriku.” Kemudian boleh mendudukkan di tempat beliau.

Kecintaan Rasulullah bukan hanya kepada anak-anaknya, bahkan kepada ciri-cirinya dan anak-anak kaum muslimin.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Utsman bin Zaid bin haritsah berkata, “adalah Rasulullah menyambutku dan mendudukkan ku di atas pahanya, sedangkan Hasan dipangku di atas paha yang satunya.

Kemudian beliau merangkul kami berdua Seraya berdoa, “Ya Allah sayangilah keduanya karena sesungguhnya aku menyayangi mereka.”

Diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dari Abu qotadah berkata, “Rasulullah keluar menjumpai kami sambil menggendong Putri Abul’Ash di bahunya,

Kemudian beliau salat, apabila sedang rokok beliau Letakkan anak tersebut dan apabila beliau berdiri beliau gendong kembali.”

Di riwayat lain disebutkan, saat Rasulullah mengunjungi orang-orang Anshor, datanglah anak-anak kecil kaum Anshor berkeliling di sekitar beliau,

Kemudian beliau mendoakan Mereka suyara mengusap kepalanya serta mengucapkan salam kepada mereka.

Begitulah kecintaan Rasulullah kepada anak-anak, baik anaknya sendiri, cucu-cucunya maupun anak-anak kaum muslimin.

Jika Rasulullah begitu sayang dan cinta, lantas bagaimana kita dengan anak-anak? Bukankah Rasulullah adalah contoh dan teladan terbaik?

Ayah yang Tegas

Sebagai seorang ayah, Rasulullah sangat tegas meski terhadap anak anaknya sendiri. Suatu hari Rasulullah melihat ditangan putrinya Fatimah kalung emas hadiah dari Abu Hasan.

Rasulullah langsung marah dan tidak mau menyambut orang yang sangat beliau cintai. Beliau juga tidak mau mencium seperti biasanya Seraya berkata, “Apakah kamu ingin orang-orang akan berkata, “putri Rasulullah membawa di tangannya kalung dari neraka?”

Kemudian beliau keluar dan tidak mau duduk. Fatimah lalu membawa kalung tersebut ke pasar dan menjualnya. Kemudian hasil penjualan tersebut dipergunakan untuk memerdekakan seorang budak.

Melihat ini Rasulullah berkata, “segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fatimah dari neraka.”
Pada awal dakwahnya, Rasulullah berdiri di bukit sofa menyeru kepada masyarakat Quraisy termasuk kepada kerabatnya dan putrinya sendiri, Fatimah.

Rasulullah berseru, “wahai Fatimah binti Muhammad, Mintalah kepadaku apa yang aku miliki, Sesungguhnya aku tidak kuasa membantumu sedikitpun di sisi Allah.”

Ada seorang wanita Al-Makhzumiyah mencuri pada zaman Rasulullah. Orang-orang Quraisy meminta kepada Usamah bin Zaid -orang yang sangat dicintai Rasulullah- Untuk memindahkan keringanan hukuman.

Ketika Usamah menyampaikan kepada Rasulullah beliau terlihat marah Seraya mengatakan, “Apakah kamu ingin meminta agar hukum Allah ditolerir?”

Kemudian beliau bersabda, “Wahai Manusia, sesungguhnya sesatnya orang-orang sebelum kalian dikarenakan apabila yang mencuri adalah orang-orang yang mulia kedudukannya maka dibiarkan. Akan tetapi manakah yang mencuri adalah orang-orang lemah, mereka menegakkan hukum. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya.”

Fatimah adalah putri yang sangat disayangi Rasulullah. Iya hidup dengan kesederhanaan bersama Ali Bin Abi Thalib. Tak jarang dengan kekurangan, nggak jarang pula Fatimah bekerja keras untuk membantu suaminya.

Tatkala melihat Rasulullah mendapatkan ghonimah yang banyak, ia mendatangi ayahnya Seraya mengutarakan kesulitan yang dialami. Melihat ini, Rasulullah sebagai seorang ayah dengan tegas berkata kepada putrinya,

“Tidak, demi Allah, Aku tidak akan memberikannya kepada kalian, sedangkan aku membiarkan ahlu suffar dalam keadaan kosong perut mereka. Aku tidak mendapatkan apa-apa untuk aku berikan kepada mereka, akan tetapi aku akan menjualnya dan hasilnya aku berikan kepada mereka.”

Betapa indahnya, Jika seorang ayah penuh dengan kasih sayang terhadap anak-anaknya. Kasih sayang tersebut tidak melupakan ketegasan untuk meluruskan jika anak dan keluarganya ada yang keliru, bahkan menyimpang dari jalan Allah.

 

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 116 Rubrik Usrotuna

Penulis : Mulyanto

Editor : Helmi Alfian