Inilah Cara Meringankan Derita Muslim Suriah

Derita Muslim Suriah
Derita Muslim Suriah

An-Najah.net – Bumi Syam memiliki keutamaan tersendiri dalam syari’at Islam. Ia adalah bumi yang paling diberkahi oleh Allah swt setelah Makkah dan Madinah. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan, Syam adalah bumi pilihan Allah swt dan Allah memilih hamba-hamba-Nya yang terbaik untuk tinggal di bumi Syam.

Rasulullah saw bersaba, “Beruntunglah negeri Syam, sesungguhnya malaikat Allah membentangkan sayapnya di negeri Syam.” (HR. At-Tirmidzi).

Tentang keutamaan bumi syam dan letak strategsinya bagi umat Islam telah dibahas tuntas di An-Najah edisi khusus, (Edisi: BARA SURIAH, Kupas Tuntas Negeri Yang Dijanjikan). Oleh karenanya, saya dimudahkan oleh Allah swt untuk mengunjungi negeri yang diberkahi ini.

Dalam salah satu perbincangan dengan ketua Persatuan Ulama Suriah Propinsi Lattakia –Hai’atul Ulama- semacam MUI di Indonesia, saya menyempatkan diri untuk meminta kejelasan bantuan yang dikehendaki oleh penduduk Syam pada umumnya dan mujahidin Suriah pada khususnya dari saudara-saudara mereka di Indonesia.

“Wahai, Syaikh, negeri kami sangat jauh. Untuk datang ke negeri anda, membutuhkan waktu belasan bahkan di atas dua puluh jam, kalau naik pesawat. Belum lagi birokrasi yang agak susah bagi kami. Nah, kira-kira apa yang pas kami lakukan bagi negeri Syam dan Suriah pada khususnya.” Tanya saya kala itu.

Musuh Umat Islam Dunia

Syaikh Abdurrahman Bagdas, nama ketua Hai’ah ini. Perawakannya biasa, tidak pendek, tidak tinggi. Jenggotnya sudah memutih. Penampilannya sangat bersahaja, membuat saya mengagumi sosok yang memiliki suara lantang ini.

Saat mendengar pertanyaan saya, beliau tersenyum. Kopiah putih yang berpadu dengan surban hitam yang menempel di kepala beliau, menambah kesan senyumnya  berwibawa. “Akhi,’ kata beliau kepada saya dan juga kepada teman-teman dari Indonesia kala itu, “Anda sudah menyaksikan kondisi kami, saudara sudah melihat derita rakyat kami. Saudara juga melihat kekejaman rezim ini, kebengisan mereka yang mungkin tidak terbayangkan dalam pikiran manusia.”

Memang kondisi rakyat Suriah begitu menderita, terkadang saya meneteskan air mata saat menyaksikan kepapaan mereka yang sangat menyentuh kalbu, terkadang air mata kami menetes saat kagum atas ketabahan mereka menerima resiko perjuangan ini.

Di sisi lain, kami menyaksikan kebengisan sekaligus perilaku tidak manusiawi rezim Basyar yang dibantu hizbullah (baca; hizbullát) Lebanon, Jaisyul Mahdi Iraq, maupun pasukan resmi pemerintah Syi’ah Iran

Jangankan umat Islam yang dianggap musuh oleh Syi’ah. Kalangan masehi yang non muslim pun ikut menjadi korban, walau tidak separah umat Islam. Hewan, tumbuhan, dan kebun-kebun pun ikut terkena imbas kekejaman rezim Syi’ah ini.

“Akhi, kami di sini bukan memerangi musuh kami saja.” Tambah dokter Romi yang duduk menemani kami di majlis itu. “Kami memerangi musuh umat Islam seluruh duni. Karena Syi’ah Nushairiyah dan Syi’ah lainnya telah menobatkan umat Islam sebagai musuh mereka. Jadi kalau mereka di sini –Suriah- berhasil menang. Maka kekuatan Syi’ah akan berlipat, kemudian mereka akan menginvansi negeri-negeri ahlu sunnah lainnya. Mereka akan mengeskpor revolusi ­ala Khumaini ke negara-negara kalian juga.” Jelas dokter spesialis anak yang menghibahkan dirinya untuk perjuangan di tanah Syam ini.

Berjihad dengan Jiwa dan Raga

“Oleh karena itu kami memohon umat Islam, khususnya umat Islam Indonesia yang jumlanya terbesar diantara negara yang ada untuk membantu kami. Bahu membahu bersama kami mengusir musuh dari negeri Suriah ini khususnya dan negeri Syam pada umumnya.” Terang Syaikh Bagdas.

Saya bertanya lebih mendalam lagi, “Dalam bentuk apa kami membantu antum-antum wahai Syaikh.?” Selama saya bergaul dengan penduduk Suriah, saya menyimpulkan bahwa mereka adalah bangsa yang pantang menadah tangan untuk kepentingan pribadinya.

“Jika kalian mampu, berjihadlah bersama kami di sini dengan harta, jiwa dan raga kalian. Inilah yang kami serukan kepada seluruh muslimin dunia. Bukan kepada kalian saja sebagai penduduk Indonesia.”

Jawaban beliau menyentakkan jiwa saya. Bagaimana tidak, muslimin dunia, terkhusus muslimin Indonesia ditantang atau lebih halusnya dihimbau untuk ikut bergabung dalam shaf mereka, melawan kekejian manusia-manusia yang telah menorehkan noktah hitam dalam sejarah umat Islam, yaitu kaum Syi’ah. Pengkhianatan dan permusuhan Syi’ah terhadap umat Islam telah diabadikan dalam puluhan buku sejarah. Runtuhnya Khilafah Abbasiyah di Baghdad dan Kekhilafahan Turki Utsmani di Turki, adalah salah bukti permusuhan Syi’ah kepada umat Islam.

Tawaran beliau ini, yang tentu mewakili sekian juta umat Islam Syam, adalah sebuah keberuntungan bagi umat Islam lainnya. Sebuah keberuntungan besar jika seorang muslim mampu bergabung dalam shaf para mujahidin dengan membawa harta bendanya untuk diinfakkan di jalan Allah swt.

 “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.”(Qs. An-Nisa’: 95)

Pernah Abdurrahman RA bertutur, “Aku berkata kepada Mu’adz RA, ‘Dana jihad itu balasannya dilipatgandakan 700 kali’. Mu’adz RA membalas, ‘Katakanlah, inilah yang aku pahami. Itu terjadi bila mereka menafkahkan hartanya dengan tetap tinggal bersama keluarganya dan tidak pergi berperang. Adapun bila mereka berperang sekaligus mengeluarkan dana untuknya, maka Allah membuka pundi-pundi karunia-Nya dengan seluas-luasnya, tidak dapat diukur oleh pengetahuan manusia. Mereka itulah golongan Allah swt (hizbullah). Dan Golongan Allah-lah yang menang.” (Majmu’ Zawa’id, 5/282)

Ketika orang yang menyumbangkan hartanya untuk jihad dan meniatkan diri untuk berangkat berjihad, namun hasyratnya untuk berjihad terhalangi oleh faktor syar’ie, maka dengan jihad hartanya tadi, ia sama seperti orang yang berjihad dengan harta dan jiwa raganya sekaligus.

Penulis : Akram Syahid

Sumber : Majalah An-najah Edisi 93 Rubrik Tema Utama

Editor : Anwar