Bagaimanapun, Islam Prinsip Hidupku!

Bagaimanapun, Islam prinsip hidupku!
Islam Prinsip Hidupku

An-najah.net – Islam, satu-satunya agama yang diridhoi Allah Ta’ala. Hanya dengan Islam segala problematika kehidupan bisa teratasi. Hanya dengan Islam kehidupan bisa sukses dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat.

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ankabut: 51)

Demikianlah, Allah Ta’ala memberikan bantahan kepada orang-orang kafir Mekah yang ketika itu menginginkan dinampakkannya kehebatan mukjizat Rasulullah Saw atas bukti nyata kebenaran kerasulannya.

Al Qur’an yang telah diturunkan kepada Rasulullah Saw cukup sebagai bukti kebenaran atas kerasulannya. Dan, mereka akhirnya pun tidak juga menerima “Ideologi” Islam sebagai pilihan di antara keyakinan lama mereka, yakni meyakini banyak tuhan.

Islam Prinsip Hidupku!

Memang, setiap orang, harus memiliki sebuah prinsip, keyakinan, pegangan hidup. Prinsip yang dimiliki oleh seseorang bisa jadi, atau bahkan pasti berbeda dengan prinsip yang diyakini oleh orang lain. Prinsip hidup, yang karenanya seseorang rela mengorbankan apapun yang dimiliki guna mempertahankan keyakinannya. Suatu keyakinan yang menghasilkan sebuah kekuatan maha dahsyat dalam diri seseorang.

Masing-masing meyakini bahwa apa yang menjadi prinsip hidupnya adalah suatu kebenaran yang harus dipegang, diikuti dan diperjuangkan. Demi prinsip hidup ini, seseorang rela kehilangan harta benda. Demi prinsip hidup, seseorang rela berpisah dengan sanak keluarga. Demi prinsip hidup pula, seseorang siap mati untuk membela dan memperjuangkannya.

Sejalan dengan sejarah kehidupan, banyak sekali keyakinan, prinsip hidup bermunculan, dan masing-masing memiliki pengikut yang loyal. Semakin hari semakin berkembang seakan tanpa hambatan. Apalagi di era kebebasan seperti saat ini. Setiap diri “halal menciptakan suatu keyakinan sesuai dengan temuan hawa nafsunya yang pada akhirnya menjadi sebuah ideologi”.

Orang-orang Arab Jahiliyah dulu, mereka duduk bersimpuh mengadu, berdo’a, memohon di hadapan berhala. Berhala-berhala yang dipertuhan itu berupa batu-batu besar, patung-patung, pepohonan besar, tempat-tempat keramat, -tempat mereka menggantungkan rasa aman dari ancaman, ketenangan dalam hidup, bahkan menggantungkan segala harapan termasuk keselamatan hidup, kecukupan rezki, datangnya jodoh, dan semisalnya.

lnilah dalam terminologi Islam yang disebut sebagai Syirik. Suatu keyakinan yang menganggap suatu benda (atau sesuatu) mampu memberi manfaat dan menghilangkan atau menolak bahaya yang menimpa seseorang.

Keyakinan seperti ini hingga kini mempunyai anak generasi yang tersebar di seluruh dunia, dengan bentuk yang bervariasi sesuai ‘urf (kebiasaan) masing-masing negeri. Di Eropa, termasuk Amerika, kapitalisme telah mendarah daging menjadi sistem kehidupan dalam perekonomian, sosial, dan juga politik. Suatu sistem yang mengeksploitasi potensi masyarakat demi eksistensi segelintir manusia, yakni para pemilik kapital, para penguasa.

Di Uni Soviet (Rusia) dianut ajaran Karl Marx, Marxisme, atau yang Iebih dikenal dengan Komunisme sekaligus Atheisme. Suatu ajaran sebagai bentuk antitesa dari Kapitalisme yang dikembangkan oleh negara-negara Barat.

Suatu ajaran yang berkaitan dengan sistem kehidupan yang dicetuskan oleh Karl Marx guna menggantikan ideologi Kapitalisme yang tidak berpihak kepada rakyat. Bagi Karl Mark, segala hak harus dikembalikan kepada masyarakat. Masyarakatlah yang “memiliki kuasa” atas kekuasaan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.”

Selanjutnya, lahirlah teori atau ajaran untuk menggantikan keduanya, yakni demokrasi. Suatu teori yang selanjutnya menjadi ideologi atau bahkan agama bagi para pengikutnya. Ajaran yang menetapkan bahwa kebenaran itu ada pada suara rakyat. Prinsip hidup yang suatu keputusan dibuat bersumber dari fikiran-fikiran atau pendapat dari orang-orang yang dianggap representatif mewakili seluruh rakyat.

Suguhan Ideologi Barat

lnilah kondisi waqi’ yang disuguhkan umat manusia kepada dunia kaum muslimin. Hebatnya, umat Islam yang lebih dari satu milyar ini, tidak mempunyai kekuatan untuk menolak. Seakan telah menjadi aksioma, umat Islam harus fleksibel, harus toleran setiap ideologi yang berkembang di tengah masyarakat.

Mungkin, terbersit dalam benak mereka, mengikuti setiap ideologi selain “ideologi Islam” adalah perkara biasa. Tidak mempengaruhi iman. lman mereka tetap sempurna walau menerapkan ajaran kapitalisme, sosialisme, komunisme, nasionalisme, maupun isme-isme yang lain, termasuk demokrasi.

Tak terfikir olehnya bahwa mengikuti isme-isme tersebut menyebabkan rusaknya keislaman. Seakan tak ada hubungan antara keislaman dengan isme-isme tersebut. Kesemuanya bisa berjalan dalam diri seseorang seiring tanpa perlu dipertentangkan.

Tak pernah terlintas dalam diri mereka bahwa menjadi seorang muslim harus meninggalkan isme dan ideologi selainnya. Bahkan, boleh jadi, ada yang merasa sekaIi muslim tetap muslim. Sekali mukmin tetap sempurna keimanan dan keislamannya. Tak ada satu perkarapun yang bisa menggugurkannya.

Demikianlah yang ada dalam benak kebanyakan umat Islam. Merasa bebas memilih, mencari atau membuat suatu prinsip hidup, keyakinan, ideologi, atau lebih pasnya akidah. Setiap orang boleh berideologi apapun selain lslam tanpa harus merasa rusak keislamannya, walau sudah jauh menyimpang dari prinsip-prinsip Islam itu sendiri. Walaupun sudah bertentangan dengan al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama salaf.

Bagi mereka yang memiliki pemahaman seperti di atas hendaklah merenungkan perkatan lbnu Taimiyah saat mengomentari mayoritas orang yang mengikuti pendapat para ahli fikir yang mengedepankan logika di zamannya.

أَمَّا الِاعْتِقَادُ: فَلَا يُؤْخَذُ عَنِّي وَلَا عَمَّنْ هُوَ أَكْبَرُ مِنِّي؛ بَلْ يُؤْخَذُ عَنْ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَا أَجْمَعَ عَلَيْهِ سَلَفُ الْأُمَّةِ

“I’tiqad (keyakinan) itu bukan diambil dari pendapatku, juga bukan dari pendapat orang yang Iebih senior dariku. Tetapi, ia diambil dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Saw dan dari apa yang telah disepakati oleh para ulama salaf”. (Ibnu Taimiyah, Majmul Fatawa, jilid III, hal. 161). Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita dijalan-Nya yang benar hingga akhir zaman. Aamiin. Wallahu Ta’ala ‘Alam[]

Sumber : Majalah An-Najah edisi 49, hal. 58, 59

Penulis : Abdullah

Editor : Ibnu Alatas